Kelian Desa Adat Tigawasa, Made Sudarmayasa mengatakan Tari Ijang Kidung Keli merupakan tarian yang dipentaskan pada saat Saba Kuningan. Tarian ini berdasarkan cerita para pendahulunya tidak lepas dari cerita Itihasa.
Dimana, Ida Bhatari Uma dikutuk oleh Siwa menjadi seorang raksasa. Yang kemudian raksasa tersebut turun ke marcapada dengan membuat kekacauan dan kerusakan yaitu berupa wabah penyakit yang menyebabkan banyak orang yang meninggal dunia.
Oleh karena kutukan dewa Siwa tersebut, maka para dewa atau Sang Hyang Tiga Sakti hendak menyelamatkan dunia dari wabah tersebut.
Sang Hyang Tiga Sakti turun ke marcapada menciptakan tari-tarian, Bhatara Brahma menciptakan topeng, Bhatara Wisnu menciptakan tari-tarian seperti tari rejang dan tari baris, Bhatara Siwa menciptakan topeng rangda/barong agar bisa menenangkan Bhatari Uma dari kemarahannya.
Baca Juga: Puri-puri di Klungkung Bersatu, Deklarasikan Dukungan untuk Paslon Koster-Giri dan Satria-Tjok Surya
Cerita tersebut berkaitan juga dengan kedatangan raja Sri Jaya Kasunu. Pada saat Sri Jaya Kasunu menjadi raja di Bali hanya berselang 10 tahun setelah ayahnya yaitu Danadiraja meninggal pada tahun 1204.
Pamannya juga meninggal karena tidak menghiraukan atau mengadakan upacara yang ada di Bali.
Maka dari itu putra mahkota yaitu Sri Jaya Kasunu pergi ke tengah hutan untuk melakukan sebuah pertapaan.
Setelah 10 tahun berlalu, yaitu tepatnya tahun 1204 pada saat itu Ia mendapatkan petunjuk dari para dewa agar Sri Jaya Kasunu mengadakan upacara hari raya galungan, kuningan dan pegat uwakan.
“Dari penuturan tetua adat secara turun temurun maka di desa Tigawasa ditarikanlah Tari Ijang Kidung Keli yang mana kata kidung artinya nyanyian dan keli artinya manis. Jadi Tari Ijang Kidung Keli bertujuan untuk menutup daripada rangkaian upacara saba kuningan yang telah dilakukan dengan sesuatu yang manis yaitu berupa tarian yang ditarikan oleh Wanita”.
Tari Ijang Kidung Keli sebut Sudarmayasa dipercaya sebagai tari sakral oleh masyarakat, karena sebagai pengiring upacara yaitu sebagai penutup upacara saba Kuningan Nadi.
Baca Juga: Erick Thohir: Kevin Diks Belum Pasti Debut Lawan Jepang dan Arab Saudi, Tergantung DPR yang Baru!
Oleh karena tari ini adalah salah satu tradisi yang sarat dengan makna yang terkandung di dalamnya, maka masyarakat masih menjaganya dengan tetap mementaskannya sampai saat ini.
Ia mengatakan, pada umumnya Galungan atau Kuningan disebut nadi apabila bertepatan dengan hari raya purnama.
Tetapi berbeda di desa Adat Tigawasa. Galungan atau Kuningan disebut nadi apabila menuju penanggal bulan atau padewasan.
Yaitu pada saat suklapaksa atau pada saat setelah tilem penanggal bulan, pas ada hari raya kuningan pada saat itu barulah merayakan kuningan nadi.
“Tarian ini sangat disakralkan dan selalu ada dalam kegiatan saba kuningan nadi yang ditarikan oleh beberapa orang dari masyarakat yang ingin ngaturang ngayah dan bhakti kepada Ida Bhatara Sesuhunan Pura Desa. Karena didasari ngayah, penari selalu bersyukur karena tidak pernah mengalami hal-hal yang aneh pada saat setelah menari” paparnya.
Para penari Tari Ijang Kidung Keli adalah seorang wanita dari berbagai kalangan. Penarinya menggunakan pakaian atau busana seperti wanita ke Pura pada umumnya, yaitu kebaya, kamen, selendang dan rambut diikat rapi.
Dalam pementasan, penari tidak menggunakan tata rias wajah.
Karena hal yang utama berlandaskan ketulusan sembah bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Para penarinya pun boleh siapa saja.
Ia menambahkan yang menarikannya tidak ditunjuk.
Tetapi pada saat sudah waktunya untuk mementaskan Tari Ijang Kidung Keli, akan diumumkan kepada masyarakat khususnya para wanita yang mau menari.
“Kalau upacaranya sudah selesai, baru tarian Ijang Kidung Keli dipentaskan untuk menutup upacara. Jadi penarinya itu bisa dikatakan dari kalangan siapa saja, yang penting menarikannya penuh tulus iklas” katanya.
Pementasan Tari Ijang Kidung Keli dilaksanakan di Pura Desa Adat Tigawasa. Dengan posisi penari menghadap ke jeroan pura atau bagian Utama Mandala.
Baca Juga: Kevin Diks Kagum Kualitas Rizky Ridho, Minta Bek Timnas Indonesia Itu Main di Eropa
Tari Ijang Kidung Keli di Desa Adat Tigawasa ditarikan dibagian paling dalam yang disebut Jeroan Pura. Pementasan tersebut disaksikan langsung oleh masyarakat Desa Adat Tigawasa.
Perayaan Saba Kuningan di Tigawasa berlangsung selama dua hari dua malam. Dimana pada hari pertama merupakan prosesi untuk mempersiapkan banten atau sarana upacara.
Sedangkan hari kedua dilanjutkan dengan puncak acara.
Pada hari puncak acara diawali dengan ritual ngatur piuning yaitu di umah kebahan atau di rumah para hulu.
Disanalah mohon kepada Tuhan yang bersthana di kayangan tiga agar memberi keselamatan pada saat akan mengadakan upacara sampai selesai.
“Kemudian dilanjutkan dengan membuat lawar, memotong babi dan lain sebagainya. Setelah persiapan selesai, keesokan harinya yaitu pada saat kuningan rangkaian acara dimulai saat pagi hari,” kata Kelian Adat Tigawasa, Made Sudarmayasa.
Dilanjutkan dengan ngabuangan (minum tuak) dalam bentuk lingkaran artinya memohon anugerah tirta amertha.
Acara selanjutnya adalah persembahan bagi orang yang membayar sesangi. Kemudian dilanjutkan dengan pemetasan tari baris dan persembahyangan bersama.
Baca Juga: Shin Beberkan Kondisi Timnas Indonesia Jelang Hadapi Tiongkok, Jordi Amat dan Sandy Walsh Cedera
Usai persembahyangan bersama dilanjutkan dengan prosesi nedunang Ida Bhatara agar memberi petunjuk apa yang kurang dari upacara yang dilakukan yang ditandai dengan adanya satu atau lebih orang yang kerauhan.
“Nah menjelang pagi barulah diselesaikan dengan Tari Ijang Kidung Keli” kata pria yang juga Perbekel Desa Tigawasa, Kecamatan Banjar.
Menurutnya, selain sebagai penutup upacara, tarian ini juga melambangkan kegembiraan dan kebahagiaan masyarakat karena telah berhasil merayakan kemenangan dharma dan sebagai penutup dari kemenangan itu ditutuplah dengan tari ini.
“Saba kuningan tidak datang setiap hari, jadi kami masyarakat Tigawasa sangat antusias untuk menyiapkan semua yang diperlukan untuk hari itu,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika