BALIEXPRESS.ID – Pemacekan Agung jatuh pada Soma Kliwon Wuku Kuningan memiliki makna dimana hari memanjatkan tekad yang baik di tengah-tengah kesucian batin.
Pemacekan berasal dari kata ‘Pacek’ yang artinya adalah ‘Tapa’, sedangkan ‘Agung’ memiliki arti ‘Kuat’.
Diketahui, Pemacekan Agung di Bali, merupakan hari raya umat Hindu dalam rangka pemujaan terhadap Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Prameswara dengan menghaturkan yadnya untuk memohon keselamatan.
Jero Mangku Dalang Pasek Denpasar, I Wayan Gunawan, menjelaskan Pemacekan Agung terdapat dalam lontar Dharma Kahuripan. “ Disebutkan Pemacekan Agung nga, panincepan ikang angga sarira maka sadhanang tapasya ring Sanghyang Dharma,” paparnya.
Ini berarti Pemacekan Agung juga merupakan pemusatan diri dengan sarana tapa kepada Sang Hyang Dharma. “Selain itu, Pemacekan Agung menjadi tonggak batas antara permulaan dan berakhirnya Galungan,” tegas Mangku Dalang Gunawan.
Pemacekan Agung menandakan 30 hari ke depan dan 30 hari ke belakang, yakni dimulai dari Tumpek Wariga dan berakhir pada Buda Kliwon Pahang.
Pemacekan Agung letaknya adalah tepat di tengah - tengah antara rerainan dari awal, deret peringatan rahinan Galungan sampai akhir dalam peringatan hari raya Galungan.
Dimulai dari Tumpek Wariga menuju Pemacekan Agung adalah 30 hari dan Pemacekan Agung menuju Buda Kliwon Pahang adalah 30 hari, kalau dihitung genap 60 hari.
Upakara dan upacara yang dihaturkan pada rahina Pemacekan Agung Banten soda, ajuman, canang sari, segehan agung, api takep, arak, berem.
“Pemacekan Agung menjadi momentum penting untuk menguatkan komitmen spiritual, menegakkan nilai-nilai dharma, dan menjaga keutuhan diri dari godaan ego agar terjaga keseimbangan dan keharmonisan dalam menjalankan kehidupan,” pungkasnya. ***
Editor : Putu Agus Adegrantika