BALIEXPRESS.ID - Di tengah pesona tempat suci Hindu Bali, Pura Nampesela di Desa Pakraman Padangan, Kecamatan Pupuan, Tabanan, menyimpan keunikan tersendiri.
Berbeda dengan pura lainnya, Pura Nampesela memiliki aturan tak tertulis yang melarang wanita untuk memasuki area suci.
Apa sebenarnya yang terjadi di balik aturan ini?
Pura ini terletak di poros jalan Desa Padangan menuju Desa Kebon Padangan, Pura Nampesela berada di ujung utara Banjar Kebon Padangan.
Meski berada di wilayah Desa Kebon Padangan, otoritas pura ini berada di tangan Desa Pakraman Padangan, sebuah tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Tidak seperti pura lainnya di Bali, di mana umat Hindu dari berbagai gender bisa bersembahyang, Pura Nampesela justru memiliki aturan unik: wanita dilarang masuk.
Bahkan, wanita di Desa Pakraman Padangan sendiri tak pernah berniat melanggar aturan ini.
“Sejak dahulu, hanya lelaki yang boleh memasuki pura ini,” ujar Jero Mangku Pasek Padangan.
Munculnya aturan ini tak lepas dari sejarah mistis yang mengiringi berdirinya Pura Nampesela.
Menurut cerita yang diwariskan turun-temurun, Ida Bathara yang berstana di Pucak Luhur Batukaru memiliki seorang putri yang cacat fisik.
Sang putri, yang menerima kondisi dirinya dengan lapang dada, harus menanggung cemoohan dari wanita-wanita lain di sekitarnya.
Merasa terluka dan kecewa, ia diungsikan ke tempat paling bawah, dan sejak itu ia berjanji tidak akan pernah ditemui wanita.
“Bhismanya adalah melindungi Desa Padangan, namun ia tak mau disembah oleh wanita,” jelas Jero Mangku.
Nama Pura Nampesela sendiri berasal dari kata “Nampi” yang berarti menerima, dan “Sela” yang berarti cacat.
Sang putri menerima keadaan fisiknya apa adanya, dan inilah yang menjadi dasar aturan tak tertulis tersebut.
Hanya pria yang diperkenankan untuk menghaturkan bakti di Pura Nampesela.
Setiap lima tahun sekali, bertepatan dengan Purnama Kadasa, digelar upacara besar bernama Karya Ida Bathara Turun Kabeh.
Pada momen ini, Pura Nampesela dibuka untuk masyarakat yang ingin bersembahyang. Meski begitu, aturan tetap berlaku: wanita tidak diperbolehkan masuk.
“Krama laki-laki yang menghaturkan banten mewakili keluarganya,” tambahnya.
Proses persiapan piodalan ini biasanya dimulai dua minggu sebelum upacara, dengan melibatkan prajuru desa dan Jero Mangku untuk menentukan jadwal acara.
Perbekel Desa Padangan, I Wayan Wardita, menegaskan bahwa sejak dahulu kala tak ada satu pun krama yang berani melanggar keyakinan ini.
Apa yang akan terjadi jika aturan ini dilanggar?
“Tak ada yang tahu pasti, karena hingga kini tidak ada satu pun wanita yang berani memasuki pura. Jika itu terjadi, mungkin urusannya ada di ranah niskala,” ucapnya penuh misteri.
Pura Nampesela tetap menjadi situs sakral yang menyimpan misteri dan keunikan, menarik perhatian bagi mereka yang penasaran dengan tradisi dan sejarah di balik aturan tak tertulis yang berlaku di pura ini.
Berikut adalah 7 fakta menarik tentang Pura Nampesela di Desa Pakraman Padangan, Tabanan:
-
Aturan Tak Tertulis untuk Wanita
Salah satu keunikan paling mencolok dari Pura Nampesela adalah adanya aturan tak tertulis yang melarang wanita memasuki area pura. Aturan ini sudah menjadi tradisi turun-temurun yang dihormati oleh masyarakat setempat. -
Sejarah Mistis di Balik Aturan
Larangan ini terkait dengan legenda putri cacat dari Ida Bathara di Pucak Luhur Batukaru. Putri ini, karena cemoohan dari wanita lain, memilih mengasingkan diri dan hingga akhir hayatnya tidak ingin ditemui oleh wanita. -
Nama yang Punya Makna Mendalam
Nama "Nampesela" berasal dari kata "Nampi" yang berarti menerima, dan "Sela" atau "Cela" yang artinya cacat. Ini merujuk pada sang putri yang menerima keadaan fisiknya dengan lapang dada. -
Upacara Sakral Setiap Lima Tahun
Piodalan di Pura Nampesela hanya dilakukan setiap lima tahun sekali, bertepatan dengan Purnama Kadasa, dalam rangkaian Karya Ida Bathara Turun Kabeh. Pada saat inilah pura dibuka untuk persembahyangan, namun tetap hanya pria yang diperbolehkan masuk. -
Hanya Pria yang Bisa Bersembahyang
Uniknya, meskipun wanita tidak diperkenankan masuk, para lelaki dari Desa Pakraman Padangan tetap menghaturkan banten untuk mewakili keluarganya, menjadikan pura ini sangat eksklusif untuk krama laki-laki. -
Tak Ada yang Berani Melanggar
Sejak dahulu kala, tak ada wanita yang berani melanggar aturan ini, dan masyarakat setempat percaya bahwa pelanggaran akan berurusan dengan kekuatan niskala atau gaib. Apa yang akan terjadi jika dilanggar, masih menjadi misteri. -
Hubungan dengan Pura Luhur Pucak Kedaton
Pura Nampesela memiliki keterkaitan dengan Pura Luhur Pucak Kedaton, dan lokasinya berada di posisi paling bawah dari jajaran pura yang ada hubungannya dengan Pura Kedaton tersebut, menambah nuansa sakral yang khas.
Fakta-fakta ini membuat Pura Nampesela menjadi tempat suci yang penuh misteri dan daya tarik bagi masyarakat Bali maupun wisatawan yang ingin memahami tradisi dan kepercayaan unik di balik situs sakral ini. ***
Editor : I Putu Suyatra