BALIEXPRESS.ID - Penyakit seringkali dikaitkan dengan virus, suhu tubuh, atau makanan, namun tak banyak yang tahu bahwa beberapa penyakit bisa saja berasal dari kekuatan manusia.
Salah satu yang paling dikenal adalah Jaran Goyang, ilmu pelet dan santet yang telah melegenda di masyarakat.
Tak hanya dapat dipelajari dengan tekun dan bimbingan guru, ilmu ini juga bisa diatasi melalui pengobatan tradisional yang diuraikan dalam naskah kuno.
Lontar Ratu Ning Usadha
Lontar yang dijuluki sebagai raja dari segala ilmu pengobatan—membahas beragam jenis penyakit, ini termasuk penyakit fisik seperti panas, sakit perut, hingga yang lebih mistis seperti Jaran Goyang.
Selain itu, lontar ini juga menjelaskan cara-cara mendiagnosis penyakit dan metode pengobatannya.
Menurut Putu Eka Guna Yasa, S.S., M.Hum, seorang ahli penerjemah Lontar dan staf Unit Pelaksana Teknis Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Jaran Goyang bukanlah istilah asing.
Ia telah dikenal sejak lama sebagai bagian dari sastra lisan dalam bentuk mantra pengasihan yang berkembang di kalangan masyarakat Suku Osing Jawa.
"Istilah Jaran Goyang bahkan populer hingga ada lagunya. Namun, dalam lontar, Jaran Goyang adalah penyakit yang dikenal sebagai Pemali Jaran Goyang," jelasnya.
Gejala Pemali Jaran Goyang
Cukup sederhana namun menakutkan. Orang yang terkena biasanya terlihat kebingungan, bingung, bahkan seperti orang gila.
Mungkin banyak yang tidak menyadari bahwa istilah-istilah dalam Lontar Ratu Ning Usadha ini berasal dari bahasa Jawa Kuno, Bali Kuno, dan Sanskerta, sehingga penerjemahannya membutuhkan ketelitian yang tinggi.
Ilmu Jaran Goyang
Ilmu jaran goyang sendiri dapat dipelajari melalui berbagai cara, tergantung dari daerah masing-masing.
"Ada yang mempelajarinya dengan sumpah kepada guru, ada pula yang harus bertapa," ungkap Eka.
Menariknya, ilmu ini tidak hanya digunakan untuk menarik satu orang, tetapi juga bisa digunakan untuk mencapai popularitas, meskipun pada zaman dahulu ilmu ini lebih berfokus pada keperluan pribadi.
“Siapa yang menguasai Jaran Goyang bisa dengan mudah menundukkan lawan jenis. Setiap kata yang diucapkan oleh mereka yang menguasai ilmu ini akan dituruti,” tambah Eka.
Asal-usul Jaran Goyang, menurut Eka, berasal dari Suku Osing di Jawa yang mempercayai empat jenis ilmu: merah, kuning, hitam, dan putih.
Ilmu merah berkaitan dengan cinta, ilmu kuning dengan jabatan, ilmu hitam untuk menyakiti, dan ilmu putih untuk menyembuhkan.
"Jaran Goyang adalah ilmu merah karena berhubungan dengan cinta dan lebih dikenal dengan istilah mesisan gantet yang berarti menyatukan, dan di beberapa masyarakat juga dianggap sebagai santet," terang Eka.
Penyembuhan Pemali Jaran Goyang
Penyembuhan Jaran Goyang dijelaskan dalam Lontar Ratu Ning Usada.
Ternyata, pengobatannya sangat sederhana dan hanya memerlukan ramuan tradisional berupa akar terong bolo, akar terong kanji, dan bawang.
Semua bahan tersebut digigit, lalu disemburkan ke orang yang terkena pengaruh Jaran Goyang.
Eka menambahkan bahwa banyak orang sering salah kaprah. Ketika melihat anggota keluarga atau teman terlihat seperti orang gila, mereka cenderung membawanya ke dokter atau rumah sakit jiwa.
Padahal, pengobatannya bisa sesederhana menggunakan ramuan tradisional seperti yang diajarkan dalam Lontar Ratu Ning Usada.
