Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Bungkak: Buah Kelapa Muda dalam Ritual dan Pengobatan dan Makna Filosofis dalam Yadnya Umat Hindu Bali

Putu Agus Adegrantika • Selasa, 1 Oktober 2024 | 14:45 WIB

Bungkak
Bungkak

BALIEXPRESS.ID - Bagi umat Hindu Bali, Bungkak, atau buah kelapa muda, ternyata memiliki peran penting dalam pengobatan tradisional, baik secara medis (sekala) maupun non-medis (niskala).

Apa yang membuat bungkak menjadi elemen vital dalam berbagai ritual dan proses penyembuhan?

Jawabannya ternyata lebih dalam dari sekadar manfaat kesehatannya.

Bungkak dalam Pengobatan Sekala dan Niskala

Jero Dalang sekaligus tokoh masyarakat Desa Sayan, Ubud, I Made Tragia, mengungkapkan bahwa bungkak kerap digunakan dalam berbagai upacara penyucian, seperti panglukatan.

Tidak hanya untuk urusan niskala, bungkak juga berkhasiat secara sekala.

“Ketika seseorang mabuk akibat minuman keras, air bungkak dapat diminum untuk menyadarkannya,” jelas Tragia.

Bungkak bukan sekadar kelapa muda biasa. Menurut Lontar Siwa Gama, kelapa muda ini memiliki keterkaitan dengan kisah spiritual Brahma.

Tragia menjelaskan bahwa bungkak berasal dari salah satu kepala Ida Bhatara Brahma, yang terlibat dalam pertarungan kosmik melawan Sang Hyang Gana dan Bhatara Wisnu.

Legenda Dibalik Bungkak: Pertarungan Brahma dan Sang Hyang Gana

Kisah bermula ketika Brahma yang memiliki empat kepala menyembunyikan salah satunya.

Namun, Sang Hyang Gana berhasil mencuri kepala tersebut dengan tangan kiri Dewa Siwa.

Peristiwa ini membuat Brahma tidak bisa menunjukkan kepala yang hilang, hanya darah yang keluar dari bahunya.

Darah inilah yang memunculkan satus sakutus, atau 108 bhuta, yang menyerbu Sang Hyang Gana hingga ia kalah.

Sebelum Brahma dikenal sebagai Catur Muka, ia disebut Panca Brahma. Para resi besar—Korsika, Garga, Matri, Kurusya, dan Patanjala—hadir untuk menengahi.

Akibat hilangnya kepala Brahma, berbagai bencana alam terjadi, mulai dari meluapnya lautan hingga terjadinya panas yang tak tertahankan.

Akhirnya, kepala Brahma ditanam di bawah Gunung Mahameru, yang kemudian dikenal sebagai Gunung Jembada Geni. Dari sanalah pohon kelapa pertama tumbuh.

Pohon Kelapa: Pohon Kehidupan dan Ritual

Kelapa yang tumbuh dari kepala Brahma ini dikenal sebagai pohon sudamala, yang dalam bahasa Bali berarti pohon penyucian.

Tragia menjelaskan bahwa setiap bagian dari pohon kelapa memiliki fungsi dalam kehidupan dan upacara keagamaan.

Bahkan, kelapa ini menjadi simbol dari kekuatan suci dan digunakan dalam berbagai ritual penting seperti daksina, panglukatan, hingga simbolisasi para dewa.

Bungkak juga dipakai dalam pengobatan tradisional. Secara sekala, air kelapa muda dipercaya menetralkan panas tubuh, sehingga sangat bermanfaat bagi para petani yang bekerja di bawah terik matahari.

Sementara itu, secara niskala, bungkak menjadi media penyembuhan karena kekuatan spiritual yang dikandungnya.

Makna Filosofis Bungkak dalam Yadnya

Lebih dari sekadar buah, bungkak memiliki makna filosofis yang mendalam dalam ritual Hindu.

Air kelapa melambangkan sukla, atau kesucian, yang menjadi sumber kekuatan tirtha Mahamerta.

Bungkak juga digunakan untuk menyucikan Sad Ripu, enam sifat buruk manusia, serta melambangkan kekuatan Dewa Brahma dan Dewa Wisnu.

“Bungkak bukan hanya memiliki kekuatan medis, tapi juga energi kedewataan yang sangat kuat. Inilah yang membuatnya menjadi sarana utama dalam pengobatan tradisional Bali,” jelas Tragia.

Kelapa dalam Magis dan Mistik

Dalam setiap upacara Hindu, kelapa memiliki peranan magis dan mistis. Mulai dari asal-usulnya hingga penggunaannya dalam upacara, kelapa telah melalui serangkaian ritual penyucian.

Hal ini membuatnya tak hanya berfungsi secara fisik, tetapi juga secara spiritual, sehingga sering digunakan oleh balian atau praktisi kesehatan tradisional Bali.

Bungkak memang memiliki tempat istimewa dalam kebudayaan dan pengobatan Bali.

Kehadirannya tak hanya sebagai simbol suci, tetapi juga sebagai media penyembuhan yang mengandung energi positif.

Maka tak heran, bungkak terus menjadi bagian vital dalam setiap aspek kehidupan masyarakat Bali, baik di ranah sekala maupun niskala. ***

Editor : I Putu Suyatra
#bali #pengobatan #yadnya #Brahma #bungkak #Wisnu #hindu #siwa #tradisional