Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pasupati Ritual Menghidupkan Kekuatan Magis Pusaka, Memperoleh Kekuatan Dasa Bayu

I Putu Mardika • Minggu, 22 September 2024 | 05:03 WIB

Tradisi Mepasupati pusaka saat Tumpek Landep bermakna menghidupkan kekuatan dasa bayu
Tradisi Mepasupati pusaka saat Tumpek Landep bermakna menghidupkan kekuatan dasa bayu
BALIEXPRESS.ID-Ritual Pasupati adalah salah satu upacara yang sering dilakukan oleh umat Hindu di Bali. Ritual ini biasanya diterapkan pada benda-benda seperti pratima, prasasti, awig-awig, keris, pusaka, dan tombak, dengan tujuan memberikan energi magis pada benda-benda tersebut.

Menurut Komang Heriyanti, seorang dosen Teologi Hindu dari STAHN Mpu Kuturan, istilah "Pasupati" berasal dari kata "pasu" yang berarti makhluk dan "pati" yang berarti raja, pelindung, atau penjaga.

"Pasupati adalah ritual yang terkait dengan pemujaan Siwa dan bertujuan untuk menghidupkan kekuatan magis dalam benda-benda yang disakralkan," ungkapnya.

Masyarakat Bali percaya bahwa segala ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa memiliki kekuatan dan jiwa yang dapat dihidupkan melalui ritual, termasuk benda-benda buatan manusia.

Oleh karena itu, dari proses pencarian bahan hingga pelaksanaan upacara Pasupati, semuanya dilakukan pada waktu yang dipilih dengan cermat sesuai ajaran tattwa.

Setiap tahapan dari pembuatan hingga pelaksanaan upacara disertai serangkaian ritual. Tujuannya adalah untuk mengisi benda-benda tersebut dengan jiwa dan kekuatan agar dapat berfungsi secara efektif.

"Setelah upacara, benda yang disakralkan ditempatkan di lokasi khusus sebagai sarana memohon perlindungan," paparnya.

Benda-benda yang telah melalui upacara Pasupati diyakini dapat memberikan manfaat bagi pemiliknya, baik berupa perlindungan, kekuatan, atau hal lain sesuai dengan niat sang pemilik.

Setelah diupacarai, benda tersebut dianggap memiliki jiwa dan harus dirawat serta disucikan melalui upakara.

Namun, ritual ini bukan ditujukan untuk menyembah benda tersebut, melainkan sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan yang bersemayam di dalamnya.

Ritual Pasupati di Bali sering kali dilakukan bersamaan dengan upacara Tumpek Landep, yang jatuh setiap 210 hari pada hari Saniscara Kliwon Wuku Landep.

Tumpek Landep adalah perayaan untuk menghormati Sang Hyang Pasupati, manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai penguasa atas segala jenis senjata atau alat logam.

Pada hari ini, berbagai senjata atau peralatan diupacarai dengan tujuan memohon agar semuanya menjadi bertuah.

Proses Pasupati dapat melibatkan pengisian energi ilahi ke dalam benda atau mensthanakan sumber kekuatan tertentu di dalamnya, tergantung kemampuan orang yang melaksanakan upacara.

Benda-benda seperti pratima, arca, dan keris diyakini memiliki kekuatan magis yang muncul karena ritual Pasupati.

Upacara ini mengubah benda-benda yang sebelumnya tidak memiliki jiwa menjadi benda sakral yang memancarkan energi suci dan melindungi pemiliknya dari berbagai ancaman.

Dalam pelaksanaan ritual Pasupati, digunakan berbagai sarana atau banten yang disesuaikan dengan tingkatan serta kemampuan orang yang melaksanakan upacara (yajamana). Tingkatan tersebut terdiri dari alit (kecil), madya (sedang), dan ageng (utama).

Komang Heriyanti menjelaskan bahwa pada tingkatan ageng, banten Pasupati dapat menggunakan sarana seperti bebangkit pule gembal, pemelaspas ayam putih, peras sodan daksina tulung urip, ulam ayam putih, pamor, darah, kunyit, adeng, cendana, beras kuning, nyahnyah gringsing, dan caru manca sata.

Pada tingkatan madya, banten Pasupati menggunakan pulegembal, caru ayam brumbun, pemelaspas ayam putih, peras sodan daksina, tulung urip, serta bahan lain yang serupa dengan tingkatan ageng, namun dengan jumlah atau ukuran yang lebih kecil.

Untuk tingkatan alit, banten yang digunakan termasuk pengambyan tumpeng pitu siki dan pemelaspas, serta bahan-bahan lainnya seperti tumpeng barak, pras daksina, dan ulam ayam biying.

Dalam upacara Pasupati, terdapat pula proses "pengurip-hurip" pratima, yang menggunakan lima unsur warna, yakni pamor (kapur sirih), getih (darah), kunyit, adeng (arang), cendana, dan beras kuning.

Secara filosofis, kelima warna ini mewakili Panca Dewata, yaitu Brahma (darah), Wisnu (arang), Iswara (kapur), Mahadewa (kunyit), dan Siwa (beras kuning dan nyahnyah gringsing).

Mantra yang diucapkan selama ritual Pasupati menyebut Trimurti (Brahma, Wisnu, dan Siwa) sebagai roh alam semesta yang suci, memperkuat keyakinan bahwa Tuhan hadir dalam manifestasi Dewa Siwa atau Pasupati.

"Keberhasilan upacara Pasupati sering ditandai dengan fenomena gaib, seperti trance, cahaya, atau getaran energi," paparnya.

Dalam Lontar Tutur Pasupati, dijelaskan bahwa upacara ini bertujuan untuk memperoleh kekuatan Dasa Bayu, yaitu sepuluh kekuatan alam yang diperlukan dalam kehidupan manusia.

Kekuatan-kekuatan ini, seperti Prana, Udana, Samana, dan lainnya, memberikan energi dan kekuatan hidup kepada manusia.

"Dengan upacara Pasupati, kekuatan alam semesta diharapkan dapat dimasukkan ke dalam benda-benda sakral, sehingga mereka memiliki daya hidup, kekuatan, dan dapat berfungsi sesuai dengan tujuan spiritualnya," pungkasnya (dik)

 

 

Editor : I Putu Mardika
#dasa bayu #pasupati #landep #Pusaka #siwa