Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Kerajaan Mengwi: Sebelumnya Bernama Mangopura, Didirikan Gusti Agung Putu Lantaran Pawisik di Pura Puncak Mangu

Nyoman Suarna • Kamis, 10 Oktober 2024 | 22:53 WIB
PURA TAMAN AYUN: Salah satu bukti sejarah peninggalan Kerajaan Mengwi yang didirikan Gusti Agung Putu.
PURA TAMAN AYUN: Salah satu bukti sejarah peninggalan Kerajaan Mengwi yang didirikan Gusti Agung Putu.

BALIEXPRESS.ID - Kerajaan Mengwi merupakan salah satu kerajaan terbesar di Bali. Keberadaan Kerajaan Mengwi berkaitan erat dengan sosok I Gusti Agung Putu, seorang pemimpin spiritual sekaligus pendiri kerajaan.

Menurut menurut budayawan I Gusti Agung Ngurah Harta yang sempat diwawancarai Bali Express, kehadiran Kerajaan Mengwi tidak terlepas dari perjalanan sakral I Gusti Agung Putu yang memperoleh kesaktian luar biasa setelah bertapa di Pura Puncak Mangu.

Kisah ini, menurut Ngurah Harta, tertuang dalam Babad Mengwi, sebuah literatur penting yang mencatat sejarah dan asal-usul kerajaan tersebut.

Sebelum Kerajaan Mengwi berdiri, I Gusti Agung Putu menerima pawisik (wahyu) saat berada di Pura Taman Sari.

Pura ini terletak di bagian selatan dari Pura Taman Ayun, yang kelak menjadi salah satu pura penting dalam sejarah Kerajaan Mengwi.

Pawisik tersebut menyampaikan kepada I Gusti Agung Putu harus melakukan pertapaan di Pura Puncak Mangu.

Setelah menjalani pertapaan, I Gusti Agung Putu dikaruniai kesaktian yang kelak menjadi fondasi untuk mendirikan kerajaan.

Dengan kesaktian yang diperolehnya dari Pura Puncak Mangu, I Gusti Agung Putu mulai memperluas pengaruhnya di wilayah Bali.

Kesaktiannya memberikan kekuatan politik dan militer yang membuatnya mampu menguasai berbagai daerah di Bali, bahkan sampai ke Blambangan di Jawa Timur.

Pada awalnya kerajaan yang didirikannya dikenal dengan nama Kerajaan Mangopura, yang secara harfiah berarti "Kota yang Mulia."

Seiring dengan pertumbuhan dan pengaruhnya yang semakin besar, nama kerajaan ini kemudian berkembang menjadi Kerajaan Mengwi.

Baca Juga: Lomba Cerdas Cermat Konservasi Meriahkan Nusa Penida Festival 2024

 Kerajaan Mengwi pada masa itu menjadi salah satu kekuatan utama di Bali, dengan wilayah kekuasaannya yang mencakup area yang sangat luas.

Menurut catatan, wilayah timur kerajaan ini berbatasan dengan Tegal Arum (yang kini dikenal sebagai Banjarangkan), sementara di bagian selatan, kekuasaannya mencapai Uluwatu.

Di utara, Kerajaan Mengwi berbatasan dengan Desa Penelokan di Kintamani, dan di bagian barat, kekuasaan kerajaan ini meluas hingga ke Blambangan, Jawa Timur.

Keberhasilan dalam memperluas wilayah ini menjadikan I Gusti Agung Putu tidak hanya dikenal dengan gelar I Gusti Agung Mangupura, tetapi juga dianugerahi gelar Cokorda Sakti Blambangan, yang menunjukkan pengaruhnya hingga ke luar Bali.

Jejak kekuasaan Kerajaan Mengwi di Blambangan masih bisa ditemukan hingga hari ini dalam bentuk prasasti dan peninggalan sejarah lainnya.

Hal ini memperkuat fakta bahwa Kerajaan Mengwi, di bawah kepemimpinan I Gusti Agung Putu, tidak hanya menjadi kerajaan besar di Bali, tetapi juga memainkan peran penting dalam sejarah politik di wilayah yang lebih luas.

Tidak hanya memiliki kekuatan militer, Kerajaan Mengwi juga menjadi pusat spiritual dan kebudayaan yang penting.

Salah satu warisan spiritual terbesar dari masa pemerintahan I Gusti Agung Putu adalah pembangunan Pura Taman Ayun.

Pura ini didirikan sekitar tahun 1710, pada masa pemerintahan I Gusti Agung Putu yang juga dikenal sebagai Cokorda Sakti Blambangan.

Pura Taman Ayun dibangun sebagai pura paibon (pura ibu) bagi keluarga Kerajaan Mengwi dan menjadi tempat persembahyangan yang sangat sakral bagi mereka.

Pura Taman Ayun tidak hanya penting bagi keluarga kerajaan, tetapi juga bagi masyarakat luas.

Hingga hari ini, pura tersebut masih berfungsi sebagai tempat ibadah utama dan menjadi simbol kuat dari kebesaran Kerajaan Mengwi di masa lalu.

Baca Juga: Undiksha Terpilih Sebagai Tuan Rumah Konaspi XII Tahun 2026

Arsitektur pura ini juga mencerminkan kekayaan budaya dan spiritual Bali pada masa pemerintahan I Gusti Agung Putu.

Selama lebih dari satu abad, Kerajaan Mengwi menikmati kejayaannya sebagai salah satu kerajaan terbesar di Bali.

Namun, memasuki akhir abad ke-19, kerajaan ini mulai mengalami kemunduran.

Salah satu faktor utama yang menyebabkan kemunduran ini adalah kekalahan dalam berbagai peperangan dengan kerajaan-kerajaan tetangga, seperti Kerajaan Gianyar, Kerajaan Badung, dan Kerajaan Bangli.

Kekalahan pertama yang dialami Kerajaan Mengwi adalah ketika wilayah Kedisan di Desa Tegallalang, Gianyar, dicaplok oleh Kerajaan Gianyar.

Setelah banyak wilayah terlepas, kekuatan Kerajaan Mengwi semakin melemah. Pada akhirnya, pada tahun 1891, Kerajaan Mengwi secara resmi ditaklukkan oleh Kerajaan Badung.

Wilayah Mengwi pun kemudian menjadi bagian dari Kabupaten Badung yang kita kenal sekarang, dengan Desa Mengwi sebagai salah satu kecamatannya.

Meskipun Kerajaan Mengwi mengalami kemunduran dan akhirnya menjadi bagian dari Kerajaan Badung, jejak kekuasaan dan kebudayaan yang ditinggalkan oleh I Gusti Agung Putu masih sangat terasa hingga hari ini.

Pura Taman Ayun tetap menjadi pusat spiritual yang penting bagi masyarakat Bali, sementara sejarah Kerajaan Mengwi terus dikenang sebagai salah satu bab penting dalam sejarah Bali.

Editor : Nyoman Suarna
#mangopura #Pura Puncak Mangu #sejarah #kerajaan mengwi #gusti agung putu