Pisang dipakai dalam upacara Bhuta Yadnya hingga Dewa Yadnya. Secara mitologis, pohon pisang terkait erat dengan Dewi Parwati atau Dewi Uma, yang merupakan pendamping Dewa Siwa.
Dalam upacara-upacara tersebut, tidak hanya buah pisang yang dimanfaatkan, tetapi juga bagian-bagian lain dari pohon seperti daun, batang, dan pohonnya. Penggunaannya tersebar di upacara alit, madya, dan agung.
Daun pisang, misalnya, sering digunakan dalam berbagai keperluan yadnya. Daun ini dianggap sebagai simbol penciptaan (Utpatti) oleh Dewa Brahma, namun juga bisa melambangkan pemeliharaan (Sthiti) oleh Dewa Wisnu.
Dari warna daunnya, daun pisang juga dapat menjadi lambang pralina atau kehancuran dari Dewa Iswara.
Selain itu, daun pisang sering digunakan sebagai bahan pembuatan kojong kwangen dan alas (aledan) banten atau sesajen. Bagi masyarakat Bali Aga, daun pisang menjadi elemen utama dalam persembahan.
Ida Bagus Made Baskara, seorang penekun lontar dari Geriya Gunung Kawi Tampak Siring, Gianyar, menyatakan bahwa pisang adalah buah yang harus ada dalam setiap upacara yadnya di Bali.
Sementara buah lain seperti apel, pir, atau anggur tidak wajib, buah pisang merupakan elemen yang tak tergantikan.
Ia menyebutkan dua mitologi terkait pentingnya pohon pisang dalam yadnya di Bali.
Pertama, dalam kisah Siwa Purana, ketika Daksa, ayah Dewi Uma, mengadakan upacara yadnya, Dewa Siwa tidak hadir, namun Dewi Uma tetap hadir dan akhirnya membakar dirinya hingga menjadi abu.
"Dari abu Dewi Parwati, tumbuh pohon pisang, menjadikannya penting dalam ritual," katanya.
Kisah lain adalah saat Dewi Uma menyusui Hyang Kumari. Karena suatu sebab, Dewi Uma menjadi marah dan diusir oleh Dewa Siwa.
Saat menyusui, sebagian air susunya menetes ke tanah, dan dari air susu tersebut tumbuhlah pohon pisang. Oleh karena itu, bayi disarankan diberi pisang sebagai makanan pendamping ASI, karena dianggap memiliki nutrisi serupa susu.
Dalam Weda, pisang disebut sebagai salah satu dari Panca Wreksa atau pohon surgawi.
Pohon pisang digunakan dalam pembuatan Sanggar Surya saat ngadegang upakara, karena dianggap sebagai tanaman suci yang diperlukan dalam upacara yadnya.
Berbagai jenis pisang digunakan dalam upacara di Bali, dan jenis-jenis tersebut dibedakan berdasarkan warna sebagai simbol Panca Dewata.
Misalnya, pisang tembaga yang berwarna merah digunakan dalam upacara Tumpek Landep sebagai simbol Pasupati, sementara pisang Biu Lalung, yang memiliki tandan atau buah sedikit, melambangkan kekuatan Siwa.
"Jantung pisang (pepusuh) dianggap sebagai simbol jantung manusia, dan dalam istilah Kawi, pepusuh diartikan sebagai tempat bersemayamnya Siwa," paparnya.
Selain itu, jantung pisang juga sering digunakan dalam praktik ilmu sihir (magic).
Pepusuh pisang dijadikan media untuk menyantet dengan menggambar wajah orang yang ditargetkan pada jantung pisang, lalu menusuknya dengan jarum atau duri.
Hal ini dilakukan karena pepusuh dianggap sebagai simbol jantung seseorang, meskipun praktik ini merupakan penyalahgunaan ilmu magis. (dik)