Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Madana Punia dalam Hindu Bali: Kewajiban Tulus Tanpa Menunggu Kaya

Putu Agus Adegrantika • Selasa, 24 September 2024 | 19:14 WIB

Pinandita Pasek Swastika
Pinandita Pasek Swastika

BALIEXPRESS.ID -  Pemberian dengan tulus ikhlas, tanpa mengharapkan timbal balik, adalah kewajiban setiap makhluk hidup. Anda tidak perlu menunggu kaya untuk mulai melaksanakan madana punia, sebuah konsep penting dalam agama Hindu yang menekankan pemberian sesuai kemampuan, baik dalam bentuk materi, tenaga, maupun pikiran.

Pinandita Pasek Swastika, tokoh Hindu Bali, menyatakan bahwa madana punia tidak memiliki batasan jumlah atau bentuk pemberian.

"Kita punya kekayaan atau penghasilan, sebaiknya dibagi tiga: untuk makan, untuk disimpan, dan untuk dipuniakan," ujarnya dalam wawancara eksklusif dengan Bali Express (Jawa Pos Group).

Pemberian Sesuai Kemampuan, Bukan Kewajiban yang Berat

Menurut Pinandita Pasek Swastika, madana punia bukanlah sesuatu yang harus dilakukan secara terus menerus, tetapi dilakukan ketika dibutuhkan, baik untuk membantu perorangan, orang sakit, maupun pembangunan.

"Pemberian tidak harus selalu berupa uang atau barang, tetapi juga bisa berupa tenaga, pikiran, atau kemampuan fisik untuk membantu sesama," jelasnya.

Madana Punia dan Erupsi Gunung Agung

Pasek Swastika menyinggung tentang pentingnya madana punia dalam situasi darurat, seperti saat erupsi Gunung Agung.

Ia mengajak semua orang untuk turut peduli terhadap mereka yang terkena dampak bencana.

"Jangan menunggu kaya untuk membantu saudara-saudara kita yang terdampak erupsi," tegasnya.

Beragam Bentuk Punia

Ia juga menekankan bahwa punia tidak hanya dilakukan saat upacara besar seperti piodalan, tetapi juga bisa diwujudkan dalam bentuk yang sederhana, seperti membersihkan pura dari rumput liar.

"Apa pun yang kita berikan, baik tenaga, pikiran, maupun waktu, bisa dianggap sebagai punia," tambahnya.

Transparansi dalam Punia

Pinandita Pasek Swastika juga menjelaskan bahwa pencatatan nominal atau barang yang dipuniakan di pura bukanlah hal yang salah, melainkan bagian dari pertanggungjawaban.

"Secara spiritual, Ida Sang Hyang Widhi sudah mencatat semua perbuatan kita, tetapi secara administratif, pencatatan juga penting untuk menjaga ketertiban dan transparansi," ungkapnya.

Tiga Jenis Dana Punia dalam Kitab Suci

Lebih lanjut, Pasek Swastika menjelaskan bahwa dalam ajaran Hindu terdapat tiga jenis dana punia, yaitu:

  1. Dharmadana – pemberian budi pekerti dan ajaran dharma,
  2. Widyadana – pemberian ilmu pengetahuan, dan
  3. Arthadana – pemberian materi atau harta benda.

"Semua bentuk punia ini harus dilakukan dengan tulus dan ikhlas, seperti yang diajarkan dalam lontar Manawa Dharmasastra," tuturnya.

Pahala dari Madana Punia

Meski pahala dari madana punia diyakini akan datang, Pasek Swastika menekankan agar pemberian dilakukan tanpa mengharapkan imbalan.

"Pahala bisa datang dari mana saja, tetapi jangan pernah berharap," pungkasnya.

Di tempat terpisah, Jero Mangku Ni Wayan Sari juga berbagi pandangannya tentang madana punia.

"Saya tidak pernah menghitung besar atau kecilnya pemberian saya. Yang terpenting adalah melakukannya dengan hati yang bersih," ujar Mangku Sari.

Madana punia, yang sudah dijelaskan dalam berbagai kitab suci Hindu, menjadi pengingat penting bahwa kebaikan bisa dimulai kapan saja, tanpa harus menunggu kaya.

Jadi, apakah Anda sudah siap untuk mulai berbagi? ***

 
Editor : I Putu Suyatra
#bali #Dana punia #hindu