BALIEXPRESS.ID - Penemuan beji kuno di pinggiran Sungai Penet, Desa Carangsari, Kecamatan Petang, Badung, Bali, sempat menggegerkan masyarakat dan pemerhati sejarah.
Sebelumnya juga ditemukan beji kuno di Banjar Mekar Sari, kini desa yang dikenal sebagai pusat peradaban akulturasi Bali-Tionghoa ini menghadirkan peninggalan baru yang diduga berasal dari zaman purbakala.
Desa Carangsari, yang terletak di kawasan Petang, telah lama dikenal sebagai tempat di mana etnis Bali dan Tionghoa hidup harmonis sejak ribuan tahun silam.
Etnis Tionghoa yang beragama Buddha mampu berdampingan dengan etnis Bali pemeluk Hindu dengna ajaran Siwa.
Keberadaan mereka tak hanya tercatat dalam sejarah lisan, tetapi juga masih tampak jelas dari sisa-sisa peninggalan budaya.
Salah satunya adalah Pura Dalem Puri Carangsari yang di dalamnya terdapat palinggih (tempat suci) pemujaan Siwa-Buddha.
Pura ini juga memiliki keterkaitan dengan Kuburan Tionghoa yang terletak di desa tersebut, menjadi bukti kuat bahwa kedua etnis ini saling menghormati dan berkolaborasi dalam harmoni keagamaan.
Tantangan Menemukan Beji di Hutan yang Terpencil
Penemuan beji kuno ini menyimpan tantangan tersendiri. Lokasinya yang berada di hutan pinggir Sungai Penet, sekitar 30 menit perjalanan kaki dari Kuburan Tionghoa, membuatnya sulit diakses.
Medan yang harus dilalui sangat terjal, dengan jalan setapak yang licin dan dipenuhi semak belukar.
Di sepanjang perjalanan, para pengunjung harus ekstra hati-hati karena keberadaan pacet, sejenis hewan kecil mirip lintah yang menghisap darah.
Tim dari Bali Express bahkan melaporkan bahwa lima ekor pacet berhasil menggigit kaki mereka selama penelusuran di lokasi beji ini.
Kelihan Pura Dalem Puri Carangsari, I Made Nasiun, 56, menjelaskan bahwa penemuan ini tidak disengaja.
Lokasi beji tersebut sebelumnya tertutup rapat oleh semak belukar, sehingga masyarakat setempat tidak menyadari keberadaannya.
"Dulu tempat ini tertutup semak belukar, sehingga tidak ada yang tahu kalau di dalamnya terdapat beji yang sangat unik," ungkap Nasiun pada Rabu (14/6/2017).
Penemuan ini bermula ketika sebuah pohon besar di sekitar Beji Telaga Gantung, yang terletak di atas lokasi beji baru tersebut, tumbang menjelang Hari Raya Nyepi.
Ketika Jro Mangku dan para pemuda desa melakukan gotong royong pembersihan, beji tersebut baru tampak dan mulai menarik perhatian.
Ciri Khas Beji: Peninggalan Kuno Bali-Tionghoa
Beji ini diyakini sebagai peninggalan kuno yang berasal dari masyarakat setempat, yang terdiri dari perpaduan etnis Bali dan Tionghoa.
Bentuk beji ini sangat unik, dihiasi dengan tumpukan batu padas yang mirip dengan bagian atas candi, serta diisi dengan berbagai arca kuno.
Di antara arca-arca yang ditemukan terdapat kepala Buddha, patung singa, naga, dan patung lain yang menggambarkan dewa-dewa.
Penemuan ini menegaskan adanya hubungan erat antara kedua kebudayaan yang hidup berdampingan di masa lampau.
Menurut Nasiun, beji ini kemungkinan telah terkubur selama beberapa generasi.
"Semenjak saya menjadi Kelihan Pura, meneruskan ayah saya, tidak pernah ada cerita tentang beji ini. Bahkan selama 40 tahun ayah saya menjabat, beliau juga tidak pernah menyebutkan adanya beji ini," tambahnya.
Meski sudah ditemukan, Nasiun belum melaporkan penemuan ini kepada Dinas Kebudayaan atau Balai Arkeologi.
Ia berencana menunggu hingga gotong royong lanjutan selesai dilakukan sebelum melaporkannya secara resmi.
"Kami berencana melakukan pembersihan lagi Minggu depan. Setelah itu baru akan kami bicarakan lebih lanjut untuk pelaporan ke pihak terkait," jelasnya.
Ritual Pembersihan dan Pengalaman Spiritual di Beji
Selain penemuan fisiknya, beji ini juga membawa kisah spiritual yang membuat masyarakat setempat semakin penasaran.
Pamangku Pura Dalem Puri Carangsari, I Nyoman Netra, 51, menceritakan bahwa ia baru mengetahui keberadaan beji ini setelah melakukan pembersihan di sekitar lokasi pasca pohon besar tumbang.
