Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Misteri di Balik Kerasukan: Beda dengan Kerauhan, Ciri-ciri dan Cara Menanganinya, Apakah Sakral atau Gejala Psikologis?

I Putu Suyatra • Jumat, 4 Oktober 2024 | 13:50 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

BALIEXPRESS.ID - Fenomena kerasukan sering kali dianggap sakral dan dikaitkan dengan roh jahat, namun ada sudut pandang lain yang tak kalah menarik untuk dibahas.

Menurut ahli metafisika Ketut Gede Suatma Yasa, SH., M.Ag., CHt., MNNLP, yang dikenal sebagai Guru Mangku Hipno, kerasukan dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk stres atau tekanan mental.

Dalam wawancara eksklusif dengan Bali Express, Guru Mangku Hipno menjelaskan perbedaan mendalam antara "karauhan" dan "kerasukan," serta bagaimana keduanya memiliki makna spiritual yang berbeda.

Karauhan dan Kerasukan: Apa Bedanya?

Secara ontologis, karauhan dianggap sebagai peristiwa spiritual di mana Ida Bhatara (dewa) turun ke dunia dan masuk ke dalam pikiran seseorang.

Dalam kondisi ini, orang tersebut berada dalam kesadaran murni yang penuh dengan vibrasi ketuhanan.

Sifat-sifat yang muncul dari karauhan adalah kelembutan, ketenangan, serta solusi untuk masalah tanpa adanya kekerasan atau provokasi.

Sebaliknya, kerasukan, menurut Guru Mangku Hipno, terjadi ketika unsur buruk atau negatif, yang disebut bhuta, masuk ke dalam tubuh seseorang tanpa disadarinya.

Unsur negatif ini masuk melalui kaki dan naik ke tubuh bagian atas, menggantikan kesadaran asli orang tersebut atau yang dikenal dengan istilah taksu.

Pada saat inilah, kesadaran individu tergeser, dan ia tidak bisa lagi membedakan antara yang baik dan buruk.

Gejala Fisik Orang yang Kerasukan

Kerasukan sering ditandai dengan perubahan fisik yang drastis. Mata yang melotot, gerakan yang kasar, serta kekuatan yang tiba-tiba besar adalah beberapa ciri fisik yang terlihat pada seseorang yang kerasukan.

Menurut Guru Mangku, ucapan yang keluar dari orang kerasukan sering dimulai dengan kata-kata seperti "ah," "eh," "oh," atau "ih."

Ini dianggap sebagai ekspresi dari ketegangan dalam tubuh yang membutuhkan pelampiasan.

Menariknya, menurut Guru Mangku, fenomena ini tak selalu berhubungan dengan kekuatan gaib, melainkan bisa juga gejala dari penyakit mental atau psikologis yang sedang terjadi.

Kerasukan: Fenomena Metafisika atau Gangguan Psikologis?

Salah satu hal yang sering dipertanyakan adalah kekuatan fisik luar biasa yang ditunjukkan oleh orang yang kerasukan.

Menurut Guru Mangku, kekuatan ini disebabkan oleh pengerasan saraf yang terjadi selama episode kerasukan.

Pengerasan ini membuat tubuh menjadi kaku, dan tenaga yang besar pun muncul sebagai respons dari kondisi tersebut.

Ia menjelaskan bahwa situasi ini mirip dengan neurosis, di mana saraf tubuh menegang dan individu menunjukkan kekuatan yang tak biasa.

Lebih lanjut, Guru Mangku juga menjelaskan bahwa kerasukan bisa berdampak pada lingkungan sekitar, dan jika tidak segera diatasi, bisa berujung pada kerasukan massal.

Maka dari itu, penanganan cepat sangat diperlukan untuk mencegah dampak yang lebih besar.

Tiga Tingkatan Kesadaran Menurut Guru Mangku

Guru Mangku Hipno juga menjelaskan bahwa manusia memiliki tiga tingkatan kesadaran.

Pertama adalah kesadaran fisik, kedua adalah taksu atau kesadaran yang lebih tinggi, dan yang ketiga adalah nadi, yaitu kesadaran yang paling murni.

Orang yang berada dalam tingkat nadi biasanya tak bisa kerasukan, karena mereka memiliki kendali penuh atas kesadaran mereka.

Mereka tetap sadar meski berada di dimensi spiritual yang lebih halus, dan sering kali mereka menerima pesan spiritual atau pawisik dari alam gaib.

Cara Menangani Orang Kerasukan

Guru Mangku Hipno juga memberikan tips praktis untuk menyadarkan orang yang kerasukan.

Salah satu metode yang cukup efektif adalah dengan memegang leher bagian belakang orang tersebut, tepat pada bagian yang menonjol.

Menekan bagian tersebut dengan lembut bisa membantu meredakan ketegangan saraf dan membantu individu tersebut kembali sadar.

Selain itu, menjaga agar mata orang yang kerasukan tetap terbuka juga sangat penting. Jika ia menutup mata, proses penyadaran bisa berlangsung lebih lama.

Yang menarik, Guru Mangku juga menekankan pentingnya penggunaan air untuk menyadarkan orang yang kerasukan.

Menurutnya, unsur air bisa meredakan api yang sedang berkobar dalam tubuh orang tersebut, sehingga membantu proses penyadaran.

Inilah sebabnya dalam ritual sering digunakan tirtha atau air suci.

Kesimpulan: Kerasukan, Antara Dunia Spiritual dan Ilmu Psikologi

Fenomena kerasukan memang penuh misteri. Ada yang meyakini bahwa ini adalah peristiwa spiritual yang sakral, namun dari sudut pandang metafisika dan psikologi, kerasukan bisa juga disebabkan oleh ketegangan saraf atau gangguan mental.

Menyadari hal ini penting agar masyarakat bisa lebih bijaksana dalam menyikapi fenomena tersebut.

Yang jelas, kerasukan bukanlah hal yang bisa dianggap remeh, dan penanganan cepat dan tepat diperlukan untuk mencegah dampak yang lebih besar. *** 

 

Editor : I Putu Suyatra
#kesadaran #Guru Mangku Hipno #kerasukan #kerauhan #psikologis