BALIEXPRESS.ID – Rasa penasaran terhadap keunikan rumah adat Bali di Desa Sidatapa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, membuat tim Bali Express (Jawa Pos Group) mengunjungi salah satu rumah tradisional milik warga, Made Dana (46), yang terletak di Dusun Dajan Pura.
Apa yang mereka temukan? Sebuah perjalanan mendalam ke dalam tradisi yang begitu kental, diiringi dengan cerita mistis yang membuat siapa pun merinding.
Dipandu langsung oleh Made Dana, koran ini diajak menelusuri setiap sudut rumah adat tersebut, mulai dari pintu masuk yang disebut Nista Mandala, tempat warga menyambut tamu hingga mengerjakan aktivitas sehari-hari seperti menganyam sokasi dan tidur.
Namun, semakin masuk ke dalam, cerita semakin menarik.
Di Madya Mandala, terdapat tungku perapian yang digunakan untuk memasak, dan di sinilah, menurut Dana, bersemayam Dewa Brahma dan simbol Dewi Sri, dewi kesuburan. Namun, bagian yang dianggap paling sakral adalah Utama Mandala.
Di area ini, hampir semua aktivitas pemujaan dilakukan, dan tidak sembarang orang diizinkan masuk.
Rumah panggung yang terbuat dari kayu jati dan kayu kamper ini memiliki dua bale yang memiliki fungsi khusus: satu untuk tempat tidur bagi orang tua, dan yang lainnya untuk menempatkan mayat sebelum dimandikan.
Anehnya, dalam upacara pernikahan, area ini digunakan untuk memisahkan pemujaan mempelai pria dan wanita.
Kengerian tak berhenti di situ. Dana menceritakan sebuah insiden menyeramkan yang dialami tamu tak diundang.
Seorang teman anaknya yang nekat mengambil foto di Utama Mandala tanpa izin mengalami kecelakaan fatal dalam perjalanan pulang.
Menurut dukun setempat, hal ini disebabkan oleh pelanggaran spiritual. “Sisip (salah)!” kata Dana, mengingatkan bahwa aturan di rumah adat ini tidak boleh dilanggar.
Masyarakat Sidatapa melakukan pemujaan pada hari-hari besar umat Hindu seperti Galungan, Kuningan, dan Pagerwesi.
Sesajen yang ditawarkan berbeda dari biasanya, dengan banten khusus yang dikenal sebagai Bali Taksu.
Tradisi ini tetap dipertahankan meski zaman telah berubah, meskipun ada beberapa rumah yang mulai bergeser menggunakan bahan modern seperti bata.
Namun, Made Dana menegaskan, rumah adat Sidatapa tetap harus berpegang pada tiga elemen penting: Nista, Madya, dan Utama Mandala.
Bahkan jika bagian kayu penyangga diganti dengan beton, akan mendatangkan malapetaka bagi pemilik rumah.
“Ada buktinya,” jelas Dana sambil menceritakan seorang warga yang jatuh sakit setelah melanggar aturan ini.
Walaupun desa ini semakin modern dengan munculnya pertokoan di jalan utama, rumah-rumah adat di dusun terdalam masih kokoh berdiri, sebagai bukti nyata bahwa warga Sidatapa tetap memegang teguh warisan leluhur mereka.
Apa yang membuat tradisi ini tetap hidup di tengah perubahan zaman? Dan benarkah mistis yang mengintai di setiap sudut rumah adat ini?
Kunjungan ke Desa Sidatapa menawarkan lebih dari sekadar arsitektur, tetapi sebuah perjalanan ke dunia yang penuh misteri dan kengerian! ***
Editor : I Putu Suyatra