Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Unik, Pura Pulaki yang Hilang Selama 431 Tahun, Begini Kisahnya

I Putu Mardika • Sabtu, 19 Oktober 2024 | 04:21 WIB

Pura Pulaki di Desa Banyupoh Kecamatan  Gerokgak, Buleleng
Pura Pulaki di Desa Banyupoh Kecamatan Gerokgak, Buleleng
BALIEXPRESS.ID-Siapa sangka, jika Pura Dang Kahyangan Pura Pulaki yang berlokasi di Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali pernah menghilang hingga 431 tahun.

Berdasarkan kisahnya, Pendirian Pura Pulaki tidak lepas dari perjalanan Dang Hyang Nirartha dari Blambangan (Jawa Timur) menuju Dalem Gelgel di Bali pada masa pemerintahan Dalem Cri Waturenggong (1460-1550 M).

Sebagai Pura Kahyangan Jagat, pura ini menjadi tempat suci bagi seluruh umat Hindu Bali. Setelah dilakukan pemugaran besar-besaran sejak tahun 1984, Pura Pulaki kini tampak megah dan luas, memungkinkan umat Hindu untuk melakukan persembahyangan dengan nyaman.

Pura Pulaki merupakan pusat dari beberapa pura lain di sekitarnya, seperti Pura Kerta Kawat, Pura Melanting, Pura Pabean, dan Pura Pemuteran.

Saat piodalan yang jatuh pada Purnamaning Kapat, urutan upacara dimulai dari Pura Pulaki, lalu ke Pura Melanting, Kerta Kawat, Pemuteran, dan berakhir di Pura Pabean.

Pada tahun 1987, di sekitar Pura Melanting, ditemukan alat-alat batu yang mencakup kapak dan batu picisan. Berdasarkan temuan ini dan struktur pura yang bertingkat, diduga bahwa Pura Pulaki awalnya merupakan tempat pemujaan masyarakat prasejarah.

Selain itu, lokasi Pura Pulaki yang berada di Teluk Pulaki dan memiliki banyak sumber mata air tawar menunjukkan bahwa daerah ini sudah dihuni manusia sejak lama.

Pulaki pernah menjadi tempat persinggahan perahu dagang yang memerlukan persediaan air tawar untuk perjalanan ke Jawa atau Maluku.

Bukti lain adalah adanya pohon lontar di sepanjang pantai dari Gilimanuk hingga Pulaki, yang menunjukkan bahwa daerah ini mungkin menghasilkan gula lontar sebagai barang perdagangan.

Dengan demikian, Pulaki telah ada sejak zaman prasejarah dan berperan sebagai tempat suci serta pusat aktivitas lainnya, yang terus berlanjut hingga penyerangan Bali oleh Majapahit pada tahun 1343 Masehi.

Dalam catatan sejarah, Pulaki juga disebut sebagai salah satu tempat yang dilalui pasukan Gajah Mada saat ekspedisi ke Bali, berdasarkan buku karya Ketut Ginarsa. Pada tahun 1380 M, Pulaki menjadi pusat pengembangan agama Hindu aliran Waisnawa.

Kisah Pulaki juga diabadikan dalam buku "Dwijendra Tatwa" karya I Gusti Bagus Sugriwa, yang menceritakan asal usul daerah ini dan hubungannya dengan tokoh-tokoh suci seperti Batara Dalem Melanting dan Batara Dalem Ketut.

Penglingsir Pura Pulaki, Ida Bagus Mangku Kade Temaja, menjelaskan bahwa keberadaan Pura Pulaki sebagai tempat suci sudah ada sejak zaman prasejarah.

Namun kemudian menghilang dari pandangan fisik setelah kehadiran Dang Hyang Nirartha, yang menyebabkan pura ini dipralina (disamarkan) dan dibiarkan kosong selama bertahun-tahun.

Dengan demikian, Pura Pulaki hilang dari pandangan manusia antara tahun 1489 hingga sekitar tahun 1920, atau selama sekitar 431 tahun.

Sebelum menghilang, Pura Pulaki tetap menjadi tempat pemujaan sejak zaman prasejarah hingga kedatangan Dang Hyang Nirartha pada 1489.

Tempat ini dipuja oleh masyarakat prasejarah, Bali Aga, serta pengikut Sekte Waisnawa yang dikembangkan oleh Rsi Markandeya, dan oleh pengikut Tri Sakti yang menggunakan simbol tiga bunga teratai merah, hitam, dan putih yang dipetik oleh Dang Hyang Nirartha dari kolam dalam perut naga di Pulaki.

