BALIEXPRESS.ID - Pelaksanaan pemuliaan Danau Batur berkaitan dengan asumsi-asumsi logis yang bersumber dari teks-teks keagamaan yang berkaitan dengan keberadaan Danau Batur.
Narasi tentang pemuliaan Danau Batur secara spesifik dijelaskan dalam Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul versi salinan yang dikoleksi beberapa tokoh masyarakat di Desa Adat Batur.
Dosen Filsafat Hindu, STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Dr. Ayu Veronika Somawati, menjelaskan hasil dari disertasinya terdapat naskah setebal 124 halaman folio disalin oleh I Nengah Sanya asal Asah Gobleg. Naskah ini menjelaskan konsep pemuliaan terhadap danau melalui konsep Catur Danu.
Menurut teks tersebut, dahulu kala Bhatara Guru menggelar yoga, kemudian muncul gundukan tanah yang semakin tinggi dan menjadilah gunung.
Setelah terciptanya gunung, Bhatara Girinata Bersama Bhatari Giriputri menggelar yoga kembali untuk menciptakan Catur Danu di Pulau Bali.
“Teks lain yang berkaitan dengan pemuliaan Danau Batur adalah Purana Pura Hulundanu Batur Pradesa Songan Kintamani Bangli,” jelasnya.
Purana Pura Hulundanu Batur Pradesa Songan Kintamani Bangli merupakan saduran dari purana-purana yang telah ada sebelumnya.
Serta memuat mengenai proses penciptaan pada desa (wamsa), struktur (wewidangan) pura, tahap-tahap upacara dan jenis-jenis upacara serta perilaku keagamaan yang berlangsung di pura tersebut.
Purana ini juga disertai dengan sanksi-sanksi bagi orang yang berani melanggar sebagian atau keseluruhan isi purana tersebut.
Kutipan Purana Pura Hulundanu Batur Pradesa Songan Kintamani Bangli menunjukkan bahwa masyarakat Bali secara umum memiliki kewajiban untuk selalu ingat. Serta memohon kehidupan di Hulundanu (Danau Batur) mengingat disanalah sumber kehidupan tersebut.
“Dalam konteks ini, sumber kehidupan yang dimaksud dikaitkan dengan keberadaan Danau Batur sebagai salah satu sumber air yang mengairi sawah-sawah yang ada di Bali dan menjadi puncak dari subak itu sendiri,” tegas Vero sapaan akrabnya. ***
Editor : Putu Agus Adegrantika