Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Rahina Budha Wage Klawu: Hari Istimewa untuk Pemujaan Uang dan Rezeki bagi Umat Hindu Bali, Makna di Balik Mitos

I Putu Suyatra • Kamis, 10 Oktober 2024 | 00:40 WIB
Arca Bhatari Rambut Sedana sebagai simbol kemakmuran (Ist)
Arca Bhatari Rambut Sedana sebagai simbol kemakmuran (Ist)

BALIEXPRESS.ID - Bali selalu dikenal dengan kekayaan adat dan ketaatan masyarakatnya dalam menjalankan ritual agama Hindu.

Di balik setiap ritual, terdapat makna mendalam yang menjadi bagian dari keseharian masyarakat Hindu di pulau dewata ini.

Salah satunya adalah Rahina Budha Wage Klawu, hari yang didedikasikan khusus untuk pemujaan kepada Ida Bhatara Sri Sedana, juga dikenal sebagai Dewa Rezeki, perwujudan Dewi Laksmi.

Tradisi Bhuda Wage Klawu: Menghormati Uang sebagai Sumber Rezeki

Budaya Bali tak lepas dari warisan animisme yang masih kental. Tradisi ini menyatu dengan ajaran Hindu, yang menjadikan setiap elemen kehidupan dihormati, termasuk uang.

Dalam ajaran Tri Hita Karana, keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam sangat dijaga.

Sehingga, tak heran jika uang pun diperlakukan dengan penuh penghormatan dalam upacara Rahina Budha Wage Klawu.

Hari ini dianggap sebagai otonan uang, atau ulang tahun uang, yang biasanya jatuh setiap 210 hari.

Pada hari ini, masyarakat Hindu di Bali akan menggelar upacara khusus sebagai bentuk syukur atas rezeki yang telah diterima dan memohon kelancaran untuk masa mendatang.

Mitos di Balik Bhuda Wage Klawu: Jangan Belanjakan Uang!

Salah satu mitos yang berkembang dalam tradisi ini adalah larangan untuk membelanjakan uang pada hari Bhuda Wage Klawu.

Mitos ini diyakini sebagai bentuk penghormatan, di mana uang tidak seharusnya digunakan pada hari pemujaannya. Namun, apakah benar demikian?

Dr. I Gede Sutarya, dosen dari UHN Sugriwa Denpasar, mengungkapkan bahwa mitos ini sebenarnya hanya bertujuan untuk mengingatkan masyarakat agar tidak boros, terutama pada hari yang dianggap sebagai hari suci untuk uang.

"Mitos itu hanya pengingat, agar kita bijak dalam menggunakan uang. Sebenarnya, peringatan ini berlaku setiap hari, bukan hanya saat Bhuda Wage Klawu," jelasnya.

Pemujaan di Pura Melanting dan Upacara di Rumah

Peringatan Rahina Budha Wage Klawu biasanya dipusatkan di Pura Melanting, pura yang khusus didedikasikan untuk para pedagang dan pemilik usaha.

Di sini, upacara besar dilakukan sebagai bentuk syukur atas rezeki yang telah diperoleh.

Tidak hanya di pura, masyarakat Hindu juga melakukan upacara kecil di rumah masing-masing dengan menghaturkan canang dan bebantenan di atas uang atau kotak uang sebagai simbol penghormatan kepada Ida Bhatara Sri Sedana.

Di berbagai pasar dan tempat-tempat yang terkait dengan perputaran uang, pemujaan juga dilakukan untuk menjaga kelancaran rezeki.

Upacara ini menunjukkan betapa uang, sebagai sumber kehidupan, memiliki tempat yang istimewa dalam sistem kepercayaan masyarakat Bali.

Makna di Hari Bhuda Wage Klawu

Menurut lontar Sundarigama, persembahan yang biasanya dihaturkan pada hari Bhuda Wage Klawu bisa berupa canang, pajati, hingga tumpeng tujuh yang disesuaikan dengan adat setempat (desa kalapatra).

Persembahan ini menjadi simbol kesucian dan syukur yang dipanjatkan kepada Dewi Laksmi, yang juga dikenal sebagai Dewi Keberuntungan.

Namun, menariknya, perayaan Bhuda Wage Klawu di Bali lebih dikenal dan dirayakan sebagai pemujaan kepada Ida Bhatara Sri Sedana.

 

Baca Juga: Sejarah Desa Bongkasa Badung Terkait dengan Kisah Balian Jero Ketut Tangsub Sembuhkan Istri Raja Mengwi: Begini Ceritanya

Padahal, menurut Dr. Sutarya, sebenarnya perayaan kepada Dewi Laksmi secara khusus jatuh pada Sukra Umanis Merakih.

"Di Bali, perayaan ini lebih terkenal pada Budha Wage Klawu karena terkait dengan piodalan di Pura Dalem Ped Nusa Penida," tambahnya.

Pura Dalem Ped di Nusa Penida sendiri dikenal sebagai tempat suci bagi yang sedang mencari kesembuhan atau keberkahan dalam bentuk rezeki.

Di sinilah keyakinan akan kemurahan Ida Bhatara Sri Sedana semakin kuat, terutama bagi mereka yang berharap rezeki melimpah.

Menjaga Keharmonisan dengan Alam dan Sesama

Rahina Budha Wage Klawu bukan hanya sekadar hari pemujaan uang, tetapi juga refleksi dari keseimbangan hidup yang dipegang erat oleh masyarakat Bali.

Seperti yang diajarkan dalam Tri Hita Karana, hubungan harmonis dengan sesama, alam, dan Tuhan adalah kunci kebahagiaan dan kelancaran rezeki.

Dengan melaksanakan upacara ini, masyarakat Bali terus menjaga tradisi dan keyakinan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Apakah benar Anda tidak boleh membelanjakan uang di hari ini? Atau, ini sekadar mitos yang mengajarkan kebijaksanaan dalam menggunakan rezeki yang ada?

Jawabannya, mungkin keduanya benar, tergantung dari bagaimana kita memahami makna di balik setiap tradisi. *** 

 

Editor : I Putu Suyatra
#uang #mitos #Tri Hita Karana #dewi laksmi #Ida Bhatara Sri Sedana