Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Unik Hindu Bali Nyulubang Bayi di Pura Penyaungan: Mitos atau Fakta?

I Made Mertawan • Minggu, 15 September 2024 | 22:49 WIB
Tradisi Hindu Bali: Nyulubang Bayi di karangasem.
Tradisi Hindu Bali: Nyulubang Bayi di karangasem.

BALIEXPRESS.ID – Desa Adat Bungaya di Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, menyimpan sebuah tradisi kuno Hindu Bali yang mungkin belum banyak diketahui oleh orang luar: Nyulubang Bayi di Pura Penyaungan.

Meskipun tampak sederhana, tradisi ini memiliki kekuatan magis yang dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit pada bayi.

Pura Penyaungan: Sederhana Namun Penuh Makna

Pura Penyaungan, yang terletak di sebelah timur laut Desa Adat Bungaya, terlihat sangat sederhana dengan hanya satu palinggih.

Lokasinya terletak di pinggir jalan menuju Beji Saga, dan di depannya terdapat saluran air yang mengalir dari hulu ke sawah di hilir.

Di atas saluran air tersebut terdapat jembatan kecil dari batu yang memiliki kekuatan mistis dalam tradisi setempat.

Nyulubang Bayi: Ritual Penyembuhan yang Mengundang Rasa Penasaran

Tradisi Nyulubang Bayi dilaksanakan pada sore hari saat kajeng kliwon, dan dipercaya dapat menyembuhkan penyakit seperti busung lapar, kurus karena penyakit, atau bayi yang tidak nafsu makan serta sering menangis malam hari.

Ritual ini melibatkan bayi berusia antara 6 bulan hingga 3 tahun yang harus melintasi jembatan batu tersebut sebanyak tiga kali sambil berjalan di bawahnya (masulub).

"Sangat banyak anak yang sembuh setelah melakukan ritual Nyulubang Bayi di sini. Bayi yang mengalami gangguan kesehatan dapat kembali sehat setelah masulub tiga kali dan jembatan itu dicolek di jidat bayi," ungkap I Gede Krisna Adi Widana, tokoh setempat kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Langkah Awal: Upacara Pemujaan di Pura Penyaungan

Sebelum melakukan Nyulubang Bayi, para orang tua harus menghaturkan banten di Pura Penyaungan, termasuk kelanan, pasegeh, dan canang cacahan, serta beberapa tambahan bayuhan.

Meskipun asal-usul pasti dari Pura Penyaungan dan jembatan batu ini tidak diketahui secara pasti, tradisi ini diyakini berasal dari cerita Raja Dalem Di Made dan De Kebayan Sakti yang memberikan kontribusi penting pada pembangunan desa dan ritual penyembuhan ini.

Kisah De Kebayan Sakti dan Keberadaan Ritual

Menurut cerita, De Kebayan Sakti melakukan semedi dan mendapatkan petunjuk bahwa ritual Nyulubang Bayi harus dilakukan untuk mengatasi bayi yang kurus kering.

Ritual ini dilakukan untuk menjaga dan merawat bayi serta menghindarkan mereka dari penyakit. Lokasi ritual ini kini dikenal sebagai Pura Penyaungan, tempat di mana tradisi ini dilakukan.

Penganut Tradisi: Tidak Hanya Warga Lokal

Tradisi Nyulubang Bayi tidak hanya menarik perhatian warga Desa Adat Bungaya tetapi juga menarik pengunjung dari luar daerah, bahkan dari luar Karangasem.

I Wayan Tunas, salah seorang warga Bungaya, pernah membawa cucunya yang sering menangis malam hari ke Pura Penyaungan, dan mengungkapkan bahwa setelah ritual, cucunya tidak lagi menangis malam hari.

Dengan keberagaman pengunjung dan kepercayaan yang kuat akan kekuatan ritual ini, Pura Penyaungan tetap menjadi tempat yang penuh misteri dan kekuatan magis bagi banyak orang yang percaya pada tradisi Nyulubang Bayi. ***

 
Editor : I Putu Suyatra
#bali #Nyulubang Bayi #hindu #karangasem #tradisi