Ketua PHDI Kecamatan Buleleng, Nyoman Suardika, menjelaskan bahwa Lamak melambangkan tiga alam atau Tri Bhuana.
Tri Bhuana mencakup alam Bhur (bawah) yang mewakili tanah atau pertiwi, alam Bwah (tengah) yang terdiri dari tumbuhan (Eka Pramana), binatang (Dwi Pramana), dan manusia atau Cili (Tri Pramana), serta alam Swah (atas) yang mencakup matahari, bulan, dan bintang.
Dalam Lamak, simbol-simbol Tri Bhuana diwujudkan dalam bentuk anyaman dan ukiran. Tri Bhuana harus dihadirkan dalam Lamak karena anyaman ini memiliki makna simbolis sebagai tempat suci bagi Sang Hyang Widhi Wasa, dengan simbol-simbol kehidupan yang ada di alam semesta.
Menurut Suardika, merujuk pada Lontar Tutur Rare Angon, ada tiga jenis Lamak di Bali, sesuai dengan tata cara pemasangannya.
Jenis-jenis tersebut adalah Lamak Terujungan yang dipasang di halaman depan rumah saat upacara Bhuta Yadnya atau Tawur, Lamak kecil yang dipasang di beberapa pelinggih seperti Apit Lawang dan tugu, serta Lamak besar yang digunakan pada pelinggih besar seperti Padmasana dan Gedong.
"Simbol-simbol bhuana agung dan bhuana alit pada Lamak terlihat dari ornamen seperti bentuk bulan, bintang, matahari, dan cili-cilian, yang diadopsi dari elemen-elemen alam yang ditempatkan oleh Sang Pencipta di atmosfer," kata Suardika.
Ia menambahkan, ada berbagai jenis Lamak berdasarkan ornamennya. Ornamen matahari, yang terletak di bagian atas Lamak, berbentuk seperti matahari dengan kilauan cahaya, serta dihiasi warna merah muda dan hijau yang menambah nilai estetika.
"Matahari ini melambangkan Surya atau Sang Pencipta, sebagai simbol cahaya kehidupan dan kebaikan yang menopang serta mengendalikan alam semesta," sebutnya.
Ornamen Cili-cilian yang sederhana juga menjadi simbol permohonan kepada Sang Hyang Widhi Wasa untuk anugerah kerahayuan dan keselamatan bagi Bhuana Agung dan Bhuana Alit agar kehidupan di bumi berjalan harmonis.
Ada pula ornamen bulan dan bintang yang melambangkan keindahan, sebagai wujud syukur kepada Tuhan atas sinar indah yang mengusir kegelapan.
Selain itu, ornamen gunung yang berada di bagian atas Lamak menggambarkan kesucian dan kesuburan, sebagai wujud syukur atas limpahan hasil alam dari Tuhan.
Ornamen tumbuh-tumbuhan yang terletak di bagian bawah Lamak melambangkan kesuburan alam, dengan buah, bunga, dan keindahan ciptaan Tuhan dalam berbagai manifestasi.
Lamak dengan motif bunga dimaknai sebagai simbol keindahan, ketulusan, kesucian, dan kedamaian, serta digunakan dalam persembahyangan umat Hindu sebagai sarana persembahan.
Pembuatan lamak menggunakan bahan-bahan alami seperti daun woka dan daun aren. Daun woka berfungsi sebagai dasar untuk merangkai ornamen yang terbuat dari daun aren.
Seiring perkembangan zaman, umat Hindu juga menggunakan kertas berwarna, termasuk kertas metalik, untuk memperindah tampilan lamak.
Nyoman Suardika menjelaskan bahwa untuk mendapatkan bahan baku berkualitas, daun aren yang digunakan harus berwarna hijau muda.
Lidi harus dipisahkan dari daun untuk memudahkan proses pembentukan ornamen saat memotong atau mengiris daun tersebut.
Daun woka yang telah diawetkan atau dikeringkan terlebih dahulu merupakan bahan siap pakai dalam pembuatan lamak.
Proses pengawetan dilakukan dengan merebus daun dalam air panas, kemudian ditiriskan dan dijemur hingga kering, sehingga warna daun berubah menjadi putih.
Lidi bambu juga sangat penting dalam proses pembuatan lamak. Bambu yang sudah tua disarankan untuk dijadikan bahan lidi karena lebih kuat dan tidak mudah patah. Lidi yang digunakan umumnya berukuran pendek dan ramping, serta berfungsi untuk menyematkan ornamen.
Tahap berikutnya adalah memotong daun woka kering dengan ukuran sekitar 10 cm. Daun aren kemudian dipotong sesuai bentuk ornamen yang diinginkan dengan menggunakan pisau kecil. Sebelum menyematkan daun berornamen, penting untuk memperhatikan tata letak ornamen tersebut.
Setelah ornamen terbentuk dari daun aren, ornamen tersebut disematkan pada daun woka menggunakan lidi bambu hingga membentuk persegi panjang. Lamak pun siap digunakan.
Selain sebagai alas sesajen, lamak juga dapat digunakan sebagai dekorasi luar yang ditempatkan di pelinggih, pura, dan penjor selama perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan.
Lamak memiliki makna simbolis dan filosofis yang mendalam serta dipadukan dengan seni rupa dan hias yang indah, sebagai bentuk rasa syukur umat Hindu kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
"Unsur seni dalam pembuatan lamak memiliki arti penting karena dapat mengarahkan pikiran menuju keindahan dan ketenangan jiwa," pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika