BALIEXPRESS.ID - Berbicara tentang keberadaan Desa Buduk yang terletak di Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, sangat erat kaitannya dengan prasasti dan babad Pasek Badak.
Keberadaan Desa Buduk pertama kali ditemukan dalam Babad Sira Pangeran Pasek Badak dan Kidung Yuda Manguwi.
Babad dan kidung ini dimiliki oleh Sira Anwam Kertadana, di Utaraning Wreksa, wilayah Mengapura atau Mengwi, Badung.
Ditranslate dari Sejarah Desa Buduk di situs desabuduk.badungkab.go.id, dalam babad tersebut disebutkan tentang kedatangan para arya ke Bali dari Jawa, serta para pengikut mereka yang memiliki keahlian masing-masing.
Ketika Bali sudah dikuasai oleh para arya dari Jawa, penduduk asli Bali tidak dapat mengikuti, terutama pada masa pemerintahan Dalem Kresna Kepakisan.
Banyak orang Bali asli yang tinggal di pegunungan dan danau, sebagian besar memilih untuk mengisolasi diri karena tidak ingin diperintah oleh orang luar Bali.
Karena itu, Ida Dalem pergi ke Majapahit untuk menghadap Raja Hayam Wuruk (1350-1389 Masehi).
Di sana ia menerima anugerah kerajaan, pakaian keraton, dan senjata untuk menaklukkan musuh yang disebut Ki Bujaga Astra dan Ki Ganja Dungkul, sebagai alat untuk mengendalikan Bali.
Akibatnya, hati orang Bali semakin takut, terutama karena pemerintahan ini juga membangun Parahyangan Pura Dasar Gelgel sebagai tempat ibadah untuk memperkuat agama orang Bali dan para arya yang datang dari Jawa.
Dikisahkan kemudian, ketika orang Bali asli tidak tunduk kepada raja yang berkuasa, Ida Dalem meminta bantuan ke Majapahit untuk mengirim "panglima perang" guna menumpas orang-orang yang dianggap durhaka.
Raja Majapahit kemudian mengirimkan keturunan Pangeran Singosari Mahisa Wong Ateleng yang berjumlah empat orang, yaitu Pangeran Ki Bondan Pangasih yang kemudian tinggal di wilayah Kebo Badak.
Pangeran Kertalangu menempati kedudukan di Wedus Ireng (kambing selem). Sira Pangeran Kertajiwa menempati kedudukan di Banteng Jagiran, sedangkan Sira Pangeran Kertajaya menempati kedudukan di Mrega (macan).
Keempat pangeran ini sangat setia kepada Raja Dalem Ketut. Karena kekuasaan, kekuatan, dan kebijaksanaan para pangeran ini, semua orang Bali Aga akhirnya tunduk kepada Ida Dalem.
Hal ini membuat para Patih, Bahudanda, Punggawa, dan Manca Ida Dalem merasa iri terhadap keempat pangeran ini dan merencanakan untuk menyingkirkan mereka dari pusat kerajaan di Semarapura.
Namun hal tersebut sampai ke telinga Ida Dalem, yang kemudian meminta mereke menemui I Gusti Ngurah Batutumpeng, yang dikenal sebagai Ki Gusti Ngurah Silapenek di Kekeran, Mengwi.
Keempat pangeran ini pergi ke Mangupura, menuju wilayah Karang Dalem bersama 400 pengiring. Mereka melakukan perjalanan mengikuti arus samudera.
Mereka tiba di ujung selatan wilayah Badung, di mana Pangeran Kertajaya dan pengiringnya diminta untuk menghancurkan musuh di tempat tersebut.
Tempat tersebut disebut Mara Gaya, yang sekarang dikenal sebagai Mergaya, karena Pangeran Kertajaya menempati kedudukan di Merga (macan).
Kemudian Pangeran Kertalangu dan 100 pengiringnya melanjutkan perjalanan ke arah utara hingga tiba Pakambingan. Para pengiringnya dikenal sebagai Pasek Pakambingan.
Pangeran Kertajiwa bersama 100 pengiring berjalan menuju Sempidi. Para pengikutnya dikenal sebagai Pasek Sempidi atau Kertajiwa.
Kini diceritakan bahwa Ki Bondan Pangasih dan pengiringnya melanjutkan perjalanan menuju Karang Dalem.
Setelah tinggal di Karang Dalem, Bondan Pangasih memiliki seorang putra lelaki diberi nama Pangeran Pasek Badak. Tempat ini selanjutnya disebut Desa Buduk.
Ketika Bondan Pangasih wafat, Ki Pasek Badak memimpin wilayah Buduk.
Editor : Nyoman Suarna