Gamelan ini sarat akan makna magis yang tak banyak orang mengetahuinya.
Gamelan Selonding merupakan Salah satu ragam gamelan Bali yang sarat akan nilai-nilai Religi.
Gamelan selonding merupakan seperangkat alat music pukul, memiliki laras pelog saih pitu.
Gamelan ini terdiri dari bilah-bilah yang lebar dan berbahan dasar besi yang diletakkan di atas wadah gema berbentuk bak yang terbuat dari kayu.
Gamelan ini dipukul dengan panggul (seperti palu dari bahan kayu). Permainan gamelan Selonding menggunakan teknik dua tangan.
Gamelen Selonding yang dikaitkan dengan tradisi Megeret pandan (Pereng pandan) sebagai seni wali.
Megeret pandan (Pereng pandan) merupakan tradisi yang dilakukan oleh sepasang pemuda desa, saling sayat menggunakan duri - duri dari daun pandan.
Akibat sayatan duri daun pandan tersebut, akan menimbulkan luka di punggung pemuda desa.
Kepala Desa Tenganan, Ketut Sudiastika mengatakan, jika tidak ada gamelan Slonding, maka upacara tidak akan lengkap atau selesai (Shidha karya).
Di Tenganan Pagringsingan gambelan Selonding diberi nama Bhatara Bagus Selonding.
“Bhatara Bagus Selonding (Dewa Gamelan Selonding) memiliki tempat pemujaan tersendiri yang di sebut Pura merajan Selonding,” katanya.
Sifat sakral ini membuat masyarakat memberikan perlakuan khusus terhadap gamelan Selonding.
Pada masyarakat Desa Tenganan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, tidak sembarang orang yang boleh memainkan gamelan Selonding ini.
Gamelan Selonding hanya boleh dimainkan oleh orang yang berstatus sebagai Penanga (pemangku khusus gamelan Selonding) dan Pragina (penabuh) gamelan Selonding.
Kesakralan gamelan Selonding membuat masyarakat memberikan perlakuan khusus terhadapnya.
Gamelan Bhatara Bagus Selonding dalam Tradisi Megeret pandan adalah sebagai pengiring dan pengawit.
Sebelum dimulainya Megeret Pandan para Truna peserta Megeret pandan mengelilingi Desa sebanyak tiga kali, membawa Tedong dan Umbul-umbul diiringi gambelan Blaganjur dengan tujuan agar diberikan keselamatan dalam melaksanakan Megeret Pandan ini.
Para Truna menggunakan pakaian adat Tenganan (kain tenun Pegringsingan), untuk para pria hanya menggunakan sarung (kamen), selendang (saput), dan ikat kepala (udeng) tanpa baju, bertelanjang dada.
Setelah selesai mengelilingi Desa sebanyak tiga kali, kepala Desa dan ketua Juru gambel memberikan pengarahan bahwa Megeret Pandan akan segera dimulai.
Pada bagian Inilah gamelan Bhatara Bagus Selonding dipentaskan, mulai dari pementasan Gending Gaguron sebagai Pengawit atau awal dari di mulainya Megeret Pandan. Dengan diikuti para pemuda saling membagikan Tuak satu sama lainnya.
Gamelan Bhatara Bagus Selonding terus dimainkan hingga pemuda Desa pertama yang memasuki pangung Megeret Pandan ini.
Ia menambahkan, saat memasuki panggung tuak sudah dibagikan. Dengan membagikan tuak adalah sebuah cara solidaritas pemuda yang akan melaksanakan tradisi ini, deangan hati tulus dan tidak memiliki kebencian.
Baca Juga: Melalui Pemberdayaan, BRI Angkat Potensi Klaster Buah Kelengkeng di Tuban
Ketika gending Embug kelor-Kare kare mulai dimainkan peserta mulai bersiap untuk menyerang, setiap bunyi gamelan Bhatara Bagus Selonding mengeras atau Nguncab.
“Maka, para peserta saling menyerang satu sama lainnya dengan mengoreskan daun pandan agar mengenai tubuh lawannya. Begitu daun pandan berduri mendarat di badan, darah segar akan mengalir,” katanya. (dik)
Editor : I Putu Mardika