Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Pertempuran Raja Pemecutan dan Raja Buleleng di Denpasar Terungkap dari Nama Tainsiat, Kaliungu dan Tampakgangsul: Begini Kisahnya

Nyoman Suarna • Selasa, 1 Oktober 2024 | 00:46 WIB
TAINSIAT: Banjar Tainsiat salah satu saksi bisu dan bukti sejarah perang antara Raja Pemecutan dan Raja Buleleng di Denpasar.
TAINSIAT: Banjar Tainsiat salah satu saksi bisu dan bukti sejarah perang antara Raja Pemecutan dan Raja Buleleng di Denpasar.

BALIEXPRESS.ID - Sejarah bukan sekadar rentetan peristiwa yang terekam dalam ingatan manusia, melainkan juga cerminan nilai, budaya, dan perjuangan yang membentuk identitas suatu daerah atau desa.

Setiap kisah, baik tentang perang, perdamaian, maupun tokoh-tokoh besar yang mewarnainya, menyimpan pesan yang dapat memberi pemahaman lebih dalam tentang asal-usul sebuah desa.

Seperti halnya desa atau banjar di Bali memiliki rekam sejarah masing-masing. Di antaranya nama desa/banjar Tampakgangsul, Taensiat dan Kaliungu yang berada di Kota Denpasar.

Sejarah ketiga banjar ini terkait dengan peristiwa perang antara Kerajaan Badung dan Kerajaan Buleleng.

Dilansir dari kanduksupatra.blogspot.com, kisahnya bermula dari Raja Mengwi sangat marah ketika mengetahui bahwa wilayah kekuasaannya direbut oleh I Gusti Ngurah Pemecutan dan dijadikan bagian dari Kerajaan Badung.

Untuk membalas dendam, Raja Mengwi meminta bantuan dari Raja Buleleng, I Gusti Ngurah Panji Sakti.

 Baca Juga: Koster-Giri Sebut Akan Kembangkan Pelabuhan Amed

Panji Sakti menyetujui permintaan tersebut dan dengan yakin dapat menghancurkan Kerajaan Badung hanya dengan "mengibaskan kancut," karena wilayah itu hanya sebesar sarang ayam.

Setelah kesepakatan tercapai, pasukan Buleleng yang dikenal dengan nama Pasukan Goak mulai bergerak menyerang Kerajaan Badung.

Sampai di persawahan di timur laut Puri Pemecutan, Pasukan Goak berhenti.

Keberadaan Pasukan Goak tercium oleh telik sandi Raja Badung yang segera memerintahkan pasukan Sikep Badung untuk menghadapi Pasukan Goak.

Pertempuran pun pecah antara dua pihak ini. Sikep Badung terdesak dan mengalami banyak korban jiwa, hingga darah para prajuritnya mengalir ke dalam parit.

Pasukan Sikep terpaksa mundur untuk melaporkan situasi kepada Raja Badung. Namun, sebelum mereka sampai ke puri, Raja Badung sudah menuju ke medan pertempuran.

Raja Badung kemudian memberikan perintah kepada pasukannya untuk kembali bertempur dengan strategi baru.

Sikep Badung diminta mengambil lumpur dari sawah  dan melemparkannya ke mata para prajurit Goak Buleleng.

Taktik ini membawa semangat baru bagi Pasukan Sikep Badung, yang segera kembali ke medan perang. Pertempuran semakin sengit ketika pasukan Badung berhasil memaksa mundur Pasukan Goak.

Di tengah kekacauan, I Gusti Ngurah Panji Sakti akhirnya muncul, dan perang tanding tak terelakkan dengan Raja Badung.

Duel antara kedua raja ini berlangsung sengit. Keduanya sama-sama sakti, berbekal senjata tajam seperti pedang, tombak, dan keris, namun sama sekali tidak terluka, karena kekebalan yang mereka miliki.

Lama-kelamaan, karena tidak ada yang menang atau kalah, kedua raja mulai merasa lelah.

 Baca Juga: Warga Kubu Karangasem Tegaskan Tulus dan Ikhlas Hadiri Kampanye Terbuka Koster-Giri dan Dana-Swadi

Saat itulah tiba-tiba terdengar sabda dari Betara Batur, meminta keduanya menghentikan pertempuran karena tidak ada gunanya.

Sabda Betara Batur, baik Panji Sakti maupun Raja Pemecutan sama-sama dianugerahi kekuatan dan kekebalan yang setara, sehingga tidak mungkin ada pemenang dalam pertarungan ini.

Betara Batur menyarankan agar mereka berdamai dan hidup sebagai saudara yang saling menolong. Mendengar sabda ini, kedua raja sepakat untuk menghentikan pertempuran.

I Gusti Ngurah Panji Sakti kemudian berkata kepada I Gusti Ngurah Pemecutan, "Hai adikku, kita disarankan oleh Betara Batur untuk tidak berperang lagi. Karena kita diberi anugerah yang sama, mulai saat ini aku tak akan menganggap dirimu sebagai musuh, dan kau juga tak akan menganggapku sebagai lawan. Antara Buleleng dan Badung tidak boleh ada perang lagi. Mulai sekarang, aku memberimu nama I Gusti Ngurah Pemecutan Sakti."

Setelah mengucapkan pesan tersebut, Panji Sakti berpamitan dan kembali ke Den Bukit. Raja Badung menyetujui kesepakatan itu dan mengucapkan selamat jalan.

Setelah Pasukan Goak dan Panji Sakti pergi, Raja Badung kembali bersama pasukan Sikep, namun sebelum itu, ia menamai tempat pertempuran tersebut sebagai "Taensiat."

Taen berarti "pernah," dan siat berarti "perang," sehingga nama itu berarti "tempat yang pernah terjadi perang." Seiring waktu, nama ini berubah menjadi "Tainsiat."

Parit tempat mengalirnya darah para prajurit yang tewas dalam pertempuran dinamai "Kaliungu," karena airnya yang bercampur darah menjadi berwarna ungu.

Sementara, tempat di mana Raja Badung memerintahkan pasukannya kembali bertempur diberi nama "Tampak Wangsul," yang artinya "tapak kaki yang kembali."  Nama ini kemudian berubah menjadi "Tampakgangsul."

Editor : Nyoman Suarna
#tampakgangsul #tainsiat #denpasar #kaliungu #sejarah #badung #Pemecutan #raja #buleleng