BALIEXPRESS.ID - Di balik keheningan malam di Desa Blega, Blahbatuh, Gianyar, sebuah tradisi Hindu Bali unik dan penuh misteri digelar di Pura Puseh Blega.
Tradisi yang dikenal dengan nama Masiat-Siatan ini melibatkan puluhan anak yang terlibat dalam sebuah "perkelahian" simbolis.
Namun, apa yang sebenarnya terjadi di balik tradisi yang berlangsung sejak tahun 1955 ini?
Tradisi Tengah Malam: Ketika Anak-Anak Mengambil Alih
Tradisi Masiat-Siatan menjadi tanda berakhirnya upacara piodalan di Pura Puseh Blega.
Menariknya, acara ini tidak berlangsung pada siang hari, melainkan dimulai saat malam telah larut, antara pukul 23.00 hingga pukul 02.00 dini hari.
"Setelah menghaturkan bhakti di pura, barulah tradisi ini dimulai," ungkap Tokoh Desa Adat Blega, Ida Bagus Made Sujana.
Menurut Gus Sujana, tradisi ini bermula dari pawisik (petunjuk gaib) yang diterima pada tahun 1955, yang mengisyaratkan perlunya melibatkan anak-anak dalam simbolik “peperangan” di akhir pujawali.
“Tradisi ini menjadi lambang pelengkap karya di Pura Puseh,” jelasnya.
Peran Penting Pramenak dan Misteri di Balik Anak-Anak yang Terlibat
Tradisi ini juga dikenal sebagai Maare-arean karena melibatkan kehadiran pramenak (roh leluhur) dari Pura Masceti Pantai Keramas.
Gus Sujana menjelaskan bahwa pramenak yang diyakini ikut hadir di Pura Puseh Blega secara niskala (tak kasat mata), membuat anak-anak yang terlibat dalam Masiat-Siatan menjadi perantara spiritual antara dunia manusia dan leluhur.
Tidak heran jika anak-anak yang terlibat dalam tradisi ini kerap berebut pica, sejenis nasi yang diberikan sebagai persembahan.
Bahkan, sering kali ada anak yang membawa dua pica tanpa sadar, seolah dipandu oleh kekuatan niskala untuk memberikan makanan tersebut kepada roh yang tak terlihat.
Perkelahian Simbolis: Bukan Kekerasan, tapi Lambang Kesetiaan dan Kejujuran
Meski disebut perkelahian, tradisi Masiat-Siatan bukanlah ajang kekerasan. Anak-anak, yang berusia antara 7 hingga 12 tahun, beradu ketangkasan dalam permainan yang mengharuskan mereka 'mematikan' lawan tanpa menyentuh bagian tubuh dari betis ke bawah.
Sentuhan pada bagian tersebut dianggap sebagai tanda kekalahan. Dengan aturan sederhana namun penuh makna, tradisi ini menjadi ajang untuk mengasah nilai-nilai kesetiaan, ketangkasan, dan kejujuran.
Selain Masiat-Siatan, anak-anak juga terlibat dalam beberapa permainan lain seperti Makering-keringan dan Masiap-siapan.
"Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pramenak ikut berperan dalam aktivitas anak-anak selama upacara," tambah Gus Sujana.
Tradisi yang Tak Terlupakan: Warisan Leluhur yang Terjaga Hingga Kini
Tradisi Masiat-Siatan tidak memerlukan pengumuman khusus. Setiap kali piodalan tiba, anak-anak dari seluruh banjar di Desa Blega secara otomatis datang ke pura, sering kali hingga subuh.
Orang tua yang baru pertama kali mendampingi anak mereka mungkin merasa heran, namun tradisi ini telah mengakar kuat sebagai simbol upacara yang belum selesai tanpa kehadiran anak-anak.
Seorang warga setempat, I Gusti Made Sukadana, menegaskan bahwa tradisi ini tetap dipertahankan hingga sekarang sebagai warisan turun-temurun.
"Jika Masiat-Siatan tidak dilaksanakan, secara niskala pujawali di Pura Puseh dianggap belum sempurna," ujarnya.
Tradisi unik dan penuh misteri ini menjadi salah satu daya tarik spiritual di Gianyar, menunjukkan betapa kaya dan mendalamnya warisan budaya Bali.
Setiap pukulan simbolis dalam Masiat-Siatan adalah penghormatan kepada leluhur dan wujud dari nilai-nilai luhur yang diturunkan kepada generasi muda. ***
Editor : I Putu Suyatra