BALIEXPRESS.ID - Aksara, dalam pemahaman Hindu Bali yang lebih dalam, bukan hanya sekadar simbol atau tulisan, melainkan sebuah alat yang mampu menghubungkan kita dengan esensi terdalam diri kita.
Dalam pandangan I Ketut Sandika, S.Pd., M.Pd., seorang penulis dan peneliti budaya Hindu Bali, Aksara berfungsi sebagai obat bagi jiwa dan raga kita.
"Aksara memberikan imunitas yang kuat bagi diri kita," ujarnya dalam wawancara dengan Bali Express (Jawa Pos Group) pada Senin, 29 Januari 2018, di Denpasar.
Aksara: Lebih dari Sekadar Tulisan
Menurut Sandika, tubuh manusia terdiri dari dua aspek: psikis dan fisik. Di dalam tubuh psikis, terdapat tumpukan karma, noda, dan klesa yang menyelimuti diri sejati kita.
Ibarat cermin yang tertutup debu, keaslian kita sering terhalang oleh kotoran-kotoran tersebut.
"Kondisi ini mirip dengan penyakit yang membuat kita menderita," jelasnya. Ini menekankan pentingnya membersihkan diri dari segala noda yang menghalangi kejelasan jiwa.
Membakar Racun Dalam Diri
Di sisi lain, tubuh fisik kita juga dipenuhi racun dari makanan dan energi negatif dari lingkungan.
Namun, Sandika mengungkapkan bahwa Aksara mengajarkan kita bagaimana cara membakar semua kotoran tersebut.
"Jika kita bisa menyalakan api dalam diri, semua kekotoran akan terbakar seperti kayu bakar," tuturnya.
Ia merekomendasikan untuk mengucapkan mantra "Ang-Ah" dalam batin sambil merasakan napas, menghubungkan energi dalam diri kita.
Proses Penyucian Melalui Aksara
Setelah merasakan sensasi panas, Sandika menyarankan untuk menyatukan dwiaksara menjadi Ongkara Ngadeg, dan kemudian menuangkan "air amerta" ke dalam tubuh kita.
Proses ini melibatkan beberapa titik di tubuh, seperti tulang tengkorak, alis, dan leher, yang memiliki makna simbolis dalam tradisi Hindu Bali.
"Aksara berkata, inilah yang disebut Cecupu Mas," ungkapnya.
Mengalirnya Tirta Amerta
Ketika tirta amerta mulai mengalir dari otak, itu seperti sungai yang membawa pergi semua kotoran yang menghalangi.
Sandika menjelaskan bagaimana air suci ini akan mengalir melalui berbagai sungai simbolik dalam tubuh kita—dari sungai Saraswati di tenggorokan hingga sungai Serayu di pusar, melewati semua organ vital.
"Proses ini dapat dilakukan kapan saja, dan jika tidak, tubuh kita akan secara alami mengeluarkan kekotoran melalui jalur tersebut," tegasnya.
Kembali kepada Diri
Dengan semua penjelasan ini, Sandika mengajak kita untuk merenung sejenak.
"Duduklah atau pejamkan mata, dan rasakan aliran napas. Izinkan api pembersihan bekerja untuk menghilangkan segala bentuk kotoran, baik yang niskala maupun sekala," pungkasnya.
Aksara bukan hanya sebuah sistem tulisan, melainkan juga merupakan jalan menuju kesembuhan diri dan kebangkitan jiwa.
Dengan memahami dan menerapkan ajaran Aksara, kita dapat kembali menemukan kesejatian diri yang selama ini terhalang.
Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda menjelajahi kekuatan Aksara dalam diri Anda? ***
Editor : I Putu Suyatra