Menurut Made Gami Sandi Untara, S.Fil.H., M.Ag., Dosen Wariga dari STAHN Mpu Kuturan Singaraja, padewasan adalah ilmu untuk menentukan hari baik dan buruk dalam melakukan berbagai aktivitas. Penggunaan padewasan sangat menonjol dan penting bagi umat Hindu di Bali.
"Dalam menjalankan kegiatan sosial keagamaan, masyarakat Bali selalu berpedoman pada kalender Bali yang menguraikan berbagai ala ayuning dewasa," jelasnya kepada Bali Express.
Padewasan dapat ditentukan berdasarkan triwara, seperti saat Pasah baik untuk upacara bagi para dewa, Beteng untuk upacara manusia, dan Kajeng untuk upacara bhuta.
Selain itu, berdasarkan saptawara yang terdiri dari tujuh hari setiap hari memiliki peruntukan khusus dalam pertanian.
Misalnya, Redite baik untuk menanam tumbuhan beruas, Soma untuk tumbuhan berumbi, dan seterusnya.
Ada juga sejumlah kegiatan sosial keagamaan yang sering dilakukan oleh umat Hindu di Bali dan diatur dalam Kalender Bali.
Termasuk hari-hari baik untuk kegiatan seperti gotong royong, kampanye, pelantikan pejabat, pembentukan organisasi, hingga kegiatan gaib seperti membuat benda menakutkan atau menyusun peraturan.
Selain digunakan dalam kegiatan sosial, Kalender Bali juga mencakup padewasan yang relevan untuk berbagai profesi seperti pertanian, pembuatan alat, keahlian, dan pembangunan.
Padewasan juga menjadi pedoman penting dalam menjalankan berbagai profesi atau mata pencaharian.
Menurut Gami Sandi, terdapat sejumlah acuan padewasan yang tercantum dalam Kalender Bali untuk berbagai jenis profesi.
Beberapa di antaranya adalah dewasa ayu untuk bercocok tanam, yang mencakup Amerta Gati, Amerta Kundalini, Amerta Masa, Ayu Badra, Ayu Dana, Dewasa Tanian, Istri Payasan, Jiwa Menganti, Kala Matampak, dan Pamacekan.
"Untuk membuka lahan pertanian, dewasa ayu yang dianjurkan adalah Kala Pepedan, sedangkan untuk menanam pohon kelapa termasuk Kala Alap, Ratu Magelung, Ratu Manyingal, dan Srigati Turun," jelasnya.
Hari-hari yang harus dihindari dalam kegiatan ini antara lain Babi Munggah, Geni Rawana, Kajeng Uwudan, dan Kala Mereng.
Untuk menanam padi, jagung, atau kacang-kacangan, dewasa ayu meliputi Asuajeg Turun, Sampi Gumarang Munggah, dan Srigati Jenek.
Sementara untuk menanam tanaman beruas, acuan yang digunakan adalah Dadig Krana dan Rekatadala Ayudana. Pembuatan alat-alat pertanian dapat dilakukan pada dewasa ayu seperti Kala Sapuhau.
Untuk membuat alat-alat perdagangan, dewasa ayu yang baik adalah Srigati Turun, dan untuk membangun tempat berdagang, yang dianjurkan adalah Sedana Yoga.
Sementara itu, untuk membuat alat penangkap ikan, beberapa dewasa ayu yang cocok adalah Kajeng Kipkipan, Kala Caplokan, dan Kala Mina.
Untuk membangun bangunan suci, dewasa ayu yang dianjurkan termasuk Amerta Dewa dan Dasa Guna, sementara untuk membangun rumah, yang dianjurkan antara lain Amerta Masa, Ayu Badra, Dewasa Mentas, dan Siwa Sampurna.
Dalam hal pembangunan sumur atau kolam, dewasa ayu yang baik adalah Banyu Milir, sedangkan hari yang harus dihindari adalah Banyu Urug dan Kala Beser.
"Untuk tembok penyengker, dewasa ayu yang dianjurkan termasuk Kala Demit dan Kala Pager," sebutnya.
Lebih lanjut, dewasa ayu untuk melatih hewan bekerja adalah Tunut Masih, memulai pemeliharaan ternak adalah Kala Upa, dan menangkap ikan adalah Kala Mina. (dik)
Editor : I Putu Mardika