BALIEXPRESS.ID - Dalam upacara keagamaan tertentu, kita sering membuat penjor. Dimana penjor merupakan berasal dari kata “panji”.
Panji dalam konteks ini merupakan lambang. Terlepas dari hal tersebut, terdapat beberapa pendapat yang berusaha untuk memberikan penjelasan secara konseptual mengenai penjor.
Penyuluh Agama Hindu, Kemenag Tabanan, Ni Made Ayu Suniari, menjelaskan penjor sering diposisikan sebagai “pengajum” atau pangastawa kalau dihilangkan huruf “ny” menjadi kata benda yang memiliki arti sarana untuk melaksanakan pangastawa.
“Penjor dalam kehidupan beragama Hindu difungsikan dalam berbagai ranah upacara yadnya dan kehidupan sosial. Kondisi ini menunjukkan bahwa penjor berkedudukan sebagai salah satu sarana ritual yang identik dengan nilai sakral, dan mewakili beberapa maksud ataupun tujuan dari pelaksanaan yajna itu sendiri,” jelasnya.
Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa masyarakat Hindu di Bali aktif bergotong royong, salah satunya difokuskan pada pratik pembuatan penjor.
Penjor lebih banyak dipergunakan saat ritual dewa yajna, bhuta yajna, rsi yajna, dan beberapa dekade belakangan mulai muncul penggunaan penjor dalam pelaksanaan manusa yajna seperti perkawinan misalnya.
Penjor dalam kehidupan masyarakat adat di Bali juga menjadi objek pengembangan kreativitas.
Hal ini dapat disimak melalui adanya perlombaan membuat penjor, baik yang mengutamakan ketepatan unsur penyusunnya maupun kemegahan fisik dari penjor tersebut.
Penjor bentuknya yang menjulang tinggi dan melengkung di bagian ujung melambangkan “Gunung Agung”, gunung suci dalam kepercayaan Hindu Bali, yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya para dewa.
“Selain sebagai simbol gunung, Penjor juga menggambarkan alam semesta dan kemakmuran yang diberikan oleh Tuhan (Hyang Widhi) kepada umat manusia,” tegas Ayu Suniari.
Penjor memiliki makna simbolis yang beragam, tergantung pada elemen-elemennya.
Bagian utama dari Penjor adalah batang bambu yang melambangkan kekuatan alam dan hubungan antara bumi dan langit.
Bambu, dengan pertumbuhannya yang cepat, juga melambangkan kehidupan yang terus berkembang.
Selanjutnya ada janur (daun kelapa muda), janur yang menghiasi Penjor melambangkan kesucian dan kemakmuran.
Daun kelapa muda ini biasanya dibentuk menjadi berbagai hiasan yang artistik.
Kemudian padi dan hasil bumi, padi, buah-buahan, dan hasil bumi lain yang digantung di Penjor melambangkan persembahan kepada Tuhan sebagai rasa syukur atas hasil bumi yang telah diberikan.
Kemudian ada sampian, ini adalah hiasan dari janur yang dirangkai indah dan melambangkan keindahan serta kreativitas umat Hindu dalam mengungkapkan rasa syukur dan cinta kepada alam semesta.
Tamiang dan lamak, hiasan berbentuk lingkaran dari janur yang disebut tamiang melambangkan perlindungan, sementara lamak adalah dekorasi panjang yang mewakili keseimbangan dan harmoni.
Dalam konteks perayaan Galungan, Penjor mewakili kemenangan kebaikan atas kejahatan, di mana umat Hindu merayakan tercapainya dharma.
Filosofi ini tercermin dalam ajaran Tri Hita Karana, yaitu tiga hubungan harmonis yang harus dijaga oleh manusia, hubungan antara manusia dengan Tuhan (Parhyangan), manusia dengan sesama manusia (Pawongan), dan manusia dengan alam (Palemahan).
Penjor dipasang di setiap rumah sebagai simbol rasa syukur dan penghormatan kepada Hyang Widhi atas berkat-Nya berupa kehidupan, kesehatan, dan kesejahteraan.
Penjor juga mengingatkan umat Hindu akan pentingnya menjaga keseimbangan alam dan berbuat baik kepada sesama.
Penjor galungan bersifat religius, yang mempunyai fungsi tertentu dalam upacara keagamaan,dan wajib dibuat lengkap dengan kelengkapannya. ***
Editor : Putu Agus Adegrantika