Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Begini Mitologi Sanghyang Jaran di Desa Bungkulan, Roh Jaran Diikat di Pohon Belimbing Buluh Pura Dalem Puri

I Putu Mardika • Rabu, 23 Oktober 2024 | 04:38 WIB

 

Tari Sang Hyang Jaran di Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan, Buleleng
Tari Sang Hyang Jaran di Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan, Buleleng
BALIEXPRESS.ID-Tarian Sanghyang Jaran menjadi kesenian sakral yang hingga kini masih dilestarikan Dusun Badung, Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan, Buleleng. Ada kisah mitologi yang hingga kini diyakini tentang keberadaan roh jaran di Pura Dalem Puri.

Pementasan Tari Sanghyang Jaran memiliki makna tersendiri. Ritual ini hanya dilakukan pada hari tertentu atau dalam kondisi krisis (grubug). Pementasan dilakukan selama dua hari yakni sebelum purnama (bulan penuh) dan hari purnama.

Dalam setahun Sanghyang Jaran dipentaskan atau dalam bahasa lokalnya disebut nuntun dua kali yakni sasih kapat (bulan Oktober) dan sasih kenem (bulan Desember).

Kelian Banjar Badung, Nyoman Witarsa menjelaskan masyarakat memiliki keyakinan jika Tari Sanghyang Jaran erat kaitannya dengan Pura Dalem Puri yang ada di Bungkulan. Di pura inilah tempat bersemayam roh jaran atau kuda yang sangat disakralkan.

Masyarakat sekitar meyakini bahwa roh kuda tersebut diikat di salah satu pohon belimbing buluh yang berada di jaba sisi (area terluar dalam tata ruang pura) Pura Dalem Puri. “Roh jaran ini dianggap sebagai duwe atau milik para dewa yang bersemayam di Pura Dalem Puri,” jelasnya.

Hal inilah yang menyebabkan, setiap hendak dipentaskan, wajib didahului dengan prosesi Matur piuning di Pura Dalem Puri dengan menggunakan sarana banten piuning pejati dengan tambahan segehan berbentuk kuda.

Baca Juga: Uniknya Tradisi Ngusaba Desa di Selumbung, Diawali Ngalang atau Membayar Upeti, Ada Prosesi Nyuwung  

“Intinya meminta izin kepada para dewa yang berstana di Pura Dalem Puri untuk meminta roh Sanghyang Jaran yang akan dipentaskan. Segehan dalam bentuk kuda merupakan salah satu syarat mutlak yang harus dihaturkan sebagai bentuk sesaji kepada roh kuda. Biasanya upacara matur piuning dilakukan pada sore atau siang hari,” jelasnya.

Pada saat pementasan yakni sehari sebelum dan bertepatan dengan purnama kapat atau kenem, diawali dengan persembahyangan bersama yang diikuti oleh seluruh warga Banjar Dinas Badung.

Sebelum persembahyangan dimulai, penari akan melakukan ritual di rumah dengan bersembahyang secara mandiri di pura keluarga dan tempat suci di rumahnya yang diyakini sebagai tempat persinggahan roh Sanghyang Jaran.

Tarian ini hanya dipentaskan oleh seorang penari yang dipilih berdasarkan garis keturunan. Selesai bersembahyang, penari kemudian mengenakan pakaian khas Sanghyang Jaran yang dibantu oleh beberapa orang.

Pakaian penari cukup sederhana yakni badong, ampok-ampok, gelang kana dan gongseng. Badong terbuat dari kain yang berbentuk lingkaran dengan aksesoris yang ditambahkan di berbagai sudut.

Baca Juga: Disebut Melawan Alam, Ribuan Mangrove Tulisan G20 di Tol Bali Mandara Mati, Ahli ‘Media Tanam Tidak Sesuai’

Bagian tangan dan kaki dipasang sepasang Gongseng atau lonceng yang berukuran kecil dengan jumlah lebih dari 5 buah. Lonceng ini memiliki ciri khas bunyi yang nyaring. Bunyi dari gongseng inilah yang menjadi ciri khas pementasan Tari Sanghyang Jaran.

“Ada semacam kebiasaan pada saat penari mengenakan pakaian di rumahnya, kelompok anakanak akan berkumpul di rumah penari untuk menyaksikan proses mengenakan pakaian,” paparnya.

Sebelum nuntun dimulai, pemangku mengambil sebuah gelas kecil yang berisi kapur yang telah dicampur air atau warga lokal menyebutnya dengan pamor. Dengan telaten pemangku tersebut mengolesi tubuh penari dengan air kapur tersebut.

Bagian tubuh yang olesi adalah bagian dada, lengan kiri dan kanan serta bagian punggung. Polesan kapur tersebut berbentuk tanda tambah atau disebut dengan tapak dara. Tak lupa bagian kening dan pelipis diberikan pamor dengan menggunakan telunjuk tangan.

Olesan tanda tambah atau tapak dara memiliki makna tersendiri. Nyoman Witarsa menuturkan, polesan tanda tambah tersebut memiliki makna sebagai keseimbangan dan juga sebagai proteksi agar tubuh sang penari tidak mengalami hal yang tidak diinginkan.

Seusai pemangku melakukan tugasnya menorehkan tapak dara di tubuh penari, petugas lain bergegas menyalakan api atau pasepan di tempat yang telah disediakan. Tepat di depan penari terdapat sebuah dulang yang digunakan untuk tempat meletakkan pasepan.

Baca Juga: Masalah Mental Health Semakin Serius, RSUD Singasana di Desa Nyitdah Bissa Tangani 100 Kasus Per Bulan

Pasepan ini berbentuk bundar bertingkat dengan diameter sekitar 30 cm yang terbuat dari tanah liat. Api kemudian disulutkan ke arah dupa yang telah dipatahkan di atas pasepan. Dengan telaten petugas tersebut mengipas-ngipas dengan menggunakan saab ke arah pasepan agar api segera menjadi bara dan tidak sampai mati. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Bungkulan #tarian #sakral #sawan