Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

8 Fakta Penting tentang Fenomena Tajen di Bali: Budaya atau Penyimpangan yang Tak Bisa Dihapuskan?

I Putu Suyatra • Kamis, 24 Oktober 2024 | 00:50 WIB
Tajen
Tajen

BALIEXPRESS.ID - Tajen atau sabungan ayam bukan sekadar permainan rakyat di Bali, melainkan bagian tak terpisahkan dari kebudayaan lokal yang telah ada sejak abad ke-10 Masehi.

Meski berumur sangat tua, tajen masih bertahan hingga kini, meski sering dianggap kontroversial.

Beberapa pihak memandang tajen sebagai perilaku menyimpang yang melanggar nilai-nilai agama dan hukum positif, sehingga sering dibubarkan paksa oleh pihak kepolisian.

Tak jarang, para penjudi tajen atau bebotoh ditangkap dan bahkan dijatuhi hukuman kurungan.

Namun, di balik semua itu, muncul pertanyaan besar: Mengapa tajen begitu sulit dihapuskan dari kebudayaan Bali?

Pulau Bali yang bentuknya menyerupai ayam jago seolah memperkuat simbolisme tajen sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.

Bagi sebagian orang, tajen adalah cerminan kecintaan terhadap ayam aduan yang telah menjadi warisan turun-temurun.

Tak hanya sekadar permainan, tajen juga menyimpan aspek sosial, ekonomi, bahkan spiritual yang membuatnya begitu lekat dalam kehidupan masyarakat Bali.

Menurut Prof. Nengah Bawa Atmadja, seorang budayawan dan akademisi, tajen tak bisa dilihat hanya dari sisi agama dan hukum.

Dalam penelitiannya, Prof. Bawa menyebut bahwa tajen adalah arena yang mencerminkan hakikat manusia dari berbagai sudut pandang.

"Tajen adalah permainan yang memanifestasikan sifat dasar manusia," ujarnya.

Tajen melibatkan banyak unsur kehidupan. Misalnya, dari sisi ekonomi, tajen menciptakan lapangan pekerjaan bagi banyak orang, seperti pakembar, tukang gisi, dan penjual makanan di arena tajen.

Selain itu, tajen juga menjadi wadah bagi para bebotoh untuk menyalurkan harapan mereka.

"Bebotoh datang ke tajen dengan harapan menang atau minimal seri. Jika kalah, mereka akan kembali bermain untuk meraih kemenangan," katanya.

Menariknya, tajen juga menampilkan unsur hiburan yang membuatnya semakin sulit ditinggalkan.

Ayam-ayam yang bertarung seringkali menunjukkan gerakan yang menghibur, yang memicu kegembiraan di kalangan penonton.

"Kesenangan terbesar datang ketika bebotoh menang taruhan," tambahnya.

Namun, tajen bukan hanya soal rasionalitas. Ada juga dimensi irasional yang sangat kental di dalamnya, seperti keyakinan magis yang dipelihara oleh para bebotoh.

Mereka seringkali mengandalkan ramalan dari lontar pengayam-ayam yang dipercaya dapat menentukan ayam yang akan menang.

Bahkan, ada aturan tertentu tentang pakaian dan posisi yang harus diambil oleh bebotoh untuk meningkatkan peluang menang.

Fenomena Kompleks Tajen dan Warisan Budaya Bali

Prof. Bawa menegaskan bahwa tajen menggabungkan teknologi magis dan non-magis yang mencerminkan sifat manusia sebagai makhluk yang kompleks, atau homo complexus.

Aspek ini yang membuat tajen begitu sulit dihilangkan dari kehidupan masyarakat Bali, karena mencakup banyak sisi dari hakikat manusia itu sendiri, termasuk dimensi ekonomi, sosial, hingga spiritual.

Tak heran jika tajen telah menjadi bagian integral dari kehidupan banyak orang di Bali, bahkan hingga ke ranah keluarga.

Tradisi ini sering diwariskan dari ayah ke anak, dengan istri dan anak turut serta dalam merawat ayam aduan. Lebih jauh lagi, desa pakraman juga berperan melestarikan tajen, misalnya dengan menyelenggarakan tajen atau tabuh rah dalam rangkaian upacara adat di pura.

Dalam konteks ini, Prof. Bawa mengingatkan bahwa pendekatan dalam menangani tajen harus menyeluruh dan mempertimbangkan berbagai dimensi yang ada.

"Kita tidak bisa melihat tajen hanya dari satu sisi, seperti agama atau hukum. Kompleksitas tajen harus dipahami agar masyarakat bisa lebih bijak dalam menyikapinya," pungkasnya.

Berikut adalah fakta-fakta penting dari artikel tersebut:

  1. Sejarah Tajen di Bali:

    • Tajen (sabung ayam) telah ada sejak abad X Masehi dan menjadi bagian dari kebudayaan Bali.
    • Walaupun sering dianggap sebagai perilaku menyimpang oleh juru moral, tajen tetap eksis di Bali hingga kini, baik dilakukan secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.
  2. Kontroversi Tajen:

    • Tajen sering dibubarkan oleh pihak kepolisian, dan bebotoh (penjudi tajen) ditangkap atau dikenakan sanksi hukum.
    • Meskipun dilarang, tajen tetap sulit dihilangkan karena telah mengakar kuat dalam budaya masyarakat Bali.
  3. Persepsi Tajen dalam Kehidupan Bali:

    • Pulau Bali sering diibaratkan sebagai bentuk ayam jago, yang dianggap relevan dengan kecintaan masyarakat Bali terhadap tajen.
    • Tajen dianggap sebagai salah satu bentuk permainan dan hiburan yang memberikan kesenangan, terutama saat bebotoh memenangkan taruhan.
  4. Tajen dan Filsafat Manusia:

    • Menurut Prof. Nengah Bawa Atmadja, tajen mencerminkan berbagai sisi hakikat manusia, seperti Homo Sapiens (rasional), Homo Ludens (makhluk bermain), Homo Economicus (makhluk ekonomi), hingga Homo Conflictus (makhluk konflik).
    • Tajen bukan hanya soal perjudian, tapi juga menyangkut aspek kebudayaan, ekonomi, harapan, dan konflik manusia.
  5. Religiusitas dalam Tajen:

    • Bebotoh sering memanfaatkan keyakinan religius-magis dalam tajen, seperti mengikuti ramalan dari lontar pengayam-ayam untuk menentukan peluang kemenangan.
    • Di Karangasem, terdapat Pelinggih Ratu Bebotoh, tempat pemujaan para bebotoh sebelum bertarung di arena tajen.
  6. Tajen sebagai Sarana Penyaluran Konflik:

    • Tajen dilihat sebagai cara untuk menyalurkan hasrat konflik manusia, di mana ayam yang bertarung mewakili bebotoh untuk melampiaskan dorongan konfliknya.
  7. Peran Keluarga dan Desa dalam Melestarikan Tajen:

    • Tradisi tajen sering diwariskan secara turun-temurun oleh keluarga, bahkan istri dan anak-anak bebotoh ikut berperan dalam merawat ayam aduan.
    • Desa pakraman juga berkontribusi dalam melestarikan tajen, terutama saat piodalan di pura sering kali diakhiri dengan tabuh rah (tajen).
  8. Pendekatan Kompleks untuk Menangani Tajen:

    • Prof. Bawa menekankan bahwa tajen harus dipahami dari berbagai aspek, tidak hanya agama dan hukum, mengingat kompleksitas yang membelitnya dalam masyarakat Bali.
Editor : I Putu Suyatra
#bali #tajen #budaya