BALIEXPRESS.ID - Setiap Pura Puseh dan Pura Desa, salah satu tempat suci umat Hindu Bali di berbagai desa pakraman Pulau Dewata memiliki satu kesamaan yang menarik: keberadaan Palinggih Pan Balang Tamak.
Kisah ini bukan sekadar legenda, melainkan cerita penuh intrik tentang seorang warga desa yang sangat cerdik, namun sering kali mengelabui orang-orang di sekitarnya.
Jero Mangku I Wayan Suda, Pemangku Pura Puseh Batuan di Kecamatan Sukawati, Gianyar, menjelaskan bahwa cerita Pan Balang Tamak mengandung pesan moral yang mendalam.
Pan Balang Tamak dikenal sebagai sosok cerdik yang hidup dalam masyarakat, namun reputasinya sebagai pembohong dan pemalas membuatnya tidak disukai, bahkan oleh Kelihan Banjar.
Rencana Licik di Balik Perburuan
Pada suatu hari, warga desa merencanakan cara untuk memberi hukuman kepada Pan Balang Tamak.
Sebuah perburuan diadakan, di mana semua warga diwajibkan untuk ikut serta dan membawa anjing.
Siapa yang tidak ikut, akan dikenakan sanksi. Kelihan Banjar menetapkan waktu berdasarkan kokok ayam sebagai tanda dimulainya perburuan.
Namun, Pan Balang Tamak yang sudah mencium niat jahat ini tidak kehabisan akal.
Karena tidak memiliki ayam jantan, ia menggunakan ayam betinanya yang sedang mengeram sebagai patokan, sehingga ia baru turun saat siang hari.
Warga yang sudah bersiap menghukumnya pun terkejut ketika Pan Balang Tamak tiba, meskipun terlambat, namun ia tetap lolos dari sanksi.
Aksi Cerdik di Tengah Hutan
Selama perburuan, Pan Balang Tamak kembali menunjukkan kecerdikannya.
Ia melemparkan anjingnya ke semak berduri sehingga terlihat seperti habis bertarung dengan binatang buruan.
Ketika warga bertanya, ia menjawab bahwa anjingnya baru saja berkelahi dengan seekor babi hutan yang lari ke arah jurang.
Warga yang percaya langsung bergerak menuju jurang, sementara Pan Balang Tamak duduk santai membersihkan anjingnya.
Hasilnya? Warga tidak menemukan babi hutan hingga sore hari.
Trik Cerdas yang Tak Terduga
Keesokan harinya, Kelihan Banjar kembali mengumpulkan warga untuk mencari cara menghukum Pan Balang Tamak.
Namun, Pan Balang Tamak sudah mempersiapkan rencana baru. Ia membuat jajan iwel yang menyerupai kotoran anjing dan meletakkannya di balai banjar.
Ia menantang warga untuk memakan "kotoran" tersebut dengan imbalan uang 10 ringgit.
Kelihan Banjar, yang marah, memaksa Pan Balang Tamak sendiri untuk memakannya.
Namun, karena "kotoran" itu adalah jajan iwel, Pan Balang Tamak dengan mudah memakannya dan berhasil mendapatkan uang yang dijanjikan.
Warisan Pan Balang Tamak di Pura Puseh
Sosok Pan Balang Tamak tidak berhenti mengundang rasa penasaran bahkan setelah kematiannya.
I Made Tragia, seorang tokoh masyarakat Desa Sayan, mengungkapkan bahwa Palinggih Pan Balang Tamak ada di Pura Puseh karena cerita yang penuh teka-teki saat ia meninggal.
Mayatnya ditemukan dalam sebuah peti di areal Pura Puseh setelah dicuri oleh maling.
Warga yang mengira peti itu adalah berkah dari pura, lantas menghaturkan banten. Namun, setelah dibuka, peti itu ternyata berisi jasad Pan Balang Tamak.
"Sampai mati pun, Pan Balang Tamak masih berhasil memperdaya warga," ungkap Tragia.
Kisah ini memperlihatkan bagaimana kecerdikan dan tipu muslihat Pan Balang Tamak terus hidup dalam ingatan masyarakat Bali, hingga kini diabadikan dalam bentuk palinggih di berbagai pura desa. ***