Tradisi ini ditarikan khusus dalam upacara Ngusaba Desa Sarin Tahun, yang berlangsung setiap dua tahun sekali pada purnama kapat.
Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group) Para penari terlihat berlenggak-lenggok, menampilkan gerakan yang terkesan tak teratur.
Mereka mengenakan busana yang menyerupai penari Bali, tetapi dengan kostum yang sangat klasik, berbeda jauh dari kostum tari Bali modern.
Saat menari, mereka mengelilingi sebuah obor yang diletakkan di areal madya mandala. Ditemani alunan gamelan Bali, para penari menari dengan kebebasan, tanpa adanya pakem ketat terkait gerakan.
Bendesa Adat Padangbulia, Gusti Nyoman Bisana, 77 menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan warisan dari leluhur masyarakat adat Padangbulia dan telah dilaksanakan secara turun temurun.
Tradisi Ngigel Desa ini sangat erat kaitannya dengan mata pencaharian masyarakat setempat, yang sebagian besar adalah petani lahan basah maupun lahan kering.
Ia menambahkan, sebelum pelaksanaan Ngigel Desa, berbagai prosesi harus dilakukan, termasuk Mendak Candi Karang dan Rejang. Ia juga mengungkapkan rasa syukurnya karena Ngusaba kali ini berjalan dengan baik, berkat dukungan dari semua krama desa adat Padangbulia.
"Tarian itu adalah suatu langkah menuju perilaku yang baik. Hal itu identik dengan bunyi gamelan yang kita gunakan. Gamelan yang kita pakai hanya satu, sehingga krama bisa dituntun untuk menuju kepada perilaku yang baik," paparnya.
Ia menjelaskan bahwa tradisi Ngusaba Desa Sarin Tahun berkaitan erat dengan mata pencaharian warga desa, yang sebagian besar adalah petani lahan basah dan kering.
Para petani sangat bergantung pada alam dan tanah sawah mereka untuk mencapai harapan hasil panen yang baik.
“Tradisi ini sangat penting bagi masyarakat Desa Padang Bulia, dari zaman dahulu hingga sekarang,” imbuhnya.
Awalnya, upacara Pujawali Sarin Tahun dilaksanakan setiap lima tahun sekali.
Namun, dengan adanya kendala air dan alat yang sederhana, hasil panen tidak mencukupi untuk pelaksanaan upacara. Seiring perkembangan teknologi dan meningkatnya hasil panen, upacara ini kini diadakan setiap dua tahun sekali.
Pujawali Sarin dilaksanakan selama enam hari dan melibatkan seluruh masyarakat Desa Padang Bulia. Selain Pemangku di Pura Desa, pemangku di Pura Kahyangan Tiga juga berperan aktif dalam kesuksesan pelaksanaan ritual ini.
“Prosesi diawali dengan munggah ambu, di mana krama istri mulai ngayah di Pura dengan membuat jejahitan dan jajan sebagai sarana upakara dewa Yadnya,” jelasnya.
Setelah munggah ambu, krama dan ulun desa wajib menjalankan yasa kerti atau mebrata agar pelaksanaan upacara dapat berjalan lancar.
Yasa kerti ini berupa pelaksanaan perilaku baik, seperti mulat sarira, yang mengutamakan etika dan susila. “Krama harus mengedepankan perilaku baik agar acara Pujawali Sarin Tahun berjalan tertib,” tambahnya.
Baca Juga: Jenis Makanan Untuk Bad Mood, nomor Lima Bisa Tingkatkan Mood Secara Instan lo
Selama upacara, digunakan berbagai sarana seperti babi hitam, buah kelapa, dan ayam. "Laki-laki biasanya mempersiapkan kelabang, mencari bambu penyanggah, dan membuat penjor," tambahnya.
Para perempuan juga terlibat dalam persiapan dengan membuat tamas, soksokan, dan jajan. “Setelah persiapan tuntas, dilanjutkan dengan merakit sanganan dan kebat,” ujarnya.
Prosesi dimulai dari Pura Dalem Purwa dan Pura Wana Ayu, yang disebut pebaktian desa, bertujuan untuk memohon kepada Ida Bhatara Sri dan Rambut Sedana agar diberikan kesuburan dan panen yang melimpah.
Menariknya, terdapat prosesi Mendak Bungan Desa, di mana Bungan Desa tidak terdiri dari gadis-gadis, tetapi diisi oleh Bendesa, Kelian Desa, Wakil Kelian Desa, dan Penyarikan.
Tanggun kancut I Bungan Desa dipegang oleh krama desa dengan makna filosofis yang dalam, di mana Bungan Desa dianggap sebagai ulun desa, sehingga krama harus subakti.
“Mereka dipendak di Pura Pajenengan, diiringi oleh rereongan. Pamucuk karya ini diatur oleh Jro Mangku,” sebutnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika