Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Umat Hindu wajib Tahu, Ini makna Bale Gading saat Metatah, Lambang Stana Sang Hyang Semara Ratih

I Putu Mardika • Sabtu, 12 Oktober 2024 | 04:30 WIB

penggunaan Bale Gading saat upacara metatah
penggunaan Bale Gading saat upacara metatah
BALIEXPRESS.ID-Bale Gading memiliki peran penting dalam ritual potong gigi sebagai tempat bersthananya Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujud-Nya sebagai Sang Hyang Semara Ratih. Dalam upacara ini, diperlukan berbagai sarana seperti banten dan Bale Gading, yang menjadi simbol vital di dalam prosesi tersebut.

Menurut Nyoman Ariyoga, dosen Pendidikan Agama Hindu di STAHN Mpu Kuturan, sarana utama dalam ritual potong gigi meliputi banten di Sanggah, Bale Gading, banten pemelaspas, serta banten paningkeban.

Bale Gading yang berwarna kuning atau gading merupakan simbol kedewasaan, sehingga sarana ini sangat penting dan wajib ada dalam upacara.

Bale Gading dibuat dari bambu gading dan dihias dengan berbagai perlengkapan berwarna kuning, mencerminkan warna gading sebagai simbol transisi dari masa muda menuju kedewasaan.

Bentuknya menyerupai rumah kecil dengan atap segitiga yang dihias dengan bunga kamboja, cempaka, dan gumitir, serta dilapisi dengan kain berwarna gading.

Bale Gading melambangkan stana dari Sang Hyang Semara Ratih, yang diyakini memberikan kekuatan cinta kasih suci kepada umat manusia, terutama kepada remaja yang menjalani upacara ini.

Baca Juga: Yuk Intip Ada promo Apa Saja di Mega Sales di Astra Motor

Bale Gading ditempatkan di hulu lokasi upacara, disertai dengan banten daksina sebagai tempat bersthananya Sang Hyang Semara Ratih.

Upacara potong gigi ini juga melibatkan pemujaan kepada Sang Hyang Surya sebagai saksi, Sang Hyang Semara Ratih untuk memohon cinta kasih yang suci, serta Bhatara Kawitan untuk memohon restu sebelum melanjutkan ke jenjang kehidupan berikutnya, yaitu perkawinan.

Berbagai sarana persembahan disiapkan di Bale Gading, antara lain banten peras ajuman daksina suci, canang burat wangi, canang sari dengan hiasan kekiping, pisang mas, nyah-nyah gula kelapa, dan geti-geti.

Menurut Nyoman Ariyoga, terdapat juga kelapa gading muda (bungkak/klungah) yang dioleskan wewangian kasturi dan dihias dengan gambar Semara Ratih, diletakkan di dalam bokor yang dilapisi kain putih atau kuning.

Selain itu, periuk atau sangku berisi air dan bunga, serta rantasan kain putih-kuning juga ditempatkan di Bale Gading.

"Peras ajuman daksina suci berfungsi sebagai tempat persemayaman Ida Sang Hyang Semara Ratih di Bale Gading. Sementara itu, bungkak kelapa gading yang diberi kasturi digunakan sebagai wadah untuk ludah dan air kumur orang yang menjalani upacara potong gigi. Setelah upacara selesai, bungkak tersebut ditanam di pintu keluar merajan atau sanggah keluarga terkait," jelasnya.

Alasan mengapa bungkak tidak ditanam di belakang Sanggah Kemulan adalah karena ludah dan air kumur dianggap kotor.

Sedangkan sangku berisi air dan bunga melambangkan tirta yang diberikan oleh Sang Hyang Semara Ratih dan digunakan sebelum prosesi potong gigi dimulai.

Berbagai perlengkapan lain dalam upacara potong gigi juga menggunakan simbol-simbol Ida Sang Hyang Semara Ratih, seperti tikar bergambar Semara Ratih yang menjadi alas saat upacara. Simbol-simbol ini diyakini memberikan kekuatan dan tuntunan dalam pelaksanaan upacara maupun dalam kehidupan sehari-hari menuju kesucian dan tingkat kehidupan yang lebih tinggi.

"Anugerah yang diharapkan dari Ida Sang Hyang Semara Ratih adalah kekuatan cinta kasih bagi individu yang menjalani upacara potong gigi, sebagai persiapan menuju jenjang kehidupan berikutnya, yaitu kehidupan suami-istri," tutupnya. (dik)

 

 

Editor : I Putu Mardika
#bale gading #hindu bali #Sarana #METATAH