Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mistis! Jadi Ajang Leak 'Unjuk Gigi', Ini Sarana yang dipersembahkan saat Soma Pemacekan Agung

I Putu Mardika • Senin, 30 September 2024 | 03:11 WIB

Ilustrasi Rangda sebagai simbol kekuatan negatif
Ilustrasi Rangda sebagai simbol kekuatan negatif
BALIEXPRESS.ID-Lima hari setelah Galungan atau Lima hari sebelum Hari Raya Kuningan disebut dengan Soma Pemacekan Agung.

Soma Pemacekan Agung, yang jatuh pada hari Soma Kliwon Wuku Kuningan, merupakan hari penting bagi umat Hindu di Bali. Pada hari ini, diyakini bahwa Sang Kala Tiga akan kembali ke asalnya setelah disucikan.

Upacara ini bertujuan untuk mengembalikan Bhuta Galungan beserta pengikutnya ke tempat asal mereka.

Pada saat itu, dipersembahkan Segehan Agung yang menggunakan ayam samalulung sebagai korban. Ritual ini biasanya dilakukan di sore hari, di depan pintu masuk pekarangan rumah atau lebih.

Menurut Putu Agus Panca Saputra atau Jro Panca, kata "Pemacekan Agung" berasal dari kata "pacek" yang berarti menancapkan tapa, dan "agung" yang berarti besar, mulia, atau kuat.

Soma Pemacekan Agung adalah bagian dari rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan. Momen ini diyakini sebagai penguatan spiritual bagi umat Hindu untuk menahan godaan dari Sang Kala Tiga, sehingga mereka dapat disucikan dan dikembalikan ke asalnya.

Secara filosofis, menurut Jro Panca, Pemacekan Agung mengandung makna bahwa kemenangan manusia atas adharma (kejahatan) menjadi landasan kebangkitan kesadaran diri.

Ini juga menguatkan komitmen untuk menjaga martabat kemanusiaan dan menghindari sifat angkara.

Penjelasan lebih lanjut tentang Pemacekan Agung dapat ditemukan dalam Lontar Dharma Kahuripan, yang menyebutkan bahwa Pemacekan Agung berarti pemusatan diri dalam bentuk tapa untuk mencapai kesucian Sanghyang Dharma.

Tapa di sini merujuk pada proses pengendalian diri untuk mencapai kebijaksanaan dan kebenaran.

Selain itu, dalam Lontar Sundarigama, dijelaskan bahwa pada hari Soma Kliwon, umat Hindu sebaiknya mempersembahkan Segehan Agung di depan pintu rumah dengan korban ayam samalulung yang baru menetas kurang dari tujuh hari, untuk mengembalikan Bhuta Kala ke tempat asalnya.

Mengapa Soma Pemacekan Agung dianggap keramat? Menurut Jro Panca, hari ini terkait erat dengan konsep kawisesan atau ilmu mistik.

Pada hari Redite Kuningan (sehari sebelum Soma Pemacekan Agung), sering dijadikan ajang "unjuk gigi" bagi para Leak Pemoroan, yaitu leak yang belajar tanpa aturan tertulis. Mereka sering bertransformasi menjadi binatang dan memperdebatkan masalah kantah (tumbal).

Di sisi lain, Soma Pemacekan Agung juga dimanfaatkan oleh Leak yang belajar melalui kawisesan atau kitab suci, untuk menegakkan aturan dan menghukum mereka yang melanggar.

Terdapat juga sejumlah pantangan saat Soma Pemacekan Agung, seperti tidak boleh memotong rambut, kuku, atau keramas, karena diyakini dapat menyebabkan tubuh dipinjam oleh roh halus, sehingga orang tersebut terlihat seperti leak.

Jro Panca menambahkan, masyarakat juga dianjurkan tidak keluar rumah pada waktu senja saat Soma Pemacekan Agung, karena sedang dilakukan persembahan lelabaan dan untuk mencegah energi negatif masuk ke rumah. Setelah melewati momen ini, perayaan Kuningan menjadi simbol kemenangan.

Bagi mereka yang lahir saat Soma Pemacekan Agung, diwajibkan melakukan upacara Bayuh Melik untuk menghindari pengaruh negatif. Upacara ini dilakukan sekali seumur hidup dan melibatkan berbagai sesajen serta korban ayam hitam.

Jro Panca menekankan bahwa mereka yang lahir pada hari tersebut memiliki energi yang kuat. Jika tidak diarahkan dengan baik, dikhawatirkan mereka dapat condong ke arah negatif. Upacara Bayuh Melik bertujuan untuk mengalihkan energi negatif dan menarik hal-hal positif. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#bali #soma pemacekan agung #bhuta #hindu #segehan #galungan #Leak #kuningan