Di dalam tradisi Hindu di Bali, banten artinya sesajen atau upakara yang digunakan dalam dalam Panca Yadnya. Tidak ada yadnya tanpa banten betapa pun kecil tingkatannya.
Upakara artinya persembahan yang dibuat dengan tangan atau persembahan melalui tangan (misalnya dalam wujud ngayabang banten dengan melambaikan tangan tanda mempersilahkan atau mempersembahkan banten); atau suatu sarana upakara yang dibuat sendiri menggunakan tangan sendiri, jerih payah sendiri atau dakin lima.
Prof. Dr. Ida Bagus Putu Suamba, M.A. Ph.D selaku Akademisi Poltek Negeri Bali mengatakan Banten tersusun dari tiga unsur, yaitu: mataya atau bahan banten yang berasal dari yang tumbuhan (entik-entikan) seperti daun, bunga, buah, batang;
Kemudian mantiga atau bahan banten yang berasal dari binatang yang lahir dari telur seperti ayam, bebek, angsa, dan maharya atau bahan banten yang berasal dari sesuatu yang lahir, biasanya diwakili oleh binatang seperti sapi, babi, kambing, dan kerbau. Semuanya yang disebutkan di atas bisa dikelompokkan ke dalam pertiwi (tanah).
Selanjutnya dari pertiwi juga diproleh benda/barang logam/metal seperti besi, perunggu, kuningan, perak, dan emas dikenal dengan Panca Datu. Bahan-bahan upakara banten terbuat dari unsur-unsur Panca Maha Bhuta.
Ada bahan/sarana lain yang berasal/ terbuat dari: apah/jala berupa jenis-jenis cairan: susu/empehan (dari tubuh binatang), brem (fermentasi dari bahan makanan misalnya beras), arak (hasil dari penyulingan), madu (dari sari bunga), dan air hening (dari tanah). Ini semuanya disebut Panca Amertha.
Unsur lainnya adalah teja (api, bara api, panas api); wayu/bayu (asap) danakasa (ruang kosong). Intinya, sarana upakara (drawya) terbuat dari unsur-unsur Panca Maha Bhuta yang dibuat, diolah, ditata dan digunakan sesuai dengan ketentuan tattwa dengan penuh dedikasi, pengorbanan, bhakti, konsentrasi, kesucian dan keikhlasan.
Di dalam lontar Pelutuking Yadnya banten disebutkan sebagai rupaning bhatara, anda bhuwana, dan angganing bhatara. Selanjutnya disebutkan bahwa banten itu mengandung bagian yang disebut Tri Angga berarti tiga bagian badan (disebutkan dari atas ke bawah) seperti kepala, badan, dan kaki.
“Jadi, ada banten tertentu yang diposisikan/manifestasi sebagai hulu (kepala); ada yang di angga (badan), dan yang di suku (kaki). Banten sebagai suatu sistem sentral dan menyeluruh diimajinasikan sebagai perwujudan badan Tuhan Yang Maha Esa. Melalui banten, yang dipuja hadir secara sakala,” paparnya.
Ia menyebutkan, banten juga menyimbulkan Anda Bhuwana, Tri Bhuwana. Sebagai contoh banten daksina, sarad.
Ada juga banten sebagai Asta Karaning Yadnya. Asta karaning yadnya artinya delapan jenis upakara (banten) yang diposisikan pada anggota badan di dalam Tri Angga. Banten sebagai simbol.
Disebutkan dari atas (hulu) ke bawah, Bhuwana Alit yakni Kepala (hulu) - huluning yadnya disimbolkan dengan banten daksina, pejati, atau suci Leher (gulu)-guluning yadnya disimbolkan dengan banten gebogan;
Tangan (tanganing yadnya) disimbolkan banten jerimpen, Dada kiri (angganing yadnya-kiwa) disimbolkan dengan banten pengambean, Dada kanan (angganing yadnya-tengen) disimbolkan dengan banten peras dan soda
Ulu hati (hredayaning yadnya) disimbolkan banten dapetan, Perut (garbaning yadnya) disimbolkan dengan banten sesayut dan tebasan, dan Kaki (sukuning yadnya) disimbolkan dengan banten caru atau segehan.
Sementara dalam Bhuwana Agung yakni Alam kedewatan (Ida Sang Hyang Widhi) disimbolkan dengan banten pejati, Prana bhuwana agung disimbolkan dengan banten gebogan, Kekuatan acetana atau Samudra disimbolkan banten pengambean.
Cetana atau gunung disimbolkan dengan banten peras lan soda, Surya lan Candra disimbolkan dengan banten jerimpen, Uriping jagat disimbolkan dengan banten dapetan, Hukum Rta alam semesta disimbolkan dengan banten tebasan lan sesayut, Pertiwi lan akasa disimbolkan dengan banten segehan lan caru.
Selanjutnya di kepala banten daksina dan banten gebogan; di badan banten pengambeyan, banten peras dan soda, banten jerimpen, banten dapetan, banten sesayut dan tebasan dan di kaki banten caru atau segehan.
Dengan demikian, keseluruhan banten merupakan manifetasi dari Tuhan dan manfestasinya/sinar sucinya.
Dengan demikian banten adalah Yantra, simbolisasi Tuhan yang dibentuk bundar (lingkaran/oval) seperti tamas, srobong daksina segi empat seperti cemper, aledan; dan berbentuk segitiga seperti ituk-ituk.
Bentuk-bentuk tersebut bersinergi dengan bentuk-bentuk lain dalam suatu kesatuan makna dan tujuan tertentu.
Bahan-bahan upakara/banten diolah dan ditata dalam bentuk-bentuk di atas. Semua banten berhubungan erat dengan mantra, karena agung alit banten manut mantra. “Dalam konteks upacara tidak boleh nguncarang mantra tanpa banten,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika