Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Upacara Mapepada bagi Umat Hindu Bali: Perlu atau Tidak Jika Hanya Menggunakan Satu Hewan?

I Putu Suyatra • Senin, 23 September 2024 | 14:13 WIB
Ayam adalah hewan yang paling sering digunakan dalam upacara Hindu Bali.
Ayam adalah hewan yang paling sering digunakan dalam upacara Hindu Bali.

BALIEXPRESS.ID - Dalam setiap upacara Hindu Bali, baik besar maupun kecil, penggunaan sarana berupa hewan, atau dikenal sebagai wewalungan, hampir tak pernah terelakkan.

Namun, muncul pertanyaan menarik: jika hanya menggunakan satu hewan dalam upacara, apakah tetap wajib melaksanakan ritual Mapepada?

Upacara Mapepada biasanya berkaitan erat dengan Bhuta Yadnya, khususnya dalam pelaksanaan Tawur atau pacaruan.

Upacara ini umumnya menggunakan hewan seperti ayam dan anjing belang bungkem. Namun, menurut Budayawan I Gede Anom Ranuara yang diwawancarai oleh Bali Express (Jawa Pos Group), upacara Mapepada tidak selalu diperlukan dalam kasus upacara yang hanya melibatkan satu hewan.

"Biasanya cukup dengan upacara sederhana seperti Masesapaan yang menggunakan segehan sebagai sarana," jelasnya.

Masesapaan adalah sebuah ritual sederhana yang memiliki tujuan serupa dengan Mapepada. Ritual ini umumnya dilakukan jika hanya sedikit hewan yang digunakan dalam upacara, meskipun esensinya sama.

Di zaman modern ini, sayangnya, upacara Masesapaan yang sarat makna ini semakin jarang dilakukan.

Banyak masyarakat memilih cara instan dan mengabaikan upacara kecil ini, meskipun dalam ajaran Hindu, upacara ini dianggap penting untuk membebaskan diri dari sifat Ahimsa Karma, yaitu tindakan yang tidak menyakiti.

"Sebenarnya, upacara ini wajib dilakukan setiap kali hendak memotong hewan untuk kepentingan ritual, meski masyarakat modern kurang memperhatikannya karena belum merasakan dampak langsung," lanjut Gede Anom.

Dengan upacara ini, diyakini bahwa hewan yang digunakan dalam ritual mendapatkan penghormatan terakhir sebelum dikorbankan.

Namun, apakah masyarakat akan kembali mempraktikkan tradisi ini, atau tetap memilih jalan praktis?

Fenomena ini menimbulkan refleksi mendalam tentang makna upacara keagamaan dan bagaimana masyarakat memandang pelaksanaan tradisi di tengah perubahan zaman.

Akankah kita terus mempertahankan ritual yang sarat dengan nilai-nilai spiritual, atau membiarkannya terlupakan di tengah modernitas? *** 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #yadnya #hindu #mapepada