Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Unik! Indonesia Raya Berkumandang di Pura ini saat Pujawali, Begini Sejarahnya

I Putu Mardika • Sabtu, 28 September 2024 | 05:28 WIB

Pura Bencingah di Desa Ambengan, Kecamatan Sukasada, Buleleng yang senantiasa mengumandangkan lagu Indonesia Raya saat pujawali
Pura Bencingah di Desa Ambengan, Kecamatan Sukasada, Buleleng yang senantiasa mengumandangkan lagu Indonesia Raya saat pujawali
BALIEXPRESS.ID-Pura Bencingah di Desa Ambengan, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali memiliki keunikan tersendiri.

Saat pujawali yang jatuh pada Soma Wuku Kuningan atau Pemacekan Agung, lagu Indonesia Raya wajib dinyanyikan. Pura ini dibangun berdasarkan kaul para pejuang saat melawan penjajah.

Pura Bencingah yang berada di Dusun Ambengan ini memiliki struktur sederhana.

Pura tersebut terletak di depan Pura Bale Agung Ambengan dengan pelinggih utama Ratu Ngurah Pangalangalang, yang memiliki sayap di belakang sebagai simbol Burung Garuda, melambangkan kebebasan. Ada juga pelinggih Taksu di area pura tersebut.

Kelian Desa Adat Ambengan, Jero Mangku Gede I Wayan Puger, 53, menjelaskan bahwa tidak ada catatan sejarah tertulis tentang berdirinya Pura Bencingah. Kisahnya diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi.

Sebelum kemerdekaan, banyak tokoh pejuang Buleleng dan Bali berkumpul di desa ini untuk menyusun strategi melawan penjajah.

Dalam upaya tersebut, mereka juga mencari perlindungan secara sekala dan niskala.

Salah satu pemimpin mereka membuat janji kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa: jika mereka berhasil mengusir penjajah, mereka akan membangun sebuah pelinggih di Desa Ambengan sebagai simbol keberhasilan perjuangan mereka.

“Janji tersebut akhirnya dipenuhi dengan pembangunan pelinggih berbentuk tugu, yang awalnya disebut Pura Suter, terletak di sebelah selatan SD No 1 Ambengan,” katanya.

Menurut Jro Mangku Puger, diyakini bahwa yang berstana di Pura Bencingah adalah Ida Ratu Ngulah Pengalang-alang, yang berperan sebagai pelindung dari musuh atau penjajah.

Keunikan pura ini juga terlihat saat pujawali, yang diadakan setiap enam bulan sekali bertepatan dengan Soma Wuku Kuningan.

Pada saat itu, persembahan berupa banten Peras Pejati diberikan di pelinggih Ratu Ngurah Pangalangalang, dan prosesi pujawali dimulai pukul 13.00 dengan persembahan pecaruan, yang menggunakan ayam brumbun dan pejati.

“Selama pujawali, ada prosesi murwa daksina yang dilakukan tiga kali, dipimpin oleh Jro Mangku (wanita dan pria), serta diikuti oleh aparat desa yang membawa bendera Merah Putih,” tambahnya.

Saat murwa daksina, semua pemedek yang hadir berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, diiringi suara gong.

Setelahnya, dilakukan penghormatan, mengheningkan cipta selama lima menit, dan dilanjutkan dengan suara ledakan keras menyerupai meriam.

Bendera Merah Putih yang dibawa kemudian ditancapkan di penyengker Pura Bencingah, dan persembahyangan bersama dilakukan.

Tiga hari setelah pujawali, diadakan upacara penutupan atau melayagin yang hanya dilaksanakan oleh Jro Mangku wanita dan pria, dengan menggunakan upakara tipat blayag dan canang ajengan.

“Setelah itu, bendera dan busana upacara disimpan kembali,” tutupnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Pura Bencingah #sukasada #pura #Tugu #ambengan #buleleng