Simba juga menjelaskan bahwa daerah Pulaki yang tidak berpenghuni selama itu berubah menjadi hutan belantara yang dihuni oleh binatang buas seperti babi hutan, harimau, dan banteng.

Namun, masyarakat Desa Kalisada dan desa-desa di sekitarnya tetap setia bersembahyang kepada Betara di Pulaki dengan berperahu dari pantai Kalisada, meskipun pada waktu itu pura sudah hilang, dan pemujaan dilakukan pada tumpukan batu yang ada di sekitar lokasi Pura Pulaki yang sekarang.

Simba menduga bahwa Pura Pulaki aslinya berada di dalam hutan, bukan di lokasi yang sekarang, yang kemungkinan digunakan sebagai tempat pemujaan dari kejauhan karena warga takut masuk ke dalam hutan yang dihuni binatang buas.

Pada tahun 1920, Pulaki mulai dibuka kembali setelah kawasan tersebut disewakan oleh pemerintah kolonial Belanda kepada seorang warga Tionghoa bernama Ang Tek What.

Kawasan ini kemudian dikembalikan pada sekitar tahun 1950, dan pemugaran Pura Pulaki serta pura-pura terkait dilakukan setelahnya.

Menurut Simba, Pura Pulaki dan pura-pura lainnya seperti Pura Pabean, Kerta Kawat, Melanting, Belatung, Puncak Manik, dan Pemuteran merupakan bagian yang tak terpisahkan.

Berdasarkan lokasi pura-pura tersebut, mereka berhubungan dengan konsep sapta loka atau tujuh lapisan alam semesta dalam agama Hindu.

Pura Pulaki, yang dibangun dengan perpaduan antara pegunungan dan laut, merefleksikan kesatuan unsur segara (laut) dan gunung dalam tata letak dan lingkungannya.

Dalam sejarah Pura Pulaki, Dang Hyang Nirartha datang ke Bali untuk melantik Dalem Watu Renggong yang memerintah Bali antara tahun 1460-1550 Masehi. Saat dalam perjalanan ke Klungkung, Dang Hyang Nirartha meninggalkan anak-anaknya di Desa Gading Wani dengan janji akan segera kembali.

Namun, karena ia tidak kembali dalam waktu yang lama, putrinya, Ida Ayu Swabhawa, menjadi sangat gusar.

Penduduk desa sekitar yang berjumlah 8.000 orang dikutuk menjadi wong samar (makhluk halus), termasuk Ida Ayu Swabhawa sendiri, yang tinggal di bawah pohon-pohon besar yang memiliki sulur-sulur, yang dalam Bahasa Bali disebut "ngelanting".

Di lokasi pohon-pohon itu, Ida Ayu Swabhawa dibuatkan pelinggih yang kini disebut Pura Melanting. Ida Ayu Swabhawa dan wong samar kemudian menjadi penguasa pasar, dan mereka akan menghukum orang yang bertransaksi di pasar dengan cara yang tidak sesuai dengan etika moral dharma.

Selain distanakan di Pura Melanting, Ida Ayu Swabhawa juga distanakan di Pura Tedung Jagat, yang kemudian dikenal sebagai Pura Pulaki, bersama dengan roh suci Dang Hyang Nirartha.

Pura Melanting dan Pura Pulaki mewakili simbol kesatuan predana-purusa sebagai tempat pemujaan untuk memohon kemakmuran ekonomi.

Pura Pulaki dipuja oleh para subak di sekitar Pulaki, sementara Pura Pabean menjadi tempat pemujaan bagi para nelayan dan pedagang antarpulau.

Pura Kertha Kawat juga termasuk dalam kompleks Pura Pulaki dan berfungsi sebagai tempat pemujaan untuk memohon tegaknya etika dan moral dalam berbisnis.

Di Pura Kertha Kawat distanakan Bhatara Kertaningjagat, sementara Pura Gunung Gondol, yang berjarak 3 km dari Pura Pulaki, menjadi tempat pemujaan Dewa Mentang Yudha sebagai pelindung dari bahaya, seperti Dewa Ganesa. (dik)

 

 

 

Editor : I Putu Mardika
#hilang #Banyupoh #Dang Hyang Nirartha #pura #Pulaki