Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Begini Sejarah Pura Sari Besikan di Bungkulan, Dibangun sebelum pra Hindu, Tempat Ritual Nangluk Merana

I Putu Mardika • Kamis, 12 September 2024 | 04:51 WIB

Candi Bentar antara Nista Mandala dengan madya Mandala Pura Sari Besikan yang ornamennya sangat klasik
Candi Bentar antara Nista Mandala dengan madya Mandala Pura Sari Besikan yang ornamennya sangat klasik
BALIEXPRESS.ID-Desa Bungkulan di Kecamatan Sawan, Buleleng, Bali tidak hanya dikenal karena tari sakral Baris Ang Ung Mang, tetapi juga memiliki Pura Sari Besikan, yang diyakini sudah dibangun sejak masa sebelum Hindu.

Pengamatan Bali Express (Jawa Pos Group) menunjukkan bahwa ornamen pura ini sangat klasik, mirip dengan Pura Beji di Sangsit, Pura Madue Karang di Kubutambahan, dan Pura Menasa di Sinabun, Kecamatan Sawan.

Pura yang berada di Banjar Satria ini menggunakan material batu Paras Abasan, yang hanya tersedia di Desa Sangsit, dan diukir dengan gaya khas Buleleng, terutama pada elemen Pepatraan dan Kekarangan.

Candi bentar di antara Madya Mandala dan Nista Mandala terlihat megah dengan ukiran Karang Goak, Karang Tapel, Karang Boma, dan Patra Wangga, yang menambah kesan artistik pura ini.

Menurut Dewa Ketut Djareken, tokoh adat setempat, Pura Sari Besikan sudah masuk sebagai Cagar Budaya dan pernah direstorasi, terutama pada candi bentar di Madya Mandala, tetap menggunakan Paras Abasan.

Pura ini terbagi menjadi tiga mandala: Nista, Madya, dan Utama Mandala. Di Utama Mandala terdapat beberapa pelinggih, seperti Pelinggih Ida Ratu Agung, Ratu Ngurah Mas (Dewa Brahma), dan Dewa Wisnu.

Djareken menyebutkan bahwa Pura ini didirikan pada masa Raja Sri Kesari Warmadewa, ketika kekuasaan Sriwijaya masih mendominasi Nusantara.

Nama desa di Bali pada waktu itu banyak yang menggunakan unsur "sari", seperti Penarukan yang disebut Apit Sari, Jagaraga sebagai Jaga Sari, dan Bungkulan disebut Sari Besikan.

Areal Pura Sari Besikan dibagi menjadi beberapa bagian yang terpisah oleh Candi Raras, meski berada di satu lokasi.

Di sekeliling pura terdapat Pura Jeroan Kanginan dan Jeroan Kawanan yang hubungannya secara niskala meluas ke wilayah Pengastulan dan Tejakula.

Pura ini juga merupakan pusat ritual Nangluk Merana bagi warga Bungkulan. Upacara diadakan di Madya Mandala setiap Sasih Kenem, sementara prosesi Ngaturang Pekelem dilakukan di laut (Segara).

Tradisi ini dilakukan untuk menjauhkan diri dari penyakit, berdasarkan Lontar Roga Sangghara Bumi.

Masyarakat dari empat desa, yakni Jagaraga, Sangsit Dangin Yeh, Kubutambahan, dan Bulian, turut menyungsung Ida Ratu Agung di Pura ini.

Mereka juga berpartisipasi dalam upacara besar seperti mekebo (menggunakan kerbau), terutama saat Purnama Sasih Kedasa dan pujawali yang rutin dilaksanakan.

Pura ini juga memiliki upacara pujawali yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali pada Wuku Wraspati Paing Medangsia.

Setiap pura dalam komplek ini memiliki jadwal pujawali yang berbeda-beda, seperti Pura Puseh saat Wraspati Sungsang, Pura Desa pada Tumpek Wayang, dan Padma Tiga saat Tumpek Landep. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Bungkulan #bali #hindu bali #sawan #hindu #Sari Besikan #pura #buleleng #Sangsit