BALIEXPRESS.ID - Ida Bagus Sidemen dalam buku “Dari Wilwatikta ke Swecapura, Perjalanan Seorang Actor Religious”, mengungkap, di bawah kepemimpinan Raja Dalem Waturenggong, Bali berhasil menundukkan Pasuruan, Blambangan, Puger, Nusa Penida, Sasak dan Sumbawa.
Untuk mengukuhkan wilayah kekuasaannya, Raja Dalem Waturenggong melaksanakan upacara Aswamedha. Upacara ini juga disebut dengan Raja Surya.
Upacara pengukuhan ini harus dipuja tiga pendeta sakti. Untuk menentukan pendeta yang berhak memimpin upacara ini, raja menyelenggarakan uji kelayakan, semacam tes.
Semua pendeta di wilayah kerajaan, baik keturunan Bali Mula atau Majapahit dilibatkan. Dalam tes tersebut baru seorang pendeta yang lolos. Pendeta keturunan Bujangga Waisnawa ini ditugaskan untuk melakukan pemujaan alam bhur loka (bawah).
Raja masih harus mencari dua pendeta lagi untuk pemujaan bwah loka (alam tengah) dan alam atas atau swah loka.
Saat itu Dang Hyang Asoka yang juga kakak kandung Dang Hyang Dwijendra ikut hadir, tetapi ia menugaskan anaknya bernama Dang Hyang Astapaka untuk mengikuti tes karena ia tahu bahwa Dang Hyang Astapaka menguasai ajaran Siwa Buddha, sedangkan untuk melakukan pemujaan alam atas (swah loka), Dang Hyang Angsoka mengusulkan agar raja memakai Dang Hyang Dwijendra karena ia menguasai ajaran Saiwa Sidhanta.
Setelah lolos tes, ketiga pendeta ini diperkenankan melakukan pemujaan ketiga alam alam dalam upacara Raja Surya.
Upacara berjalan lancar dan berhasil yang kemudian menjadi acuan tiap pelaksanaan upacara besar di Bali hingga kini.
Dalam setiap upacara berskala besar harus dipuja oleh tiga pendeta yaitu Bujangga Waisnawa, Siwa-Budha dan Siwa Sidhanta sebagai cermin dari keragaman ajaran agama yang ada pada zamannya.
Ini juga membuktikan bahwa raja Dalem Waturenggong merangkul seluruh aliran kepercayaan yang ada di tengah keragaman ajaran yang ada sebagai wujud toleransi dan kebersamaan dalam perbedaan yang kemudian menjadi karakter dasar jiwa orang Bali hingga kini.
Pada masa pemerintahan Raja Dalem Waturenggong, Bali berada pada puncak kejayaan. Nyaris tak ada gangguan baik dari dalam maupun dari luar yang mengancam kedaulatan kerajaan Swecapura di Gelgel.
Bahkan Dalem Waturenggong berhasil menguasai wilayah Pasuruan, Blambangan, Puger di Jawa hingga Lombok dan Sumbawa.
Sebaliknya kerajaan Majapahit yang berpusat di Wilwatikta berada di ambang keruntuhan karena berbagai peristiwa yang terjadi.
Pada masa itu di Kerajaan Majapahit sedang berkecamuk Perang Paregreg akibat perebutan tahta antara putra selir raja karena Raja Hayam Wuruk tidak menetapkan putra makhota sebagai penggantinya.
Perang yang berkepanjangan ini membuat pejabat desa dan rakyat yang jauh dari pusat kerajaan kehilangan pegangan dan panutan dalam berbudaya sehingga gampang dipengaruhi untuk melepaskan diri dari kerajaan Majapahit.
Kondisi ini digunakan oleh raja Dalem Waturenggong yang didampingi Dang Hyang Dwijendra, Dang Hyang Angsoka dan Dang Hyang Astapaka untuk menguatkan keimanan orang Bali dalam kerangka menjadikan Bali sebagai miniature Majapahit.
Dari abad XV hingga XVI, kerajaan Bali sedang berada dalam posisi kuat, jauh dari ancaman kerajaan lain yang menganut keyakinan baru.
Kondisi ini mampu dipertahankan hingga abad XX. Ketika Belanda berhasil menguasai Bali, pemerintah Belanda melihat Bali sebagai daerah yang memiliki keunikan tersendiri.
Karena itu, pemerintah Hindia Belanda hendak menyelamatkan Bali dari proses perubahan dan pembaharuan.
Mereka hendak menjadikan Pulau Bali sebagai benda purbakala yang antik dan unik sehingga dapat dijadikan objek kunjungan wisata orang Eropa.
Kebijakan proteksi untuk tujuan komersial kapitalis yang dikenal dengan istilah Balisering inilah yang ikut membantu menyelamatkan kebudayaan Majapahit di Bali.
Namun kalau dilihat dengan kacamata gaib, kebijakan Balisering yang dibuat Belanda sepertinya merupakan sebuah kelanjutan dari amanat gaib Mahapatih Gajah Mada untuk tetap mempertahankan Bali sebagai pewaris dan miniature Majapahit yang bercorak budaya leluhur nusantara.
Mahapatih Gajah Mada secara tidak langsung telah menunjuk Raja Dalem Waturenggong dan Dang Hyang Dwijendra, Dang Hyang Angsoka dan Dang Hyang Astapaka untuk membentengi Bali dengan membangun tempat-tempat suci yang bertebaran di pesisir selatan Pulau Bali sehingga dikenal dengan julukan Pulau Seribu Pura.
Pura apa saja yang dibangun Dang Hyang Dwijendra sebagai benteng pertahanan spiritual Bali dalam kerangka menyelamatkan budaya leluhur nusantara.
Editor : Nyoman Suarna