"Jika orang tahu pengobatannya semudah itu, mungkin mereka tidak perlu repot pergi ke dokter," tutupnya.
Misteri ilmu Jaran Goyang ini semakin memperlihatkan betapa kaya dan mendalamnya tradisi pengobatan dalam naskah-naskah kuno seperti Lontar Ratu Ning Usada.
Di balik kisah mistis dan legenda ini, tersimpan pengetahuan berharga yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Berikut adalah 10 fakta menarik terkait Jaran Goyang dan pengetahuan dari Lontar Ratu Ning Usadha yang bisa mengundang rasa penasaran:
-
Jaran Goyang Bukan Sekadar Lagu Populer
Istilah "Jaran Goyang" yang sering dikaitkan dengan sebuah lagu, sebenarnya memiliki makna lebih dalam. Sejak zaman dahulu, Jaran Goyang dikenal sebagai ilmu pelet yang digunakan untuk memikat hati seseorang. -
Bagian dari Sastra Lisan
Jaran Goyang merupakan bagian dari sastra lisan dalam bentuk mantra pengasihan. Mantra ini berkembang di kalangan masyarakat Suku Osing di Jawa, yang dikenal dengan praktik spiritual mereka. -
Pengobatan Jaran Goyang Dibahas dalam Lontar Kuno
Lontar Ratu Ning Usada, sebuah naskah kuno yang berisi ilmu pengobatan, membahas tentang Penyakit Pemali Jaran Goyang serta metode penyembuhannya. Ini membuktikan bahwa penyakit ini telah diakui secara tradisional dan bukan sekadar mitos. -
Gejala Pemali Jaran Goyang Sederhana Tapi Menakutkan
Orang yang terkena Jaran Goyang biasanya mengalami kebingungan, kebimbangan, dan perilaku seperti orang gila. Gejala-gejala ini seringkali disalahartikan sebagai gangguan mental, padahal penyebabnya bisa bersifat mistis. -
Ilmu Pelet untuk Popularitas
Tak hanya digunakan untuk memikat hati seseorang, ilmu Jaran Goyang bisa digunakan untuk mencapai popularitas. Pada zaman dahulu, ilmu ini lebih dipakai untuk kebutuhan pribadi, namun kini sering dianggap sebagai cara untuk mendapatkan pengaruh lebih luas. -
Ilmu Warisan Suku Osing
Jaran Goyang berasal dari Suku Osing di Jawa, yang percaya pada empat jenis ilmu: ilmu merah (cinta), ilmu kuning (jabatan), ilmu hitam (menyakiti), dan ilmu putih (menyembuhkan). Jaran Goyang termasuk dalam ilmu merah karena terkait dengan cinta dan pengasihan. -
Pengobatan Tradisional dengan Bahan Sederhana
Pengobatan Jaran Goyang ternyata tidak memerlukan upaya yang rumit. Lontar Ratu Ning Usada menjelaskan bahwa penyakit ini dapat diobati dengan ramuan tradisional yang terdiri dari akar terong bolo, akar terong kanji, dan bawang. Ramuan ini harus digigit lalu disemburkan ke orang yang terkena pelet. -
Jaran Goyang Berhubungan dengan Santet
Meskipun dikenal sebagai ilmu pelet, Jaran Goyang juga sering dianggap sebagai bagian dari ilmu santet, khususnya bagi masyarakat Suku Osing. Istilah "mesisan gantet" digunakan untuk menggambarkan efek kuat dari ilmu ini dalam menyatukan seseorang dengan targetnya. -
Penerjemahan Lontar yang Tidak Mudah
Lontar Ratu Ning Usada ditulis dalam bahasa Jawa Kuno, Bali Kuno, dan Sanskerta. Ini membuat penerjemahan lontar menjadi proses yang rumit dan membutuhkan keahlian khusus untuk memahami makna setiap istilah yang ada. -
Kesalahpahaman dalam Pengobatan Modern
Banyak orang yang salah kaprah dan membawa pasien yang terkena Jaran Goyang ke dokter atau rumah sakit jiwa, padahal pengobatannya bisa sangat sederhana menggunakan ramuan tradisional. ***