Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kutukan Raja Dalem Batu Ireng karena Disebut Tonya, Menjadi Cikal Bakal Terbentuknya Desa Tonja: Begini Sejarahnya

Nyoman Suarna • Sabtu, 19 Oktober 2024 | 01:46 WIB
PURA: Salah satu pura di Desa Tonja, sebagai bukti sejarah perjalanan Raja Dalem Batu Ireng yang marah karena disebut tonya.
PURA: Salah satu pura di Desa Tonja, sebagai bukti sejarah perjalanan Raja Dalem Batu Ireng yang marah karena disebut tonya.

BALIEXPRESS.ID - Desa Tonja, yang terletak di Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar, menyimpan sejarah yang kaya dan penuh makna.

Keberadaan desa ini tidak terlepas dari kisah perjalanan Raja Dalem Batu Ireng yang berjuang melawan Kerajaan Majapahit.

Sejarah Desa Tonja tidak hanya mencerminkan identitas masyarakatnya, tetapi juga mencatat peristiwa penting yang membentuk kultur dan tradisi yang masih hidup hingga saat ini.

Sejarah lahirnya desa ini diungkap dalam Babad Dalem Batu Ireng yang terdapat dalam Ilikita Desa Adat Tonja.

Dikutif dari ebooks.denpasartourism.com, pada tahun Saka 1250, Bali dipimpin oleh Raja Dalem Batu Ireng, yang bergelar Raja Sri Astasura Ratna Bhumi Banten.

Dalam pemerintahannya, ia dibantu oleh patih-patih hebat seperti Ki Pasung Grigis, Ki Buahan, Ki Tunjung Tutur, Ki Kalung Singkal, dan Ki Gudung Basur.

Raja Sri Astasura Ratna Bhumi Banten menolak untuk tunduk pada Kerajaan Majapahit, sehingga Patih Gajah Mada dikirim untuk menundukkan Bali.

Akibat penundukan tersebut, Dalem Batu Ireng terpaksa mengungsi ke daerah-daerah seperti Taro, Gegel, Baturyang (Batuyang), Batu Sasih (Batubulan), Bukut Kali, Batu Belig Kalanggendis, Taman Yang Batu, dan Batu Bida.

Selama pelariannya, Dalem Batu Ireng disembunyikan oleh Pasek Bendesa, Pande, dan warga setempat.

Dalam pelariannya, Dalem Batu Ireng menyamar sebagai rakyat biasa dan bertemu dengan I Gusti Ngurah Bongaya di perempatan Desa Pagan, yang sedang mengadakan upacara yadnya.

Ketika Dalem Batu Ireng mampir ke Pura Desa Adat Pagan, ia bersembunyi di jaba tengah pura karena merasa penampilannya buruk dan kotor.

Juru canang terkejut melihatnya, lalu menyebutnya "Tonya," yang dianggap akan mengganggu jalannya upacara.

Dengan bantuan Gusti Ngurah Bongaya serta warga lainnya, Dalem Batu Ireng diusir dari tempat itu.

Hal ini membuat Dalem Batu Ireng marah dan mengutuk I Gusti Ngurah Bongaya agar desa itu menjadi "tas-tas" atau pecah, yang menyebabkan keributan dan memutus hubungan antar warga desa yang berada di sebelah utara pura.

Setelah diusir, dalam perjalanan ke utara, Dalem Batu Ireng terjatuh dan kakinya tersandung (ketonjok) batu di wilayah Ajungut-jungut, yang kini dikenal sebagai Banjar Tega.

Batu tersebut kemudian dipastikan akan menjadi "Bhumi Tonjaya" yang berasal dari kata "ketonjok" (ke + tonjok).

Seiring waktu, desa di tempat tersebut disebut dengan Desa Tonja.

Editor : Nyoman Suarna
#tonya #Desa Tonja #dalem batu ireng #sejarah #kutukan #raja