BALIEXPRESS.ID – Sepanjang tahun 2024, ada 52 orang yang menjalani Sudhi Wadani di Kabupaten Klungkung. Ketua PHDI Klungkung I Putu Suarta, mereka yang menjalani prosesi Sudhi Wadani terdiri dari WNI dan WNA dengan berbagai alasan.
“Ada yang karena mau menikah dengan orang Hindu, ada juga yang dengan keinginannya sendiri untuk memeluk agama Hindu,” imbuhnya.
Setiap umat non-Hindu yang berkeinginan untuk memeluk agama Hindu diwajibkan mengikuti upacara Sudhi Wadhani.
Ritual ini merupakan bentuk pengukuhan resmi atas pernyataan seseorang yang dengan tulus memutuskan untuk menganut ajaran Hindu.
I Made Hartaka, M.Fil.H., tokoh agama Hindu asal Buleleng memaparkan, upacara ini dilakukan melalui beberapa tahap.
Pertama, pemohon harus mengajukan blangko permohonan kepada PHDI setempat serta melengkapi dokumen administratif yang diperlukan.
Selanjutnya, Parisada akan menunjuk seorang rohaniawan untuk memimpin upacara, serta mempersiapkan sarana (upakara) dan lokasi yang akan digunakan, umumnya di pura atau tempat suci yang dipilih.
Calon peserta upacara juga diwajibkan mempersiapkan diri secara lahir dan batin, termasuk mandi dan mengenakan pakaian bersih.
Rangkaian upacara dimulai dengan Byakala, yang bertujuan membersihkan pengaruh negatif pada tubuh peserta.
Setelah itu, dilanjutkan dengan upacara Prayascita, yang berfungsi untuk menyucikan diri dari 'kotoran' agar Atma dalam diri dapat bersinar terang.
Berikutnya, peserta mempersembahkan upakara sebagai ungkapan terima kasih kepada Hyang Widhi.
Pemimpin upacara kemudian membacakan pernyataan yang ditulis oleh peserta, yang berisi komitmen untuk tunduk pada ajaran Hindu dan menjalankan kewajiban sebagai umat Hindu.
Setelah itu, Surat Keterangan Sudhi Wadhani ditandatangani oleh peserta dan saksi-saksi.
Upacara dilanjutkan dengan persembahyangan bersama untuk memohon restu dari Hyang Widhi, dan diakhiri dengan dharma wacana dari Parisada.
Dharma wacana ini bertujuan memberikan bimbingan kepada umat yang baru memeluk agama Hindu.
Hartaka menegaskan bahwa esensi upacara Sudhi Wadhani tidak terletak pada jumlah upakara yang digunakan, melainkan pada ketulusan hati dan niat peserta.
Upacara dapat dilakukan dalam tiga tingkatan—uttama (besar), madyama (sederhana), dan kanistha (kecil)—sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Penggunaan sarana suci seperti dupa, air suci (tirtha), dan mantra tetap menjadi bagian penting dalam pelaksanaan ritual ini, terlepas dari tingkatan yang dipilih.
“Kesucian pikiran dan niat tulus adalah inti dari pelaksanaan upacara Sudhi Wadhani, bukan banyaknya sarana yang digunakan,” tutup Hartaka.
Editor : Nyoman Suarna