Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengungkap Konsep Trias Politika di Tiga Tempat Suci Hindu Bali Kubutambahan: Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif dalam Kehidupan Niskala

I Putu Mardika • Senin, 30 September 2024 | 00:13 WIB
Photo
Photo

BALIEXPRESS.ID - Siapa sangka konsep Trias Politika, yang umumnya dikenal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, juga dapat ditemukan dalam kehidupan spiritual (niskala) Hindu Bali.

Di Desa Pakraman Kubutambahan, konsep ini hadir dalam tiga pura utama yang secara simbolis merepresentasikan fungsi eksekutif, legislatif, dan yudikatif, mirip dengan yang ada dalam dunia nyata (skala).

Ketiga pura yang dimaksud adalah Pura Puseh Penegil Dharma, Pura Negara Gambur Anglayang, dan Pura Dalem Puri.

Masing-masing pura ini memiliki peran unik yang saling berkaitan, menciptakan harmoni spiritual dalam struktur kehidupan niskala di Kubutambahan.

1. Pura Puseh Penegil Dharma: Simbol Eksekutif Niskala

Jro Ketut Warkadea, Kelian Desa Pakraman Kubutambahan, menjelaskan bahwa Pura Puseh Penegil Dharma memegang peran sebagai pusat pemerintahan spiritual, atau fungsi eksekutif dalam Trias Politika.

Di pura ini berstana Ratu Ayu Mutering Jagat, yang dianggap sebagai kekuatan utama dalam menjalankan "pemerintahan" spiritual di kawasan tersebut.

Pura ini menjadi pusat penyelenggaraan segala aktivitas niskala yang terkait dengan kesejahteraan dan kebenaran.

"Pura ini merupakan pusat pemerintahan spiritual, mirip dengan peran eksekutif dalam pemerintahan dunia nyata. Kata 'puseh' sendiri berarti pusat, yang menggambarkan fungsinya sebagai pusat pelaksanaan kekuasaan niskala," ujar Jro Warkadea.

Terletak strategis di tepi jalan Singaraja-Amlapura, sekitar 100 meter dari Pantai Kubutambahan, Pura Puseh Penegil Dharma juga dikenal sebagai Pura Kahyangan Jagat yang banyak dikunjungi oleh umat Hindu dari seluruh Bali.

Pura seluas satu hektar ini memiliki daya tarik tersendiri dengan 108 mata air suci yang sering digunakan untuk melukat atau pembersihan spiritual.

2. Pura Negara Gambur Anglayang: Pusat Legislatif Spiritual

Berjarak sekitar dua kilometer dari Pura Puseh Penegil Dharma, Pura Negara Gambur Anglayang berperan sebagai simbol multikulturalisme dan keragaman spiritual, mencerminkan fungsi legislatif.

Pura ini dikenal sebagai pura kebhinekaan, karena di dalamnya terdapat palinggih (tempat pemujaan) yang merepresentasikan berbagai agama dan etnis.

"Pura Negara Gambur Anglayang ini mencerminkan fungsi legislatif karena keberagaman yang ada di dalamnya. Pura ini menjadi tempat pertemuan spiritual dari berbagai keyakinan, dengan palinggih yang merepresentasikan agama Hindu, Islam, Kristen, dan Buddha," kata Jro Warkadea.

Keunikan pura ini terletak pada kehadiran palinggih seperti Ratu Gede Dalem Mekah, yang dipercaya sebagai simbol dari unsur Islam, serta palinggih lain yang merepresentasikan suku Sunda, Melayu, Cina, dan budaya lain.

Karena keanekaragaman ini, pura sering dikunjungi oleh umat dari berbagai latar belakang, termasuk umat Islam yang mengaku menerima "bisikan gaib" atau pawisik untuk bersembahyang di sini.

3. Pura Dalem Puri: Pengadilan Spiritual yang Mencerminkan Fungsi Yudikatif

Pura ketiga dalam rangkaian ini adalah Pura Dalem Puri, yang berfungsi sebagai simbol pengadilan spiritual atau yudikatif.

Pura ini dianggap sebagai tempat penegakan hukum niskala, di mana segala bentuk dosa atau kesalahan spiritual diadili.

"Pura Dalem Puri mencerminkan fungsi yudikatif karena di sini adalah tempat penghukuman spiritual. Terdapat area khusus yang digunakan untuk ritual penyucian bagi mereka yang mengalami 'sakit gede', serta tempat sumpah cor yang sering dilakukan di pura ini," ujar Jro Warkadea.

Posisi Pura Dalem Puri yang berada di tepi pantai semakin menambah nuansa mistisnya. Pura ini berhubungan erat dengan Dewa Siwa, yang diyakini sebagai pengadil niskala tertinggi.

Kesatuan Spiritual dalam Trias Politika di Kubutambahan

Ketiga pura ini tidak berdiri sendiri, tetapi saling terkait dalam sebuah siklus spiritual yang harmonis.

Saat salah satu pura melaksanakan pujawali (upacara keagamaan), dewa-dewa dari pura lainnya akan turut berkunjung atau malancaran, menciptakan kebersamaan dalam menjalankan tugas spiritual mereka.

"Pura-pura ini dibangun pada masa Bali Kuna, sekitar tahun 1200 Masehi, dan masing-masing pura memiliki peran yang berbeda dari Pura Kahyangan Tiga. Meski demikian, ketiganya menggambarkan konsep Trias Politika dalam kehidupan spiritual masyarakat Kubutambahan," pungkas Jro Warkadea.

Dengan begitu, Desa Pakraman Kubutambahan tidak hanya menyimpan sejarah panjang, tetapi juga kekayaan spiritual yang merepresentasikan harmoni dan keseimbangan dalam kehidupan niskala, mirip dengan konsep pemerintahan dunia nyata yang dikenal dengan Trias Politika. ***

 

Editor : I Putu Suyatra
#Trias Politika #bali #Pura Negara Gambur Anglayang #niskala #hindu #pura dalem puri #pura puseh penegil dharma #kubutambahan