BALIEXPRESS.ID - Desa Adat Tenganan Pegringsingan, yang terletak di Kecamatan Manggis, Karangasem, dikenal sebagai salah satu desa yang kaya akan tradisi dan budaya Hindu Bali.
Salah satu daya tarik utama di desa ini adalah sebuah pura yang memiliki keunikan tersendiri, baik dari segi arsitektur maupun sejarahnya.
Pura ini bernama Pura Kandang. Namun, apa sebenarnya yang membuat pura ini begitu istimewa?
Pura Kandang: Jejak Sakral di Timur Laut Desa
Pura Kandang terletak di bagian timur laut Desa Tenganan Pegringsingan. Berbeda dengan pura-pura lainnya, di pura ini hanya terdapat satu pelinggih yang dikenal dengan sebutan pelinggih bebaturan.
Menurut salah satu tokoh adat desa, I Wayan Sudarsana, pelinggih ini relatif baru.
Sebelumnya, di tempat ini tidak ada bangunan pelinggih. Persembahyangan dilakukan di bawah pohon bunga jepun, dan saat piodalan, banten akan diletakkan di bawah pohon tersebut.
Hingga kini, pohon bunga jepun masih menjadi bagian tak terpisahkan dari Pura Kandang.
"Entah bagaimana awalnya, pelinggih bebaturan ini dibangun, dan terakhir kali direhabilitasi pada tahun 1990-an," ungkap Sudarsana.
Makna Filosofis di Balik Nama Pura Kandang
Nama Pura Kandang memiliki makna yang mendalam. Secara harfiah, "pura" berarti tempat suci dalam Agama Hindu, sementara "kandang" dalam bahasa Indonesia berarti tempat memelihara hewan ternak.
Pura Kandang ini erat kaitannya dengan Pura Raja Purana, yang juga terletak di Desa Tenganan Pegringsingan, serta memiliki hubungan kuat dengan keberadaan kerbau di desa tersebut.
Di desa ini, kerbau atau yang disebut ombo oleh penduduk setempat, dianggap sebagai hewan suci.
Kerbau-kerbau ini dibiarkan hidup liar dan harus dipelihara oleh warga desa.
Setiap bulan Sasih Kalima dalam kalender Tenganan Pegringsingan, bersamaan dengan rangkaian Usaba Sambah, diadakan upacara sakral yang disebut Mati Ombo Sanghyang.
Sebelum kerbau disembelih melalui prosesi khusus, kerbau tersebut harus dibawa terlebih dahulu ke Pura Raja Purana dan Pura Kandang.
Menurut Sudarsana, secara niskala (spiritual), kandang kerbau di Desa Tenganan ini terletak di Pura Kandang, sementara secara spiritual pengangonnya berada di Pura Raja Purana.
Piodalan di Pura Kandang: Tumpek Uye dan Ritual Siap Ambangan
Setiap enam bulan sekali, piodalan atau upacara di Pura Kandang digelar bertepatan dengan Tumpek Uye atau yang juga dikenal sebagai Tumpek Kandang.
Pada upacara ini, yang bertanggungjawab menggelarnya adalah krama desa dari soroh pasek.
Salah satu ritual yang menarik perhatian adalah penggunaan siap ambangan, yaitu tiga ekor ayam yang digunakan sebagai sarana upacara.
Ayam-ayam tersebut harus ditangkap dari desa oleh saye (penugasan desa), di mana ayam yang berkeliaran bebas di desa boleh ditangkap, asalkan memenuhi syarat: tidak cacat, seperti bulu dimpil (cacat), godeg (cacat telinga), atau jangar empuk (cacat jengger).
Menariknya, ayam yang ditangkap haruslah ayam yang masih bersama induknya, tetapi tidak boleh terlalu kecil.
Induk ayam tersebut minimal harus memiliki tiga ekor anak, dan satu ekor anak ayam boleh diambil.
Jika ayam yang sesuai kriteria sulit ditemukan, warga diperbolehkan membeli ayam di pasar, namun hanya setengah harga yang akan dibayar oleh desa, sisanya harus ditanggung oleh saye sebagai bentuk sanksi.
Misteri di Balik Siap Ambangan
Meskipun ritual siap ambangan menjadi bagian penting dari upacara di Pura Kandang, Sudarsana tidak merinci makna filosofis dari ritual ini.
Namun, proses penangkapan ayam ini sepenuhnya diserahkan kepada soroh pasek, yang bertanggung jawab atas kelangsungan ritual.
Pura Kandang dengan segala kekayaan ritual dan keunikan sejarahnya, menjadi salah satu simbol kuat kearifan lokal dan spiritualitas masyarakat Desa Adat Tenganan Pegringsingan.
Setiap upacara yang digelar di pura ini menyimpan makna mendalam dan menjadi pengingat bahwa harmoni antara manusia, alam, dan hewan suci seperti kerbau, sangat dijaga di desa yang penuh tradisi ini. ***
Editor : I Putu Suyatra