BALIEXPRESS.ID - Fenomena Pamali atau Pemali dalam kepercayaan masyarakat Hindu di Bali kerap dikaitkan dengan hal-hal sepele yang bisa berdampak pada kesehatan fisik maupun emosional.
Dari sakit kepala tiba-tiba, perasaan gelisah, hingga demam, sering kali dikaitkan dengan tindakan-tindakan sederhana yang dianggap melanggar norma spiritual, seperti salah menempatkan barang, menanam pohon yang tidak seharusnya di pekarangan, atau bahkan ukuran bangunan yang tidak sesuai aturan tradisional.
Menariknya, meskipun terkesan mistis, fenomena ini telah dialami oleh banyak orang di Bali. Pinandita Ketut Pasek Swastika, seorang pemuka agama Hindu, mengakui bahwa pamali adalah realitas yang unik dan benar-benar terjadi di tengah masyarakat.
Menurutnya, pamali adalah kesalahan yang dilakukan secara tidak sengaja yang berakibat negatif.
Kesalahan Sepele, Dampak Serius
Pamali dapat terjadi karena kesalahan kecil, seperti menanam tanaman tertentu di pekarangan rumah.
Dalam lontar Taru Pramana, terdapat aturan bahwa tumbuhan yang memiliki ruas seperti bambu atau tebu tidak boleh ditanam di pekarangan karena diyakini akan membawa dampak buruk.
Selain itu, secara logika, tumbuhan seperti bambu juga memakan ruang dan memiliki bulu halus yang bisa menyebabkan gatal.
Selain tanaman, pamali juga bisa muncul akibat menaruh barang di tempat yang salah.
Misalnya, menjemur pakaian di area suci atau membangun bangunan yang ukurannya tidak sesuai dengan perhitungan tradisional seperti asta kosala-kosali atau asta bhumi.
Salah perhitungan ini dapat menyebabkan apa yang disebut bale cacat, yang dipercaya membawa nasib buruk bagi penghuninya.
Kesalahan dalam Konstruksi Tempat Tidur? Bisa Jadi Pamali
Salah satu pamali yang menarik adalah kesalahan dalam membuat tempat tidur.
Menurut kepercayaan masyarakat Bali, palang-palang pada dipan harus dihitung dengan teliti.
Jika salah, dampaknya bisa berbeda, seperti sakit pinggang atau tempat tidur yang cepat rusak. Hal ini mengacu pada hitungan tradisional seperti likah (untuk manusia), wangke (untuk mayat), dan wangkong yang menyebabkan sakit.
Makrokosmos dan Mikrokosmos: Hubungan Alam dan Tubuh
Pinandita Ketut Pasek Swastika menjelaskan lebih lanjut bahwa semua benda di sekitar manusia, termasuk pekarangan dan bangunan, memiliki energi yang dapat mempengaruhi penghuninya.
Konsep makrokosmos (alam semesta) dan mikrokosmos (tubuh manusia) ini membuat keduanya saling berinteraksi. Jika energi dari lingkungan bertentangan dengan energi tubuh, hal ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan.
Sebagai contoh, konsep dewata nawa sanga atau pangider bhuana di mana setiap arah memiliki dewa, aksara, warna, dan unsur tertentu. Jika penempatan unsur tersebut salah, misalnya unsur yang seharusnya di utara ditempatkan di selatan, maka dampaknya bisa seperti tubuh yang "sungsang" atau terbalik.
Pamali: Kesadaran Akan Keharmonisan
Banyak yang bertanya, apakah menjadi umat Hindu di Bali harus ribet dengan segala aturan pamali ini? Menurut Pinandita Ketut Pasek Swastika, tidak.
Justru ini mengajarkan masyarakat untuk lebih berhati-hati dan sadar dalam bertindak.
Tindakan yang benar akan membawa manfaat, sedangkan kesalahan bisa mendatangkan masalah.
Namun, tidak semua anggota keluarga terkena dampak pamali ini. Dalam satu rumah, ada yang disebut "tampak panas dan dingin", di mana setiap individu memiliki energi berbeda.
Jika ada yang lemah, dialah yang lebih rentan terkena dampaknya.
Kepala keluarga sering menjadi yang paling terdampak karena memiliki tanggung jawab besar atas rumah tangga mereka.
Fenomena pamali ini menunjukkan bahwa di balik kepercayaan tradisional, terdapat nilai keharmonisan antara manusia, lingkungan, dan alam semesta yang tetap relevan hingga saat ini. ***
Editor : I Putu Suyatra