BALIEXPRESS.ID - Lamak merupakan salah satu komponen penting dalam upacara Panca Yadnya umat Hindu Bali.
Bukan hanya sebagai hiasan, lamak memiliki makna mendalam karena melambangkan tiga alam atau Tri Bhuana, yakni bhur (alam bawah), bwah (alam tengah), dan swah (alam atas).
Dalam setiap upacara keagamaan, lamak sering ditempatkan di palinggih (tempat suci) dan Sanggah Surya sebagai bagian dari persembahan sakral.
Menurut I Wayan Sumatra, seorang seniman dan ahli majejaitan, Tri Bhuana menggambarkan tiga lapisan alam yang saling berhubungan.
Alam bhur melambangkan bumi dan segala yang ada di bawah, seperti tanah (pertiwi).
Alam bwah mencakup tumbuhan, hewan, dan manusia (yang diwakili oleh simbol Cili).
Sedangkan alam swah melambangkan elemen-elemen langit seperti matahari, bulan, dan bintang.
Melalui seni jejaitan lamak, ketiga unsur ini diwujudkan dan diharmonisasikan.
"Tri Bhuana harus hadir dalam setiap lamak," ujar Wayan Sumatra.
Ukuran lamak dapat bervariasi, mulai dari yang pendek hingga yang mencapai panjang beberapa meter.
Dalam lamak yang lebih panjang, simbol-simbol Tri Bhuana bisa ditampilkan dengan lebih detail dan bervariasi sesuai kreativitas pembuatnya.
Yang penting, jelas Sumatra, lamak tersebut menggambarkan alam semesta, bukan buatan manusia, dengan tetap mengacu pada konsep Tri Bhuana.
Lamak digunakan dalam berbagai upacara dan memiliki jenis-jenis tertentu, seperti Lamak Galungan yang dipakai saat Hari Raya Galungan, Lamak Panggung yang digunakan untuk upacara di pura, Lamak Surya yang ditempatkan di Sanggah Surya saat upacara Dewa Yadnya, dan Lamak Sanggar Tawang yang digunakan saat karya agung seperti Ngenteg Linggih.
Bahan pembuat lamak juga bervariasi, dari janur (busung), ambu, ron, kain, hingga ental putih dan merah (ibung).
Terkadang, lamak juga dihiasi dengan uang kepeng (Salang) sebagai simbol tambahan.
Proses pembuatan lamak melibatkan jejaitan (reringgitan) yang menggambarkan unsur Tri Bhuana. Reringgitan ini direndam dalam air agar tetap segar, kecuali jika menggunakan bahan ental merah yang tidak memerlukan perendaman.
Setelah jejaitan selesai, lamak dilengkapi dengan alas, dan bagian-bagian tersebut disambung menggunakan semat, benang, atau staples, tergantung bahan yang digunakan.
Ujung lamak biasanya dibuat runcing (trujungan) dan dimasukkan ke palinggih atau sanggah, sehingga lamak tersebut menggantung dengan indah.
Lamak tidak hanya sekadar simbol sakral dalam agama Hindu, tetapi juga mencerminkan kekayaan seni budaya Bali yang diwariskan turun-temurun.
Setiap lamak yang dibuat dengan dedikasi dan ketelitian, menggambarkan keindahan dan makna spiritual yang mendalam bagi masyarakat Hindu di Bali.
Editor : Nyoman Suarna