Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Bencana Banjir dan Longsor Ancam Keharmonisan Rumah: Bagaimana Mengembalikan Energi Skala dan Niskala Menurut Hindu Bali? Ini Jawabannya!

I Putu Mardika • Sabtu, 28 September 2024 | 03:14 WIB
Ilustrasi bencana
Ilustrasi bencana

BALIEXPRESS.ID - Banjir dan tanah longsor kadang tak hanya merusak ratusan rumah, tetapi juga mengganggu kenyamanan spiritual penghuninya.

Lalu, bagaimana mengembalikan kebersihan energi skala (fisik) dan niskala (spiritual) dari rumah yang terdampak bencana menurut Hindu Bali?

Menurut Jro Anom, seorang ahli spiritual dan dosen di STAHN Mpu Kuturan, rumah yang terkena bencana harus segera dinetralisasi melalui ritual Ngulapin dan Pacaruan Eka Sata.

Ritual ini bertujuan untuk memarisudha atau menyucikan pekarangan agar terbebas dari energi negatif yang terbawa oleh banjir.

Jika tidak, rumah tersebut rentan dihuni oleh Bhuta Kala yang bisa membawa ketidaknyamanan bagi penghuninya.

Mengapa Harus Dilakukan Ritual Pacaruan?

Jro Anom menegaskan bahwa ketika pekarangan rumah kotor secara niskala, Ida Bhatara Wiswakarma yang bersthana di rumah tersebut bisa meninggalkannya.

"Jika Bhatara tidak berstana lagi, rumah akan menjadi tidak nyaman dan penghuninya bisa merasakan gangguan secara psikis," ujarnya.

Ritual Pacaruan Eka Sata ini menggunakan banten khusus seperti ayam brumbun, banten sesayut sapuh lara, dan banten tadah kala.

Setelah upacara pacaruan, dilanjutkan dengan upacara ngulapin yang bertujuan untuk memanggil kembali Ida Bhatara Wiswakarma agar bersedia bersthana di rumah tersebut.

Waktu Terbaik Melakukan Ritual: Kajeng Kliwon dan Tilem

Menariknya, Jro Anom menjelaskan bahwa waktu terbaik untuk melaksanakan ritual ini adalah pada Rahina Kajeng Kliwon atau saat Tilem.

Kajeng Kliwon dianggap sebagai hari yang sakral di mana para bhuta turun untuk menilai umat yang melaksanakan dharma. Oleh karena itu, melakukan upacara pada hari ini diyakini bisa mengembalikan keseimbangan alam niskala dari alam bhuta menjadi alam dewa yang penuh cahaya.

Pentingnya Pembersihan Palinggih Panunggun Karang

Tak hanya rumah dan pekarangan, Jro Anom juga menyoroti pentingnya melakukan ritual Guru Piduka Alit jika sanggah kemulan atau merajan terkena bencana.

Hal ini untuk memohon maaf sekaligus memulihkan energi spiritual di tempat suci tersebut.

Dengan memahami pentingnya upacara-upacara ini, masyarakat Buleleng diharapkan tidak hanya fokus pada pemulihan fisik pascabencana, tetapi juga menjaga keharmonisan spiritual di rumah mereka.

Ritual ini tidak hanya menjaga keseimbangan niskala, tetapi juga memberikan rasa aman dan nyaman bagi penghuninya setelah bencana alam melanda. *** 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #bencana #pecaruan #niskala #hindu #bhuta kala #skala #banjir #longsor