Wanaralaba dilakukan pada Selasa (15/10) lalu. Persembahan yang diberikan kepada bojog duwe ini berupa makanan seperti buah-buahan, umbi-umbian, telur, mentah, sayur mayur, dan bunga gumitir yang menjadi makanan kesukaan hewan primata ini.
Makanan monyet ini pun merupakan sumbangan dari sejumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Buleleng dan juga pengempon pura. Seluruh sarana Wanara Laba ditempatkan di dalam beberapa kotak khusus.
Sebelum upacara Wanara Laba dimulai, terlebih dahulu dilakukan upacara mapiuning. Begitu persembahan siap, ribuan bojog duwe langsung menyerbu persembahan setelah dipanggil oleh pengempon. Mereka berebut satu sama lain makanan yang dipersembahkan.
Pengempon Pura Pulaki dan Pesanakan, Jro Nyoman Bagiarta menjelaskan, Wanara Laba merupakan agenda rutin dan wajib digelar pengempon Pura Agung Pulaki saat piodalan. Upacara ini sebagai rasa syukur yang ditujukan kepada ancangan (pasukan monyet) yang mengawal Dang Hyang Nirartha orang suci penyebar ajaran Hindu di Bali.
Dikatakan Bagiarta, saat ini ada sekitar 3.000 ekor monyet yang ada di kawasan pura. Primata ini dikeramatkan sejak dulu karena memiliki sejarah yang kental dengan perjalanan spiritual Ida Pedanda Wawu Rauh (Dang Hyang Nirartha) saat ke Bali yang tertuang dalam puran.
Dikisahkan ketika beliau melakukan perjalanan spiritual dari pulau Jawa menuju Bali sekitar Caka 1411. Setibanya di Bali tepatnya di Purancak, Dang Hyang Nirartha yang hendak menuju Gelgel dengan melintasi hutan yang lebat tengah kebingungan mencari arah mata angin.
Maka secara tidak sengaja bertemulah beliau dengan sekelompok kera. Lalu, bertanyalah dengan salah satu kera. Nah, dalam percakapan itu pula rupanya terjadi suatu perjanjian antara kera tersebut dengan Sang Dang Hyang Nirarta.
Perjanjiannya, jika seketurunan Danghyang Nirartha tidak akan menyakiti kera. Disamping itu, sang kera juga berjanji akan setia mendampingi dimanapun Dang Hyang Nirartha melinggih.
Setelah menemukan arah ke timur, maka Dang Hyang Nirata kembali menemukan seekor Naga. Lalu masuklah beliau ke dalam mulut Naga tersebut dan memetik tiga buah Bunga teratai kemudian memakainya.
Sementara, anak dan istrinya menunggu di luar. Setelah beberapa lama, Dang Hyang Nirarta keluar dari mulut naga dengan wajah kehitam-hitaman dan kekuning-kuningan.
Melihat perubahan wajah suaminya, istri dan anaknya lari tunggang langgang. Sang Istri yang bernama Sri Padmi Keniteng kemudian berada di Pulaki sedangkan anaknya yang bernama Dewa Ayu Swabawa berada di Melanting.
Sang istri tidak mau melanjutkan perjalanan ke Gelgel. Begitu pula dengan anaknya. Karena keberadaan Dewa Ayu Swabawa di Melanting telah diketahui masyarakat, maka penduduk desa yang waktu itu berjumlah 8.000 orang diberikan panugrahan menjadi Wong Gamang agar tak terlihat di dunia manusia. Tugasnya yakni menjaga Dewa Ayu Swabawa dan Istrinya Sri Padmi Keniteng.
Mengingat perjanjian yang dibuat antara kera dan Dang Hyang Nirarta, maka sang kera tidak berani mengingkari janji. Maka, berjagalah kera-kera tersebut di Pura Pulaki untuk turut menjaga Istri Dang Hyang Nirarta.
Berkaca dari Purana kisah kesetiaan kera itulah saat Pujawali di Pura Pulaki, pengempon membuatkan upacara Wanara Laba. Bahkan, tidak yang berani mengganggu maupun menyakiti kawanan kera di pura yang kini jumlahnya mencapai 3 ribu ekor lebih.
Ia menyebutkan, sejak 3 tahun terakhir, pengempon pura berupaya untuk mengendalikan perilaku monyet-monyet yang ada. Terutama dari sikap beringas yang dinilai mengganggu pemedek (umat) yang datang untuk melakukan persembahyangan. Salah satunya menjamin ketersediaan pasokan pangan ribuan monyet sakral.
Pengempon pura menganggarkan khusus anggaran untuk pakan monyet Rp 25 juta per bulan. Menu yang disiapkan bergantian setiap harinya. Mulai dari pepaya, jagung, bunga gumitir, ubi, pisang, ketela pohon dan juga telur. Pengempon pura menyiapkan pakan monyet 3 kali sehari.
“Setelah diperhatikan, perilaku duwe (monyet) disini mulai ada perubahan. Wanara (kera, Red) yang agresif menjadi jinak. Bahkan yang kelahiran 2021 sampai sekarang, mereka tidak lagi berebut makanan tidak seperti yang sudah tua-tua. Karena memang sudah berkecukupan,” imbuh bagiarta.
Dia berharap upaya menjinakkan bojog duwe ini dapat berjalan lancar. Sebab dia dengan pengempon berencana untuk mengembangkan atraksi wisata religi. Wisatawan yang datang tidak hanya melihat dan bersembahyang, tetapi juga bisa berfoto dengan monyet-monyet secara aman dan nyaman.
Selain itu pengempon juga akan mengkomunikasikan dengan Pemkab Buleleng, untuk menjaga eksistensi monyet di kawasan Pura Pulaki. Terutama untuk menjamin kesehatan hewan primata ini dari serangan virus-virus membahayakan.
“Awalnya sempat ada kekhawatiran kemarin saat rabies merebak takut ada yang terjangkit. Astungkara sampai sekarang sih tidak ada kasus. Tetapi kami tidak tahu pola dan metode perlindungan kesehatannya bagaimana nanti akan kami minta arahan pemerintah daerah,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika