BALIEXPRESS.ID - Dalam ajaran purba, Aksara diceritakan sebagai sebuah konsep yang sangat menakjubkan dan penuh misteri. Dianggap sebagai benih dari segala penciptaan,
Aksara adalah asal mula dari semua yang ada di dunia ini. Kisah ini diambil dari teks kuna yang menggambarkan bagaimana seluruh keberadaan ini lahir dari kekosongan, dan dari kekosongan itulah Aksara muncul.
Menurut peneliti budaya dan penulis buku Hindu Bali, I Ketut Sandika, S.Pd., M.Pd., dalam wawancaranya dengan Bali Express (Jawa Pos Group) di Denpasar, Senin (29/1), sebelum ada sesuatu, hanya ada kekosongan yang disebut Sunya Nirbhana, menyerupai bentuk Windhu (0).
Di dalam kekosongan tersebut terdapat energi yang tak terlihat, yang dikenal sebagai Nada atau suara, sumber dari segala yang ada.
Dalam ajaran Hindu kuno, pertemuan antara Windhu dan Nada melahirkan entitas gaib bernama Sanghyang Siwareka, yang kemudian melakukan tapa hebat hingga benih Aksara muncul: Wrehastra, Swalalita, dan Modre.
Ketiga aksara ini bukan sekadar simbol, melainkan dasar dari keberadaan alam semesta.
"Ketiga Aksara ini melambangkan siklus kelahiran, kehidupan, dan kematian kosmos. Mereka begitu gaib dan misterius," ungkap Sandika.
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa manusia pun diciptakan dari Aksara ini.
Wrehastra membentuk tubuh kasar manusia, Swalalita menciptakan tubuh astral atau halus, sedangkan Modre menciptakan badan terhalus tempat Sang Atma bersemayam.
Karena itu, manusia dalam ajaran purba dikenal sebagai "selubung Aksara". Tindakan, ucapan, dan pikiran manusia semua bersumber dari ketiga aksara ini.
Aksara tersebut juga berhubungan dengan elemen kosmos. Ang menghasilkan energi panas, Ung menciptakan ruang atau Akasa, dan Mang melambangkan zat cair yang memberikan kehidupan.
Ketika semua elemen ini bersatu, terwujudlah Aksara Sang Rwabhineda, simbol keseimbangan antara api dan air yang bertemu di titik hati menyerupai bunga padma.
Dalam penjelasan lanjutannya, Sandika mengungkapkan bahwa saat manusia hendak melepas Atma dari tubuh, perjalanan Atma dipandu melalui sembilan pintu kelepasan.
Aksara kembali kepada kesunyian awal, dengan Windhu, Nada, Ardhacandra, Tedung, dan Okara sebagai simbol dari dualitas dan materialitas.
Semua ini bersatu menjadi satu aksara gaib yang dikenal sebagai Ongkara atau Ong.
Menurut Sandika, manusia yang ingin mengenal jati dirinya harus menelusuri jejak aksara Ong ini.
"Ong adalah sasaran utama bagi manusia yang ingin menyatukan dirinya dengan kosmos. Dengan idep sebagai busur, bayu sebagai tali busur, dan sabda sebagai anak panah, Sang Atma menjadi inti yang harus menembus tepat pada sasaran," jelasnya.
Di akhir penjelasannya, pria kelahiran 11 Februari 1988 ini menekankan bahwa Aksara bukan sekadar simbol, melainkan sebuah cermin dari diri yang sejati.
"Bertuturlah pada diri sebagaimana diri bertutur pada Aksara," pungkasnya penuh makna. ***
Editor : I Putu Suyatra