Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Nama Desa Lebih Berasal dari Perahu Gajah Mada, Dipakai Tempat Berlabuh Raja Sri Kresna Kepakisan hingga Dang Hyang Nirartha: Begini Sejarahnya

Nyoman Suarna • Selasa, 8 Oktober 2024 | 01:22 WIB
DESA LEBIH: Nama Desa Lebih, Kecamatan Gianyar, Kabupaten Gianyar diperkirakan bersumber dari nama perahu yang ditumpangi Gajah Mada saat ekspedisi ke Bali.
DESA LEBIH: Nama Desa Lebih, Kecamatan Gianyar, Kabupaten Gianyar diperkirakan bersumber dari nama perahu yang ditumpangi Gajah Mada saat ekspedisi ke Bali.

BALIEXPRESS.ID - Nama Desa Lebih, Kecamatan Gianyar, Kabupaten Gianyar  memiliki latar belakang sejarah yang diyakini berasal dari cerita turun-temurun di masyarakat.

Meskipun belum ada lontar atau dokumen tertulis yang menjadi dasar, sejarah desa ini dapat ditelusuri melalui kisah-kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dikutif dari Sejarah Desa Lebih, kisahnya berawal ketika pada abad ke-13 Kerajaan Bedahulu diserang oleh pasukan Majapahit, di bawah pimpinan Patih Gajah Mada.

Serangan dilakukan dari 2 arah yaitu dari arah Selatan yang dipimpin oleh Patih Gajah Mada dan dari arah Utara dipimpin oleh Arya Damar.

Dalam serangan ini Patih Pasung Grigis dapat dikalahkan oleh Arya Damar. Sedangkan Patih Kebo Iwa dikalahkan oleh Patih Gajah Mada dengan tipu muslihatnya.

Dengan kalahnya Bedahulu, secara resmi Bali dibawah kekuasaan Majapahit pada tahun 1343 M.

Pada Waktu Patih Gajah Mada melakukan penyerangan ke Bedahulu, dari Majapahit menaiki sebuah rangkung (perahu).

Perahu tersebut berlabuh di pantai dekat Blahbatuh. Saking seringnya Gajah Mada datang bersama anak buahnya dengan menaiki rangkung, lama-kelamaan tempat itu disebut Rangkung.

Setelah Bedahulu/Bali resmi menjadi jajahan Majapahit, maka pada tahun 1350 M, Patih Gajah Mada mengirimkan seorang adipati ke Bali.

Adipati tersebut merupakan putra dari Brahmana Kepakisan bergelar Sri Kresna Kepakisan, yang berkedudukan di Samprangan, dikenal dengan nama Dalem Ketut Ngelesir (tahun 1350).

Setelah beberapa tahun memerintah, ternyata tidak diterima oleh orang-orang Bali Aga.

Karena itu, dia menghadap Gajah Mada ke Majapahit untuk menyerahkan kekuasaan di Bali. Namun Gajah Mada meyakinkannya dengan memberikan sebilah keris bernama Durga Dungkul.

Dalam perjalanan pulang dari Majapahit, rombonganmenaiki perahu/rangkung dari Bubat melewati Jembrana, Puruncak, Sawah-sawah Bongkak, Tuban, Kekalahan, Kedonganan, Intaran (Sanur) dan terus menuju pesisir Rangkung atau Desa Lebih. Dari tempat ini rombongan berjalan kaki menuju ke Samprangan.

Dari kisah tersebut, diduga nama perahu/rangkung yang dibawa pasukan Patih Gajah Mada, kemudian dijadikan nama Desa Rangkung memiliki arti langkung atau lebih. Setelah menjadi pemukiman warga, desa tersebut diberinama Desa Lebih.

Pada waktu pemerintahan Dalem Waturenggong, datanglah Ida Pedanda Sakti wawu Rawuh yang dikenal dengan sebutan Danghyang Nirata, pada Tahun 1489 M. Dalam perjalanan beliau untuk menyelamatkan Bali, beliau mengelilingi Bali, di antaranya Rambut Siwi, Tanah Lot, Uluwatu, Masceti  dan akhirnya tiba di Rangkung atau Desa Lebih.

Editor : Nyoman Suarna
#gajah mada #Dang Hyang Nirartha #Sri Kresna Kepakisan #sejarah #ekspedisi #desa lebih #perahu