Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Unik! Tradisi Ngabaanin Jero Ngurah Wates di Pedawa, Hanya dilaksanakan saat ada Gejala Aneh

I Putu Mardika • Selasa, 15 Oktober 2024 | 04:29 WIB

Proses Ngalaanin Jro Ngurah Wates di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng
Proses Ngalaanin Jro Ngurah Wates di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng
BALIEXPRESS.ID-Tradisi Ngalabaanin Jero Ngurah Wates di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar menjadi ritual yang dijalankan krama Desa Pedawa. Meskipun pelaksanannya insidental dan bahkan bisa setiap 10 tahun sekali. Namun upacara bhuta yadnya yang menggunakan godel sebagai sarana persembahan ini penting dilaksanakan.

Dane Balian Desa Pedawa, Nyoman Kalam, atau yang akrab disapa Pan Karpani, 65 mengatakan tadisi Ngalabaanin Jero Ngurah Wates Desa ini hanya dilaksanakan bila terjadi gejala-gejala tertentu dan pertimbangan dari Balian Desa. Jika sudah dianggap penting, maka ritual itu harus segera dilaksanakan.

Seperti namanya, upacara ini dilaksanakan di Batas Desa Adat Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Baik dari waktu dan tempat pelaksanaannya ini tentunya berbeda dengan pelaksanaan upacara bhuta yadnya lainnya.

“Batas desa yang dimaksud di sini bukan batas desa berdasarkan wilayah administrasi desa melainkan batas desa secara niskala, tepatnya berada di tegalan (perkebunan) masyarakat. Serta diyakini di sanalah sosok mahluk halus yang bergelar Jero Ngurah Wates Desa berstana,” jelasnya.

Pelaksanaan upacara ini juga belum terdapat palinggihan atau arca sebagai pemusatan pemujaan. Namun hanya terdapat sebuah wilayah yang dipagari dengan tanaman yang tidak begitu luas sebagai titik ritual.

Baca Juga: Profil Wasit Omar Al Ali Pimpin Laga Indonesia vs China: Akankah Keputusan Kontroversial Terulang?

Di dalamnya terdapat sebuah tempat untuk meletakan banten yang oleh masyarakat Desa Pakraman Pedawa disebut dengan panggungan. Panggungan tersebut terbuat dari kayu dengan ketinggian setinggi dada pria dewasa.

“Tradisi Ngalabaanin Jero Ngurah Wates Desa dilaksanakan untuk memberikan labaan atau upah kepada sosok kekuatan atau mahluk halus (roh) yang bergelar Jero Ngurah Wates Desa,” imbuhnya.

Krama meyakini, jika Jero Ngurah Wates Desa merupakan mahluk halus (roh) yang pada masa kerajaan Hindu di Indonesia diperintahkan oleh Patih Gajah Mada untuk menjaga wilayah Desa Pakraman Pedawa.

Tradisi Ngalabaanin Jero Ngurah Wates Desa sebut Nyoman Kalam merupakan warisan nenek moyang. Bahkan tidak dapat dipastikan kapan pertama kali diadakan. Terlebih, pelaksanannya bersifat insidental.

Artinya hanya dilaksanakan jika ada fenomena dan petunjuk gaib sebagai patokan pelaksanaannya.

Dengan demikian tradisi ini belum tentu dilaksanakan setiap tahun. Karena hal inilah tradisi ini sempat dilupakan akibat dari ketidaktahuan generasi muda pada waktu itu.

Baca Juga: Perkuat Indonesia sebagai Supply Hub dan Ekportir Asia Tenggara, Diageo Perluas Fasilitas Pabrik

Selama masa itu dikatakan bahwa di Desa Pakraman Pedawa, kerap kali terjadi peristiwa-peristiwa yang kurang baik yang bersifat sakala maupun nisakala. Sehingga berdampak buruk bagi masyarakat.

Dengan melihat keadaan yang demikian para tokoh masyarakat kemudian menanyakan  kepada para tetua desa terkait dengan fenomena aneh yang terjadi. Hasilnya, fenomena aneh itu konon terjadi akibat tak dilaksanakannya tradisi Ngalabaanin Jero Ngurah Wates Desa.

Atas kondisi tersebut, masyarakat desa bersama Balian Desa maka kemudian berniat untuk kembali melaksanakan ritual itu 2006 silam. 

“Sepuluh tahun berlalu kemudian dengan adanya petunjuk gaib masyarakat kembali melaksanakan tradisi tersebut pada Oktober 2016 silam dan bertepatan dengan jatuhnya hari Tilem Sasih Kapat,” paparnya. 

Dalam pelaksanaaanya Ngalabaanin Jero Ngurah Wates Desa melalui beberapa tahap atau proses. Diantaranya tahapan Nganggur atau suatu kegiatan musyawarah antara tokoh masyarakat. 

Selanjutnya dilakukan dengan pembuatan sarana banten, matur piuning sebagai suatu kegiatan atau pemberitahuan dan permohonan izin kepada pada dewa yang berstana di pura/kahyangan Desa Adat Pedawa dan Ngalabaanin Jero Ngurah Wates Desa.

Balian Desa, Nyoman Kalam mengatakan, tradisi Ngalabaanin Jero Ngurah Wates bisa dimaknai sebagai momentum melakukan pembersihan atau peleburan dosa baik masyarakat yang melaksanakan upacara tersbut maupun hewan dan tumbuhan yang dijadikan sebagai sarana upacara korban.

Baca Juga: NYELENEH! Berenang 5 Jam di Laut dengan Ransel, WNA Skotlandia Terpaksa Disuntik Petugas di Kuta

“Diharapkan hewan atau tumbuhan yang dijadikan sarana dapat menjelma sebagai manusia di kehidupan selanjutnya,” bebernya.

Tradisi Ngalabaanin Jero Ngurah Wates Desa juga bertujuan untuk menjaga keharmonisan. 

Karena diyakini dengan pelaksanaannya dapat mengembalikan keseimbangan hubungan baik antara alam dengan manusia, manusia dengan manusia, maupun manusia dengan Tuhan.

“Ngalabaanin Jero Ngurah Wates Desa dapat menghilangkan marana, gering, yang ada di Pedawa, sehingga masyarakat dapat hidup dengan tentram,” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika