BALIEXPRESS.ID - Bali selalu menarik perhatian dengan tradisi, ritual, dan keyakinan unik yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Salah satu keajaiban tersembunyi yang layak dijelajahi adalah Mata Air Yeh Batu, yang terletak di Desa Pakraman Blangsinga, Blahbatuh, Gianyar, Bali.
Mata air ini bukan sekadar sumber air biasa, namun dipercaya memiliki kekuatan penyembuhan yang telah dikenal luas sejak zaman dahulu.
Desa Pakraman Blangsinga sendiri merupakan desa adat yang memiliki sejarah panjang, tak terlepas dari aliran Tukad Petanu yang mengalir di sisi barat desa.
Selain menawarkan keindahan alam seperti Air Terjun Blangsinga, desa ini juga menyimpan kekayaan sejarah melalui Pura Musen, yang menjadi saksi perjalanan spiritual tokoh Hindu Dang Hyang Niratha ke Bali.
Namun, di balik keindahan alam dan sejarah tersebut, tersimpan keunikan lain, yakni mata air Yeh Batu yang memiliki khasiat penyembuhan bagi mereka yang datang untuk mencari pertolongan.
Masyarakat setempat percaya bahwa Yeh Batu dapat menyembuhkan berbagai penyakit, mulai dari patah tulang, keseleo, sakit mata, hingga penyakit pada hewan ternak.
Kepercayaan ini telah berkembang selama bertahun-tahun, menjadikan mata air ini sebagai tujuan bagi mereka yang mencari pengobatan alternatif.
Tokoh Desa Pakraman Blangsinga, I Ketut Karyawan, menjelaskan bahwa keberadaan Yeh Batu sudah ada sejak lama, bahkan sebelum dunia medis berkembang pesat.
"Saya sendiri tidak tahu kapan tepatnya mata air ini muncul, karena dari cerita tetua-tetua desa, Yeh Batu sudah ada sejak dulu," ungkapnya.
Pada masa lalu, ketika pengobatan medis masih terbatas, Yeh Batu menjadi andalan masyarakat.
Tidak hanya warga Blangsinga dan Blahbatuh yang datang, namun orang-orang dari luar Gianyar juga mempercayai keajaiban mata air ini.
"Dulu, setiap waktu ada saja warga yang datang untuk nunas tamba (memohon obat) di Yeh Batu, terutama untuk mengobati patah tulang atau ternak mereka yang sakit," lanjut Karyawan.
Namun, seiring perkembangan dunia medis, intensitas warga yang datang untuk mengobati cedera atau ternak mereka di Yeh Batu mulai berkurang.
Meskipun demikian, hingga kini masih ada yang datang memohon tirta dari mata air tersebut, meski tidak seramai dulu.
Ketut Karyawan juga menceritakan bahwa pada awalnya mata air Yeh Batu berada di lokasi yang sangat alami, tersembunyi di antara pepohonan lebat.
Namun, pada tahun 1957, karena semakin banyaknya warga yang datang, area mata air mulai ditata.
Saat ini, dengan perkembangan pariwisata di Blangsinga yang semakin pesat, akses menuju Yeh Batu telah diperbaiki, termasuk dengan pembangunan anak tangga yang mempermudah perjalanan menuju mata air tersebut.
Terletak hanya sekitar 10 meter dari Air Terjun Blangsinga, mata air Yeh Batu kini tampak lebih tertata dengan rapi.
Pengunjung yang datang tidak hanya disuguhkan keajaiban mata air, tetapi juga pemandangan indah aliran Tukad Petanu yang mengalir di sekitarnya.
Di sekitar mata air, tampak deretan tedung (payung) dengan dominasi warna putih dan kuning, menambah kesan sakral dan mistis dari tempat ini. ***
Editor : I Putu Suyatra