"Selama ini tempat itu tertutup semak-semak. Saya dan para pemuda baru menyadari ada beji di sana ketika kami melakukan pembersihan," ungkapnya.
Tak lama setelah penemuan, diadakanlah ritual pacaruan, sebuah upacara pembersihan spiritual, di sekitar lokasi.
Jro Mangku Netra menjelaskan bahwa ritual ini dilakukan untuk menghindari gangguan gaib di lokasi yang dianggap suci.
"Kami mengikuti kepercayaan bahwa tempat yang dianggap suci harus dibersihkan secara spiritual agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan secara niskala (gaib)," jelasnya.
Asal-usul beji ini tetap menjadi misteri yang menarik. Beberapa waktu lalu, seorang pria dari Kediri, Jawa Timur, mendatangi Pura Dalem Puri Carangsari dan mengaku pernah bermimpi tentang beji tersebut.
Yang membuat kisah ini semakin menarik, pria tersebut mengaku bahwa beji yang ia temui dalam mimpi sama persis dengan beji yang baru saja ditemukan.
Ia kemudian berpesan kepada Jro Mangku Netra untuk merawat tempat ini dengan baik dan tidak membiarkan sembarang orang menjamahnya.
Lebih jauh lagi, Jro Mangku Netra juga mengaku mengalami kejadian spiritual saat memimpin upacara di Pura Dalem.
Ia mendengar suara misterius yang memanggil-manggil namanya dari arah beji, meskipun jarak antara pura dan beji cukup jauh.
"Saya akhirnya menunda upacara dan pergi ke beji untuk menghaturkan canang. Sejak saat itu, saya rutin datang ke sana," tuturnya.
Penemuan ini membuka kembali tabir sejarah yang tersembunyi di Desa Carangsari, sekaligus menambah misteri spiritual di baliknya.
Jejak peradaban Bali dan Tionghoa yang terkubur selama berabad-abad kini mulai terkuak.
Berikut adalah 8 fakta menarik tentang penemuan beji kuno di Desa Carangsari:
-
Lokasi Tersembunyi di Hutan
Beji kuno ini ditemukan di pinggir Sungai Penet, sekitar 30 menit berjalan kaki dari Kuburan Tionghoa Desa Carangsari, dan sebelumnya tertutup oleh semak belukar tebal. Lokasi yang terpencil membuat penemuan ini tidak sengaja terungkap saat pembersihan area tersebut. -
Akulturasi Budaya Bali dan Tionghoa
Desa Carangsari dikenal sebagai pusat akulturasi antara budaya Bali dan Tionghoa sejak ribuan tahun lalu. Beji ini diyakini merupakan peninggalan zaman purbakala yang mencerminkan perpaduan budaya antara kedua etnis yang hidup berdampingan di masa lampau. -
Arsitektur Beji yang Unik
Bentuk beji ini menyerupai bagian atas candi yang dibuat dari batu padas, dihiasi dengan patung-patung kuno seperti kepala Buddha, patung singa, dan naga. Keberadaan arca-arca tersebut menguatkan hubungan antara kepercayaan Siwa-Buddha yang hidup berdampingan di desa ini. -
Ditemukan Pasca Tumbangnya Pohon Besar
Penemuan ini berawal ketika sebuah pohon besar di dekat Beji Telaga Gantung tumbang menjelang Hari Raya Nyepi. Saat dilakukan pembersihan, barulah beji ini tampak oleh warga desa. -
Ritual Spiritual Setelah Penemuan
Setelah penemuan, diadakan ritual pacaruan untuk membersihkan secara spiritual area beji. Ritual ini dipercaya penting agar tidak terjadi gangguan gaib di lokasi suci tersebut. -
Kisah Mimpi Aneh Pria dari Jawa Timur
Seorang pria dari Kediri, Jawa Timur, mendatangi Pura Dalem Puri Carangsari dan mengaku pernah bermimpi tentang beji tersebut sebelum penemuan. Dalam mimpinya, beji yang ia lihat persis sama dengan yang ditemukan di Desa Carangsari. -
Pengalaman Supranatural Pemangku Pura
Pemangku Pura Dalem Puri Carangsari, Jro Mangku Netra, mengaku pernah mendengar suara gaib memanggil namanya dari arah beji saat memimpin upacara di pura, meskipun jaraknya cukup jauh. Kejadian ini menambah misteri spiritual di balik penemuan beji kuno tersebut. -
Beji yang Terlupakan Selama Generasi
Kelihan Pura Dalem Puri, I Made Nasiun, menjelaskan bahwa tidak ada cerita atau pengetahuan tentang keberadaan beji ini selama generasi ayahnya menjabat sebagai kelihan. Artinya, beji ini mungkin telah terkubur selama beberapa generasi tanpa diketahui oleh masyarakat setempat.
Penemuan beji kuno di Desa Carangsari ini tidak hanya menambah kekayaan sejarah dan budaya, tetapi juga menghadirkan unsur misteri dan spiritual yang semakin menarik perhatian masyarakat dan sejarawan. ***
Editor : I Putu Suyatra