BALIEXPRESS.ID - Upacara Pawintenan atau mawinten bagi umat Hindu Bali tak hanya memiliki prosesi yang khidmat, namun juga pantangan yang harus dipatuhi oleh mereka yang telah melaksanakannya.
Salah satu pantangan yang cukup menarik perhatian adalah larangan makan daging berkaki empat.
Mengapa hal ini begitu penting? Simak penjelasan yang mendalam dari para ahli spiritual.
Walaka Ida Bagus Gede Suragatana menjelaskan bahwa pantangan ini bersifat pribadi dan sesuai dengan kemampuan serta niat seseorang yang telah menjalani Pawintenan.
“Saya, misalnya, tidak boleh makan daging suku empat (berkaki empat), apalagi dari upacara Pangabenan. Jika dilanggar, tubuh akan mudah sakit,” ujarnya ketika diwawancarai di Desa Kelusa, Payangan, Gianyar.
Menurut Gus Suragatana, setelah melaksanakan Pawintenan, ia berjanji untuk menjaga arah mata angin—utara, selatan, timur, dan barat.
“Ketika saya makan daging berkaki empat, saya akan kehilangan arah. Namun, jika makan tidak sengaja, bisa memohon maaf dengan upakara Prayascita,” lanjutnya.
Pantangan yang Harus Dijaga, Sesuai Janji
Gus Suragatana menegaskan bahwa pelaksanaan pantangan ini didasarkan pada janji dan niat.
Jika pantangan dilanggar tanpa sengaja, masih ada jalan untuk penebusan melalui Prayascita.
Namun, jika sengaja dilanggar, maka upacara yang telah dilaksanakan dianggap sia-sia.
“Prayascita hanya untuk pelanggaran yang tidak disengaja. Jika sengaja dilanggar, upacara itu tak ada manfaatnya lagi,” tambahnya.
Rahasia di Balik Simbol-Simbol Suci Mawinten
Dalam setiap pelaksanaan Pawintenan, terdapat simbol-simbol sakral yang digunakan untuk merajah tubuh.
Gus Suragatana mengungkapkan bahwa bahan seperti sirih dan madu digunakan untuk merajah dengan aksara suci pada bagian tubuh tertentu.
“Di antara kening dirajah aksara Yang, di dada aksara Dang, di bahu aksara Bang, dan beberapa aksara lainnya yang memiliki makna mendalam,” jelasnya.
Prosesi Upacara Mawinten yang Penuh Makna
Mawinten bukanlah upacara sembarangan dalam ajaran Hindu Bali. Ada banyak sarana dan langkah yang harus dipenuhi agar prosesi berjalan dengan lancar.
Mulai dari Prayascita sebagai pembersihan awal, hingga pengucapan Banten Durmanggala dan Atma Rauh, semua ini bertujuan untuk menyucikan diri dan menghindari halangan apapun.
Setelah semua prosesi selesai, barulah tubuh dirajah dengan aksara suci.
“Setelah semua persiapan, baru dilakukan upacara Majaya-jaya yang dipimpin oleh Sulinggih, kemudian diikuti dengan natab Pawintenan. Prosesi ini diakhiri dengan Tebasan Guru dan rajahan di tubuh,” tutup Gus Suragatana.
Mengapa begitu banyak larangan dan simbol dalam Pawintenan? Semua ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga kesucian diri, baik secara fisik maupun spiritual.
Pantangan seperti tidak makan daging berkaki empat menjadi pengingat bahwa pelanggaran kecil sekalipun bisa berdampak besar pada kesehatan dan spiritualitas seseorang. ***
Editor : I Putu Suyatra