Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Gedong: Tempat Suci Hindu Bali yang Memiliki Keajaiban Mata Air dan Tradisi yang Menyentuh Hati di Desa Pejaten

I Dewa Gede Rastana • Selasa, 24 September 2024 | 17:45 WIB

Pura Gedong di Banjar Pangkung, Desa Pejaten, Kecamatan Kediri, Tabanan
Pura Gedong di Banjar Pangkung, Desa Pejaten, Kecamatan Kediri, Tabanan

BALIEXPRESS.ID - Terletak di Banjar Pangkung, Desa Pejaten, Kecamatan Kediri, Tabanan, Pura Gedong adalah tempat suci bagi 50 kepala keluarga Hindu Bali yang tersebar di tiga banjar: Banjar Pangkung, Banjar Pamesan, dan Banjar Pejaten hingga Melaya, Jembrana.

Di kawasan ini, terdapat sebuah cerita menarik tentang kemunculan mata air suci yang dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit.

Mata Air Suci: Fenomena yang Muncul Dua Kali

Fenomena mata air ini pertama kali muncul pada tahun 2002, dan mengalir tanpa henti selama enam bulan.

Jero Mangku Badra, seorang guru agama dan pengurus Pura Gedong, menceritakan bahwa upaya untuk menyedot mata air tersebut dengan mesin tidak berhasil.

"Airnya mengalir terus menerus," ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Kemunculan tirta suci ini cepat menyebar, baik melalui mimpi maupun dari mulut ke mulut.

Banyak pamedek datang ke Pura Gedong dengan keyakinan bahwa air tersebut dapat menyembuhkan penyakit mereka.

"Ada pamedek yang merasakan perbaikan setelah nunas tirta di sini. Semua itu tergantung niat dan kepercayaan masing-masing," jelas Jero Mangku.

Keberkahan dan Pantangan di Pura Gedong

Tirta yang terus mengalir menjelang piodalan Pura Gedong mengakibatkan areal utama mandala dipenuhi air bening, menutupi dulang yang berfungsi sebagai palinggih.

"Saya meminta kepada Ida Betara agar tirta disimpan sementara waktu, sehingga saat piodalan bisa meletakkan banten di dulang," tambahnya.

Namun, keesokan harinya, mata air tersebut surut dan tidak pernah muncul lagi.

Di tahun 2010, mata air tersebut kembali muncul berkat kedatangan Jero Dasaran dari Banjar Sigaran, Desa Mambal, Abiansemal, Badung.

"Jero Dasaran membawa pajati dan nunas tirta, meskipun saya tidak pernah mengatakan ada tirta yang muncul," ungkapnya.

Sebuah keluarga dari Banyuatis, Buleleng, juga mengaku mendapatkan anugerah setelah rajin berdoa di Pura Gedong.

Keluarga tersebut memohon agar dikaruniai anak setelah bertahun-tahun menikah tanpa keturunan.

"Akhirnya mereka memiliki dua anak setelah rutin datang ke Pura Gedong," kata Jero Mangku.

Tradisi yang Masih Ditaati

Pura Gedong memiliki pantangan unik, yakni tidak diperkenankan menggunakan daging babi dalam persembahan selama piodalan atau dalam sesajen sehari-hari.

Hanya daging ayam dan bebek yang boleh digunakan, sebuah tradisi yang telah dipegang sejak lama.

"Kami tidak tahu pasti konsekuensi pelanggarannya, tetapi tradisi ini masih ditaati hingga kini," tuturnya.

Setiap Odalan yang jatuh pada Budha Umanis Perangbakat juga harus menyertakan ubi dan jagung dalam sesajen.

"Setiap odalan, sesajennya diisi sela (ubi) dan jagung," pungkas Jero Mangku Badra.

Pura Gedong bukan hanya tempat beribadah, tetapi juga menjadi saksi bisu keajaiban dan kepercayaan masyarakat sekitar.

Dengan mata air suci yang membawa harapan dan tradisi yang dijunjung tinggi, Pura Gedong terus menarik perhatian dan memberikan inspirasi bagi banyak orang.

Siapa yang tahu, mungkin Anda akan menemukan keajaiban di sini! ***

Editor : I Putu Suyatra
#bali #Pura Gedong #daging babi #hindu #tabanan