BALIEXPRESS.ID - Desa Pakraman Sangket, Kelurahan/Kecamatan Sukasada, Buleleng, memiliki keunikan yang tak banyak ditemui di tempat lain. Pura Desa, Pura Mangening (Puseh), dan Pura Dalem di desa ini memiliki ciri khas yang membuatnya berbeda dari pura Kahyangan Tiga umat Hindu Bali di desa-desa lainnya di Pulau Dewata.
Apa yang membuatnya begitu unik?
Keunikan tersebut terletak pada keberadaan pelinggih mobil di setiap pura tersebut. Pura Desa memiliki pelinggih berbentuk mobil sedan, Pura Mangening menampilkan pelinggih truk TNI AD, sementara di Pura Dalem, pelinggihnya berbentuk Kijang Pick-Up.
Keberadaan pelinggih-pelinggih ini memberikan daya tarik tersendiri dan membuat banyak orang penasaran akan makna di baliknya.
Pelinggih Mobil yang Detail dan Mewakili Filosofi
Pelinggih mobil di Pura Desa, berupa sedan berwarna putih, diletakkan di atas tugu dengan dimensi yang detail.
Mobil ini lengkap dengan aksesoris seperti ban, velg berwarna emas, pintu, lampu, spion, hingga nomor polisi bertuliskan DK 9 DP.
Penampilannya begitu realistis, meskipun ukurannya lebih kecil dari mobil sebenarnya.
Hal serupa juga ditemui di Pura Mangening, di mana pelinggihnya berbentuk truk TNI AD berwarna hijau tua, khas kendaraan militer.
Setiap detailnya diperhatikan, mulai dari ban, lampu, spion, sirine, hingga penutup truk berwarna loreng.
Di Pura Dalem, pelinggih berbentuk Kijang Pick-Up jadul yang biasa digunakan patroli. Tempat duduknya pun digambarkan saling membelakangi, memberikan kesan autentik.
Keunikan lain yang mencolok adalah posisi ketiga pelinggih tersebut tidak berada di madya mandala atau utama mandala pura, melainkan di areal jaba pura atau halaman luar, dekat pintu masuk pura.
Bendera Merah Putih dan Kesan Sakral
Setiap pelinggih mobil di pura Kahyangan Tiga ini selalu disertai bendera merah putih di sisinya.
Meskipun dilengkapi atribut modern seperti mobil dan bendera, pelinggih ini tetap dihiasi wastra poleng dan kain putih kuning yang memberikan kesan sakral dan spiritual.
Keberadaan pelinggih mobil ini tentu saja menimbulkan rasa penasaran.
Tim Bali Express mencoba menggali lebih dalam mengenai asal-usulnya dengan menghubungi Kelian Desa Pakraman Sangket, Nyoman Wijana.
Wijana mengungkapkan bahwa pelinggih mobil tersebut memiliki kisah historis dan mistis yang melatarbelakangi pembuatannya.
Kisah Mistis di Balik Pelinggih Mobil
Menurut Nyoman Wijana, Desa Sangket dulunya merupakan markas pejuang saat perjuangan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945.
Wilayah ini sering dijadikan tempat berkumpul para pejuang untuk menyusun strategi perang melawan penjajah.
Sekitar tujuh tahun lalu, ketika Gede Tinggen menjabat sebagai Kelian Desa Pakraman, terjadi fenomena mistis saat upacara pujawali di Pura Desa.
Para sutri yang kerauhan (kesurupan) meminta agar segera dibangun pelinggih mobil di Kahyangan Tiga.
“Setiap pujawali, para sutri kerauhan berkali-kali meminta agar dibangun pelinggih mobil di Pura Desa, Pura Mangening, dan Pura Dalem. Akhirnya, saat kepemimpinan Gede Tinggen, pelinggih ini diwujudkan,” ujar Wijana.
Fenomena mistis pun tak berhenti di situ. Beberapa warga melaporkan mendengar suara truk TNI melintas pada malam hari, disertai dengan suara langkah kaki ratusan tentara.
Kejadian tersebut semakin menguatkan masyarakat untuk segera membangun pelinggih mobil ini sebagai bentuk penghormatan terhadap para pejuang.
Filosofi di Balik Pelinggih Mobil
Setiap pelinggih mobil di Kahyangan Tiga memiliki makna filosofis yang mendalam, terkait dengan konsep utpatti (lahir), stiti (hidup), dan pralina (mati).
- Pelinggih mobil sedan di Pura Desa melambangkan pusat komando yang mencerminkan konsep utpatti atau penciptaan.
- Pelinggih truk TNI di Pura Mangening menggambarkan pasukan pelindung, sesuai dengan konsep stiti atau pemeliharaan.
- Pelinggih Kijang Pick-Up di Pura Dalem dipersonifikasikan sebagai kendaraan yang melakukan pengawasan dan pralina (kematian).
Upacara Pujawali yang Unik
Pada setiap pujawali di Pura Desa yang bertepatan dengan Hari Raya Galungan, ada hal unik yang terjadi. Para sutri yang kerauhan sering berdandan ala pasukan TNI, lengkap dengan baju lorengnya.
Hal serupa juga terjadi di Pura Mangening dan Pura Dalem, di mana para sutri dihias layaknya pasukan TNI saat kerauhan.
Oleh karena itu, pakaian TNI AD disimpan secara khusus di Pura Desa untuk keperluan tersebut.
Namun, untuk pelinggih mobil, tidak ada sesajen atau banten khusus saat pujawali.
“Pujawali dilakukan seperti biasa sesuai dengan tradisi Kahyangan Tiga. Di Pura Desa bertepatan dengan Hari Raya Galungan, di Pura Dalem saat Hari Raya Kuningan, dan di Pura Mangening pada Purnama Sasih Kedasa,” jelas Wijana.
Keberadaan pelinggih mobil di Pura Kahyangan Tiga Desa Pakraman Sangket ini memberikan warna tersendiri dalam tradisi Hindu di Bali.
Selain menjadi penghormatan kepada sejarah perjuangan, pelinggih ini juga menambahkan unsur unik yang penuh makna dan mengundang rasa penasaran. ***
Editor : I Putu Suyatra